<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
    <channel>
        <title>Opini &amp; Latest Posts</title>
        <link>https://opini.mediamu.com/rss/latest-posts</link>
        <description>Opini &amp; Latest Posts</description>
        <dc:language>id</dc:language>
        <dc:rights>Jl. Gedongkuning No.130 B, Rejowinangun, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55171</dc:rights>
                                                    <item>
                    <title>Konsultasi Dokter Daring dan Keselamatan Pasien</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/konsultasi-dokter-daring-dan-keselamatan-pasien</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/konsultasi-dokter-daring-dan-keselamatan-pasien</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: dr. Eny Puji Utami, M.H.*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: dr. Eny Puji Utami, M.H.* </strong></em></p><blockquote><p>Kemudahan teknologi perlu diimbangi batas layanan yang jelas dan tanggung jawab bersama </p></blockquote><p>Sekarang ini, berkonsultasi dengan dokter tidak selalu berarti harus datang ke klinik atau rumah sakit. Cukup membuka telepon pintar, pasien sudah bisa menceritakan keluhan, mengirim foto, menerima penjelasan, bahkan memperoleh resep. Bagi orang yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, sulit meninggalkan pekerjaan, atau memiliki keterbatasan mobilitas, layanan ini tentu sangat membantu. Namun, di balik segala kemudahan itu, ada pertanyaan yang tidak boleh diabaikan: apakah pelayanan yang serba cepat tersebut juga benar-benar aman bagi pasien?</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116abb71d451f75.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="13082" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 29 Sep 2026 15:12:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Puskesmas Ramah Lansia Bukan Sekadar Jalur Prioritas</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/puskesmas-ramah-lansia-bukan-sekadar-jalur-prioritas</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/puskesmas-ramah-lansia-bukan-sekadar-jalur-prioritas</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, ST, MT, ASEAN. Eng¹ dan dr. Ervina Rahmi Hawa²*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, ST, MT, ASEAN. Eng¹ dan dr. Ervina Rahmi Hawa²* </strong></em></p><p>Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat dengan jumlah penduduk lanjut usia yang semakin besar. Bertambahnya usia harapan hidup tentu menjadi kabar baik. Namun, kondisi ini juga membawa tantangan baru bagi pelayanan kesehatan. Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat mengalami penurunan kekuatan otot, keseimbangan, penglihatan, pendengaran, daya ingat, dan kecepatan dalam memahami informasi.</p><p>Karena itu, puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan terdekat perlu hadir bukan hanya untuk mengobati penyakit, tetapi juga memberikan rasa aman, nyaman, dan mudah bagi lansia. Sederhananya, puskesmas ramah lansia adalah puskesmas yang memahami bahwa kebutuhan manusia berubah ketika usia bertambah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aafcee6a6989.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="69655" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 20 Sep 2026 19:17:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Dari Akselerasi Menuju Keseimbangan: Dua Jalur, Satu Arah Pendidikan Dokter Spesialis Indonesia</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/dari-akselerasi-menuju-keseimbangandua-jalur-satu-arah-pendidikan-dokter-spesialis-indonesia</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/dari-akselerasi-menuju-keseimbangandua-jalur-satu-arah-pendidikan-dokter-spesialis-indonesia</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Tonang Dwi Ardyanto*   ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Tonang Dwi Ardyanto*  </strong></em></p><blockquote><p>Kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak dokter spesialis. Kita membutuhkan sistem yang mampu menghasilkan jumlah, jenis, dan distribusi dokter spesialis sesuai kebutuhan—sambil menumbuhkan kemampuan daerah untuk mendidik generasi berikutnya.</p></blockquote><p>Indonesia sedang melakukan akselerasi besar dalam pendidikan dokter spesialis. Kebutuhannya memang nyata. Kekurangan dokter spesialis masih besar, distribusinya timpang, sementara kebutuhan pelayanan kesehatan terus berkembang.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aafcacc9e909.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="74009" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 20 Sep 2026 19:01:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Ketika Pohon Meh Pergi, Air Pun Ikut Menghilang</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/ketika-pohon-meh-pergi-air-pun-ikut-menghilang</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/ketika-pohon-meh-pergi-air-pun-ikut-menghilang</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aabed595119e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="16918" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 17 Sep 2026 20:44:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Keselamatan Pasien Dimulai dari Sistem Kerja yang Sehat</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/keselamatan-pasien-dimulai-dari-sistem-kerja-yang-sehat</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/keselamatan-pasien-dimulai-dari-sistem-kerja-yang-sehat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, S.T., M.T, ASEAN.Eng¹ dan dr. Ervina Rahmi Hawa²   ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, S.T.</strong></em><em><strong>, M.T, ASEAN.Eng¹ dan dr. Ervina Rahmi Hawa²  </strong></em></p><p>Bayangkan seorang pasien lanjut usia datang ke rumah sakit dengan membawa beberapa jenis obat yang rutin diminum. Di ruang pemeriksaan, ia lupa menyebutkan salah satu obatnya. Catatan dari bagian pendaftaran belum terbaca oleh petugas berikutnya, sementara keluarga yang mendampingi mengira semua informasi sudah tercatat. Situasi sederhana seperti ini dapat membuka peluang terjadinya kesalahan. Bukan karena tenaga kesehatan tidak peduli, melainkan karena informasi harus melewati banyak orang dan tahapan dalam waktu yang sering kali terbatas.</p><p>Ketika membicarakan keselamatan pasien, kita biasanya langsung menunjuk dokter atau perawat. Mereka dianggap harus selalu teliti, tidak boleh lupa, dan tidak boleh salah. Harapan itu tentu wajar, tetapi pelayanan kesehatan tidak dijalankan oleh satu orang. Ada petugas pendaftaran, laboratorium, farmasi, radiologi, tenaga kebersihan, pengelola teknologi informasi, sampai manajemen. Semua saling terhubung. Karena itu, keselamatan pasien tidak cukup hanya mengandalkan kehati-hatian seseorang; keselamatan harus dibangun melalui sistem kerja yang membantu setiap orang melakukan hal yang benar.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aaa94975b468.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="69655" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 16 Sep 2026 20:08:03 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menjaga Akar, Menyiapkan Masa Depan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menjaga-akar-menyiapkan-masa-depan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menjaga-akar-menyiapkan-masa-depan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Marini Amalia Ocvianti, S.Si., M.Pd.*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Marini Amalia Ocvianti, S.Si., M.Pd.* </strong></em></p><p>Sebagai guru di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta sekaligus mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2, saya semakin menyadari bahwa memahami Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan menghafal tahun berdirinya, nama tokohnya, atau mengenal amal usahanya. Yang jauh lebih penting adalah memahami semangat yang melahirkan Muhammadiyah dan bertanya: apakah semangat itu masih hidup dalam diri kita hari ini?</p><p>Muhammadiyah lahir dari kegelisahan Kiai Ahmad Dahlan melihat keadaan umat. Pada awal abad ke-20, masyarakat menghadapi keterbatasan pendidikan, kemiskinan, kebodohan, dan persoalan sosial-keagamaan yang tidak sederhana. Kiai Dahlan tidak berhenti pada kritik. Beliau mengambil jalan tindakan melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Beliau juga berani mempertemukan ilmu agama dengan pengetahuan umum dalam sistem pendidikan yang lebih modern.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116a9fb9e49f35a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="13509" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 08 Sep 2026 14:31:54 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>FK dan RSPPU: Akselerasi, Mutu, dan Titik Temu</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/fk-dan-rsppu-akselerasi-mutu-dan-titik-temu</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/fk-dan-rsppu-akselerasi-mutu-dan-titik-temu</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Tonang Dwi Ardyanto*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Tonang Dwi Ardyanto* </strong></em></p><p>Beberapa hari ini ada berita bahwa sejauh ini telah dibuka 160 Prodi Dokter Spesialis berbasis universitas dan 31 prodi berbasis rumah sakit. Direncanakan ada 30 prodi baru lagi di akhir tahun ini.</p><p>Sementara itu, banyak tulisan beredar mengkhawatirkan bahwa percepatan pendidikan dokter spesialis rentan menurunkan mutu, karena lebih terjebak pada target birokratif.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116a97d3b493b2a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="74009" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 02 Sep 2026 14:56:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menyanggah False Dichotomy: Mengangkat Kesejahteraan Hewan Jadi Isu Kesemestaan di Muktamar Muhammadiyah</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menyanggah-false-dichotomy-mengangkat-kesejahteraan-hewan-jadi-isu-kesemestaan-di-muktamar-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menyanggah-false-dichotomy-mengangkat-kesejahteraan-hewan-jadi-isu-kesemestaan-di-muktamar-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/08/1286a7eb9b9e4768.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="393844" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 14 Aug 2026 13:44:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Jika Ahmad Dahlan Hidup di Era AI</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/jika-ahmad-dahlan-hidup-di-era-ai</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/jika-ahmad-dahlan-hidup-di-era-ai</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Susanti*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Susanti* </strong></em></p><p>Bagaimana jika K.H. Ahmad Dahlan hidup pada hari ini? Barangkali beliau akan berhadapan bukan hanya dengan persoalan umat di sekitar Kauman, tetapi juga dengan kecerdasan buatan, media sosial, perubahan iklim, disrupsi pendidikan, krisis moral, dan generasi yang memperoleh pengetahuan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar ponsel.</p><p>Pertanyaan itu bukan sekadar permainan imajinasi. Justru dari sanalah kita dapat bertanya: Muhammadiyah seperti apa yang dibutuhkan masa depan?</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aa4d9fc57da7.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="15345" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 12 Sep 2026 11:57:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Refleksi Muhammadiyah di Era Generasi Z dan Alfa: Menjaga Nilai, Membaca Zaman, dan Menyiapkan Generasi Masa Depan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/refleksi-muhammadiyah-di-era-generasi-z-dan-alfa-menjaga-nilai-membaca-zaman-dan-menyiapkan-generasi-masa-depan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/refleksi-muhammadiyah-di-era-generasi-z-dan-alfa-menjaga-nilai-membaca-zaman-dan-menyiapkan-generasi-masa-depan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Diah Wulandari, S.Pd.Si.*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Diah Wulandari, S.Pd.Si.* </strong></em></p><p>Muhammadiyah telah melewati perjalanan panjang dalam mengembangkan dakwah, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan berbagai bidang kehidupan masyarakat. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah membawa semangat pembaruan: menghadirkan Islam yang mencerahkan, berkemajuan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. </p><p>Namun, setiap zaman menghadirkan tantangan yang berbeda. Hari ini Muhammadiyah berhadapan dengan generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital, yaitu generasi Z dan Alfa. Mereka hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi berada dalam genggaman, komunikasi berlangsung melalui layar, kecerdasan buatan berkembang sangat cepat, dan batas antara ruang nyata dengan ruang digital semakin tipis.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aa4d9fccbbad.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="90152" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 12 Sep 2026 11:50:19 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Mendidik Polymath di Era AI: Menyiapkan Kader Visioner Sekolah Muhammadiyah</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/mendidik-polymath-di-era-ai-menyiapkan-kader-visioner-sekolah-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/mendidik-polymath-di-era-ai-menyiapkan-kader-visioner-sekolah-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  Penulis: Fitri Sari Sukmawati, M.Pd.*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p> <em><strong>Penulis: Fitri Sari Sukmawati, M.Pd.* </strong></em></p><p>Dunia pendidikan sedang memasuki sebuah perubahan besar. Kecerdasan artifisial atau <em>artificial intelligence</em> (AI) tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dibicarakan di laboratorium teknologi. AI telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang kelas. Ia dapat membantu mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, menganalisis data, bahkan membantu manusia menghasilkan berbagai karya. </p><p>Namun, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, muncul sebuah pertanyaan penting: Manusia seperti apa yang perlu kita siapkan untuk masa depan? Apakah cukup dengan menghasilkan murid yang menguasai teknologi? Ataukah kita membutuhkan generasi yang mampu memahami berbagai bidang ilmu, menghubungkan pengetahuan, menciptakan gagasan baru, dan menggunakan teknologi secara bijaksana? </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aa2912515a66.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="117039" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 10 Sep 2026 18:15:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>RS Daerah: Berselancar Antara JKN dan RSPPU</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/rs-daerah-berselancar-antaara-jkn-dan-rsppu</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/rs-daerah-berselancar-antaara-jkn-dan-rsppu</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Tonang Dwi Ardyanto*Perhatian Rumah Sakit Daerah (RSD, yaitu rumah sakit milik pemerintah daerah) terhadap status Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) patut diapresiasi. Selama ini, RSD justru menjadi rumah sakit pendidikan yang paling dominan sebagai tempat pembelajaran klinis bagi calon dokter dan dokter spesialis. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Tonang Dwi Ardyanto*</strong></em><br><strong><br></strong>Perhatian Rumah Sakit Daerah (RSD, yaitu rumah sakit milik pemerintah daerah) terhadap status Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) patut diapresiasi. Selama ini, RSD justru menjadi rumah sakit pendidikan yang paling dominan sebagai tempat pembelajaran klinis bagi calon dokter dan dokter spesialis.</p><p>Karena itu, sudah semestinya RSD tidak hanya berperan sebagai lokasi pembelajaran klinis — menyediakan pasien, pendidik, fasilitas, pembiayaan, dan menanggung risiko pelayanan — tetapi juga dilibatkan lebih jauh dalam perencanaan, seleksi, asesmen, pembiayaan, serta penjaminan mutu pendidikan itu sendiri.</p><p>Namun, penguatan peran RSD dalam pendidikan dokter spesialis perlu ditempatkan dalam gambaran yang lebih utuh. Rumah sakit daerah saat ini hidup di antara dua jam kebijakan yang berdetak dengan kecepatan berbeda.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/08/1156a7eabb8dae54.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="74009" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 14 Aug 2026 12:47:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah dan Aset Kekayaan Intelektual: Menjaga Amanah Peradaban, Merawat Warisan Ilmu</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah-dan-aset-kekayaan-intelektual-menjaga-amanah-peradaban-merawat-warisan-ilmu</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah-dan-aset-kekayaan-intelektual-menjaga-amanah-peradaban-merawat-warisan-ilmu</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Muhammad Dzulnafis Tanjung, S.H., C.Me.* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Muhammad Dzulnafis Tanjung, S.H., C.Me.*</strong></em></p><p><em>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)</em></p><p>Ketika berbicara tentang kekayaan Muhammadiyah, yang terlintas di benak kita biasanya adalah tanah wakaf, masjid, sekolah, rumah sakit, universitas, atau berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua itu memang anugerah sekaligus kekuatan besar yang telah dibangun oleh Persyarikatan selama lebih dari satu abad.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/08/1286a70473aa8bb9.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="76614" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 03 Aug 2026 14:35:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                                    <item>
                    <title>AUM sebagai Jantung Gerakan Muhammadiyah: Antara Idealisme dan Tantangan Zaman</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/aum-sebagai-jantung-gerakan-muhammadiyah-antara-idealisme-dan-tantangan-zaman</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/aum-sebagai-jantung-gerakan-muhammadiyah-antara-idealisme-dan-tantangan-zaman</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Kustejo, S.Pd.I., M.Pd.*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Kustejo, S.Pd.I., M.Pd.* </strong></em></p><p>Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) adalah denyut nadi perjuangan Muhammadiyah yang menjadi bukti nyata dari gerakan Islam Berkemajuan. Sejak kelahirannya, Muhammadiyah tidak hanya hadir melalui gagasan, pemikiran, dan dakwah, tetapi juga menghadirkan karya nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Melalui berbagai AUM di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi, Muhammadiyah menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam aksi pengabdian yang mencerahkan, memberdayakan, dan memberikan manfaat bagi umat serta bangsa.</p><p>AUM menjadi wujud nyata bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi diwujudkan melalui pelayanan dan kontribusi yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Di bidang kesehatan, AUM memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan dakwah melalui pelayanan kemanusiaan. Rumah sakit, klinik, dan berbagai lembaga kesehatan Muhammadiyah hadir untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mengedepankan profesionalisme, kepedulian, dan nilai-nilai Islam. Pelayanan kesehatan bukan sekadar memberikan pengobatan, tetapi juga menjadi bentuk nyata kepedulian Muhammadiyah terhadap kualitas kehidupan masyarakat. Dengan demikian, AUM kesehatan menjadi bagian penting dari gerakan dakwah yang menghadirkan kemaslahatan  dan memberikan manfaat langsung bagi umat.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aa2994900b36.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="122381" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 10 Sep 2026 18:50:12 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Gerakan Sejuta Ternak: Aksi Nyata Kemandirian Ekonomi Umat Berbasis Micro Farming </title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/gerakan-sejuta-ternak-aksi-nyata-kemandirian-ekonomi-umat-berbasis-micro-farming</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/gerakan-sejuta-ternak-aksi-nyata-kemandirian-ekonomi-umat-berbasis-micro-farming</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Skala kecil bukan kelemahan apabila terintegrasi dalam jaringan yang besar. Sebaliknya, agregasi dari ribuan unit micro farming di tingkat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) berpotensi menciptakan kekuatan ekonomi kolektif yang signifikan. Dengan asumsi setiap PRM memiliki minimal 20 anggota kelompok ternak aktif, maka dalam skala regional, ekosistem ini dapat berkembang menjadi basis produksi yang memiliki daya tawar terhadap industri besar.Dalam jangka panjang, Gerakan Sejuta Ternak tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga mentransformasikan mentalitas ekonomi umat dari ketergantungan menuju kemandirian. Nilai kefakiran tidak lagi dipahami sebagai keterbatasan, tetapi sebagai titik awal transformasi menuju keikhlasan dalam membangun kebaikan yang berkelanjutan.Ekspansi Model Micro Farming VirtualBagi masyarakat urban yang memiliki keterbatasan lahan, TernakMU tengah mengembangkan konsep micro farming virtual. Model ini memungkinkan partisipasi dalam sistem peternakan berbasis digital yang mengintegrasikan data produksi, aliran dana, manajemen pemasaran, serta akuntabilitas sistem secara transparan.Pendekatan ini memperluas akses partisipasi tanpa menghilangkan esensi produksi riil. Dengan demikian, ekosistem micro farming tidak terbatas secara geografis, tetapi menjadi sistem ekonomi terbuka yang dapat diakses oleh jamaah di berbagai konteks ruang hidup.Gerakan Sejuta Ternak adalah ikhtiar strategis untuk membangun ulang struktur ekonomi umat dari basis paling fundamental: unit kecil yang terorganisir. Dalam spirit Al-Ma’un, kekuatan tidak selalu lahir dari yang besar, tetapi dari konsistensi kolektif dalam mengelola yang kecil secara berjamaah.Melalui TernakMU, Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang dakwah sosial, tetapi menghadirkan model konkret kemandirian ekonomi yang terukur, terstruktur, dan dapat direplikasi. Sebuah langkah yang tidak hanya relevan dengan zaman, tetapi juga menjawab kebutuhan masa depan umat secara nyata.Penulis: H. Akhmad Khairudin, M.B.A. (Anggota Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Cabang Muhammadiyah Turi | Ketua TernakMU) ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span>Skala kecil bukan kelemahan apabila terintegrasi dalam jaringan yang besar. Sebaliknya, agregasi dari ribuan unit </span><em>micro farming</em><span> di tingkat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) berpotensi menciptakan kekuatan ekonomi kolektif yang signifikan. Dengan asumsi setiap PRM memiliki minimal 20 anggota kelompok ternak aktif, maka dalam skala regional, ekosistem ini dapat berkembang menjadi basis produksi yang memiliki daya tawar terhadap industri besar.</span></p><p dir="ltr"><span>Dalam jangka panjang, Gerakan Sejuta Ternak tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga mentransformasikan mentalitas ekonomi umat dari ketergantungan menuju kemandirian. Nilai kefakiran tidak lagi dipahami sebagai keterbatasan, tetapi sebagai titik awal transformasi menuju keikhlasan dalam membangun kebaikan yang berkelanjutan.</span></p><h4 dir="ltr"><span>Ekspansi Model </span><em>Micro Farming Virtual</em></h4><p dir="ltr"><span>Bagi masyarakat urban yang memiliki keterbatasan lahan, TernakMU tengah mengembangkan konsep </span><em>micro farming</em><span><em> virtual</em>. Model ini memungkinkan partisipasi dalam sistem peternakan berbasis digital yang mengintegrasikan data produksi, aliran dana, manajemen pemasaran, serta akuntabilitas sistem secara transparan.</span></p><p dir="ltr"><span>Pendekatan ini memperluas akses partisipasi tanpa menghilangkan esensi produksi riil. Dengan demikian, ekosistem </span><em>micro farming</em><span> tidak terbatas secara geografis, tetapi menjadi sistem ekonomi terbuka yang dapat diakses oleh jamaah di berbagai konteks ruang hidup.</span><b></b></p><p dir="ltr"><span>Gerakan Sejuta Ternak adalah ikhtiar strategis untuk membangun ulang struktur ekonomi umat dari basis paling fundamental: unit kecil yang terorganisir. Dalam spirit Al-Ma’un, kekuatan tidak selalu lahir dari yang besar, tetapi dari konsistensi kolektif dalam mengelola yang kecil secara berjamaah.</span></p><p dir="ltr"><span>Melalui TernakMU, Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang dakwah sosial, tetapi menghadirkan model konkret kemandirian ekonomi yang terukur, terstruktur, dan dapat direplikasi. Sebuah langkah yang tidak hanya relevan dengan zaman, tetapi juga menjawab kebutuhan masa depan umat secara nyata.</span></p><p dir="ltr"><em><strong>Penulis: H. Akhmad Khairudin, M.B.A. (Anggota Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Cabang Muhammadiyah Turi | Ketua TernakMU)</strong></em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/07/116a48ce031e789.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="97580" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 04 Jul 2026 16:11:15 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Taqlid dan Echo Chamber di Era Digital: Rekonstruksi Epistemologi Keagamaan dalam Menghadapi Polarisasi Informasi</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/taqlid-dan-echo-chamber-di-era-digital-rekonstruksi-epistemologi-keagamaan-dalam-menghadapi-polarisasi-informasi</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/taqlid-dan-echo-chamber-di-era-digital-rekonstruksi-epistemologi-keagamaan-dalam-menghadapi-polarisasi-informasi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah secara mendasar cara masyarakat memperoleh, memahami, dan menyebarkan pengetahuan keagamaan. Jika pada masa lalu otoritas keagamaan didominasi oleh ulama, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam, kini otoritas tersebut bergeser ke ruang digital yang memungkinkan siapa pun menjadi penyampai ajaran agama.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah secara mendasar cara masyarakat memperoleh, memahami, dan menyebarkan pengetahuan keagamaan. Jika pada masa lalu otoritas keagamaan didominasi oleh ulama, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam, kini otoritas tersebut bergeser ke ruang digital yang memungkinkan siapa pun menjadi penyampai ajaran agama. </p><p>Berbagai platform internet dan media sosial seperti <em>YouTube</em>, <em>Facebook</em>, <em>Instagram</em>, <em>TikTok</em>, dan <em>X</em> (<em>Twitter</em>) telah melahirkan fenomena baru berupa "ustaz digital", influencer keagamaan, serta komunitas virtual yang menjadi rujukan utama masyarakat dalam memahami Islam. Perubahan ini membawa manfaat berupa kemudahan akses terhadap ilmu agama, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang tidak selalu valid, polarisasi pandangan, serta kecenderungan masyarakat menerima informasi secara instan tanpa proses verifikasi yang memadai.</p><p>Fenomena tersebut berkaitan erat dengan konsep <em>echo chamber</em>, yaitu kondisi ketika seseorang hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan keyakinan, preferensi, dan pandangan yang telah dimilikinya. Algoritma media sosial secara otomatis menyajikan konten yang sesuai dengan riwayat pencarian, interaksi, dan minat pengguna. Akibatnya, pengguna semakin jarang memperoleh informasi yang berbeda dari keyakinannya sehingga terbentuk ruang gema (<em>echo chamber</em>) yang memperkuat bias dan mengurangi kemampuan berpikir kritis. Dalam situasi demikian, seseorang merasa bahwa pandangan kelompoknya merupakan satu-satunya kebenaran karena terus-menerus memperoleh penguatan dari lingkungan digital yang homogen.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/07/116a4769b5c506b.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="363646" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 03 Jul 2026 14:52:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>AI, Efisiensi, dan Paradoks Ekonomi: Ketika Mesin Semakin Cerdas, Untuk Siapa Kita Berproduksi?</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/ai-efisiensi-dan-paradoks-ekonomi-ketika-mesin-semakin-cerdas-untuk-siapa-kita-berproduksi-o</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/ai-efisiensi-dan-paradoks-ekonomi-ketika-mesin-semakin-cerdas-untuk-siapa-kita-berproduksi-o</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Sejak manusia mulai mengenal peradaban, berbagai inovasi selalu lahir dari keinginan yang sama: membuat hidup dan pekerjaan menjadi lebih mudah. Kapak batu membantu manusia berburu, roda mempermudah transportasi, mesin uap mempercepat produksi, dan kini robot serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengambil peran penting dalam berbagai aktivitas industri. Setiap kemajuan teknologi pada dasarnya dirancang untuk meningkatkan efektivitas kerja, mengurangi beban manusia, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Sejak manusia mulai mengenal peradaban, berbagai inovasi selalu lahir dari keinginan yang sama: membuat hidup dan pekerjaan menjadi lebih mudah. Kapak batu membantu manusia berburu, roda mempermudah transportasi, mesin uap mempercepat produksi, dan kini robot serta kecerdasan buatan (<em>Artificial Intelligence</em>/AI) mengambil peran penting dalam berbagai aktivitas industri. Setiap kemajuan teknologi pada dasarnya dirancang untuk meningkatkan efektivitas kerja, mengurangi beban manusia, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.</p><p>Dalam ilmu ergonomi, teknologi tidak pernah dipandang sebagai pengganti manusia. Sebaliknya, teknologi merupakan sarana untuk membantu manusia bekerja secara lebih aman, nyaman, sehat, dan produktif.</p><p>Filosofi ergonomi menempatkan manusia sebagai pusat sistem kerja. Prinsip <em>fitting the task to the man</em> menegaskan bahwa pekerjaan dan teknologi harus disesuaikan dengan kemampuan serta keterbatasan manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, keberhasilan sebuah teknologi tidak semata-mata diukur dari seberapa besar peningkatan produktivitas yang dihasilkannya, tetapi juga dari seberapa besar kontribusinya terhadap peningkatan kualitas hidup manusia.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/06/1286a31fae548584.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="77208" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 17 Jun 2026 01:32:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Aksesibilitas sebagai Indikator Kota Layak Huni</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/aksesibilitas-sebagai-indikator-kota-layk-huni</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/aksesibilitas-sebagai-indikator-kota-layk-huni</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Survei Most Livable City Index (MLCI) yang dilakukan oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) menempatkan Solo (Surakarta) sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di Indonesia, disusul oleh Yogyakarta dan Cirebon. Penilaian tersebut didasarkan pada berbagai indikator, seperti fasilitas kesehatan, transportasi, ruang terbuka hijau, hingga kualitas interaksi sosial masyarakat. Solo dinilai unggul karena memiliki biaya hidup yang relatif terjangkau, tata kota yang rapi, fasilitas publik yang memadai, serta ruang terbuka hijau yang cukup baik. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Survei Most Livable City Index (MLCI) yang dilakukan oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) menempatkan Solo (Surakarta) sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di Indonesia, disusul oleh Yogyakarta dan Cirebon. Penilaian tersebut didasarkan pada berbagai indikator, seperti fasilitas kesehatan, transportasi, ruang terbuka hijau, hingga kualitas interaksi sosial masyarakat. Solo dinilai unggul karena memiliki biaya hidup yang relatif terjangkau, tata kota yang rapi, fasilitas publik yang memadai, serta ruang terbuka hijau yang cukup baik.</p><p>Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: apakah predikat “kota ternyaman” juga berarti kota tersebut telah benar-benar aksesibel bagi semua orang? Kenyamanan sebuah kota seharusnya tidak hanya diukur dari keindahan tata ruang atau kelengkapan fasilitasnya, tetapi juga dari sejauh mana fasilitas tersebut dapat digunakan secara aman, mudah, dan mandiri oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.</p><p>Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Suhardi menunjukkan bahwa persoalan aksesibilitas di Kota Solo masih perlu mendapat perhatian serius. Penelitian Suhardi (2026) menemukan bahwa tingkat aksesibilitas beberapa gereja di Kota Solo masih tergolong rendah. Temuan serupa juga disampaikan dalam penelitian Suhardi (2025) yang mengkaji aksesibilitas Terminal Bus Tirtonadi dan stasiun kereta api di Solo. Selain itu, penelitian Suhardi (2024) menyatakan bahwa indeks aksesibilitas masjid agung di ke-5 Kota di Solo Raya (Boyolali, Solo, Karanganyar, Sukoharjo, dan Klaten) masih rendah. Fasilitas di ke 5 masjid agung belum sepenuhnya ramah bagi seluruh pengguna. Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan fasilitas publik belum tentu identik dengan kemudahan akses.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/1286a1a587d652ce.png?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="529711" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 30 May 2026 02:07:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menjaga Sang Surya di Era Digital: Menguatkan Karakter Pelajar Muhammadiyah melalui Dakwah Pendidikan Islam Berkemajuan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menjaga-sang-surya-di-era-digital-menguatkan-karakter-pelajar-muhammadiyah-melalui-dakwah-pendidikan-islam-berkemajuan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menjaga-sang-surya-di-era-digital-menguatkan-karakter-pelajar-muhammadiyah-melalui-dakwah-pendidikan-islam-berkemajuan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aa28bd33cf7f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="175679" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 10 Sep 2026 17:52:20 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menata Masa Depan Pariwisata Indonesia melalui Safety Tourism dan Keberlanjutan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menata-masa-depan-pariwisata-indonesia-melalui-safety-tourism-dan-keberlanjutan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menata-masa-depan-pariwisata-indonesia-melalui-safety-tourism-dan-keberlanjutan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pariwisata selama ini identik dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan pengalaman yang mampu menghadirkan kesan mendalam bagi wisatawan. Gunung yang menjulang, pantai yang mempesona, hingga desa wisata dengan nuansa tradisional menjadi magnet yang menggerakkan jutaan orang melakukan perjalanan setiap tahunnya.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pariwisata selama ini identik dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan pengalaman yang mampu menghadirkan kesan mendalam bagi wisatawan. Gunung yang menjulang, pantai yang mempesona, hingga desa wisata dengan nuansa tradisional menjadi magnet yang menggerakkan jutaan orang melakukan perjalanan setiap tahunnya. </p><p>Kehadiran sektor pariwisata tidak hanya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wajah yang memperlihatkan kekayaan alam dan budaya Indonesia kepada dunia. Namun, di balik pesona tersebut terdapat satu aspek penting yang sering kali luput dari perhatian, yaitu keselamatan. Padahal, perjalanan wisata sejatinya bukan hanya tentang menikmati destinasi, melainkan juga memastikan wisatawan dapat kembali pulang dengan aman dan nyaman.</p><p>Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kecelakaan di obyek wisata alam terus terjadi dan menjadi perhatian publik. Wisatawan terseret ombak di pantai selatan Jawa, kecelakaan pendakian gunung, perahu wisata yang tenggelam, hingga insiden kendaraan wisata yang mengalami rem blong di jalur pegunungan menunjukkan bahwa sektor pariwisata masih menghadapi persoalan serius terkait keselamatan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/116a098d7989094.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="31092" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 17 May 2026 09:43:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Ahmad Dahlan dan Dialog yang Menggerakkan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/ahmad-dahlan-dan-dialog-yang-menggerakkan-1722112</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/ahmad-dahlan-dan-dialog-yang-menggerakkan-1722112</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Di tengah banjir informasi hari ini, manusia tampak semakin sulit berdialog. Percakapan di ruang publik sering berubah menjadi arena saling menyerang. Media sosial dipenuhi komentar singkat yang tergesa-gesa, sementara kemampuan manusia untuk mendengar perlahan mulai menghilang. Banyak orang ingin segera menang dalam perdebatan, tetapi enggan memahami pikiran orang lain.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Di tengah banjir informasi hari ini, manusia tampak semakin sulit berdialog. Percakapan di ruang publik sering berubah menjadi arena saling menyerang. Media sosial dipenuhi komentar singkat yang tergesa-gesa, sementara kemampuan manusia untuk mendengar perlahan mulai menghilang. Banyak orang ingin segera menang dalam perdebatan, tetapi enggan memahami pikiran orang lain. </p><p>Fenomena seperti itu tidak hanya terjadi dalam ruang politik atau budaya digital. Dunia pendidikan pun perlahan mulai mengalami gejala serupa. Banyak proses belajar berlangsung satu arah, di mana guru sekadar mentransfer pengetahuan, sehingga kesadaran tidak selalu tumbuh dalam diri murid. Murid mungkin hafal banyak teori, namun tidak sungguh-sungguh memahami maknanya. Padahal pendidikan sejatinya bukan sekadar <em>transfer of knowledge </em>(pengetahuan) tetapi juga <em>transfer of values and principles</em> (nilai dan prinsip). Pendidikan adalah proses membangkitkan cara berpikir dan membentuk kepekaan nurani manusia.</p><p>Di titik inilah dialog menjadi penting. Sebab manusia sering kali berubah bukan ketika diperintah, melainkan disaat kesadarannya disentuh melalui percakapan yang hidup. Karena itu menarik membaca kembali metode pendidikan K.H. Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20. Banyak orang yang belum melihat kedalaman pendekatan pedagogis Ahmad Dahlan. Padahal Ahmad Dahlan bukan hanya guru agama, tetapi juga seorang pendidik sejati yang memahami psikologi perkembangan manusia serta seni membangun kesadaran diri melalui dialog.</p><h3>Apa itu Metode <em>Hiwar</em>?</h3> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/116a0179c5a715c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="122512" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 09 May 2026 13:18:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Metode Field Trip ala Ahmad Dahlan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/metode-field-trip-ala-ahmad-dahlan2</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/metode-field-trip-ala-ahmad-dahlan2</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Sekolah hari ini banyak yang dipenuhi teknologi digital. Murid duduk berjam-jam di depan presentasi digital, menyimak video pembelajaran, lalu pulang dengan tumpukan tugas yang harus diunggah sebelum tengah malam. Pendidikan terasa semakin modern, tetapi sekaligus agak jauh dari kehidupan nyata. Anak-anak mengenal banyak konsep, namun sering kesulitan memahami manusia dan lingkungannya sendiri.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Sekolah hari ini banyak yang dipenuhi teknologi digital. Murid duduk berjam-jam di depan presentasi digital, menyimak video pembelajaran, lalu pulang dengan tumpukan tugas yang harus diunggah sebelum tengah malam. Pendidikan terasa semakin modern, tetapi sekaligus agak jauh dari kehidupan nyata. Anak-anak mengenal banyak konsep, namun sering kesulitan memahami manusia dan lingkungannya sendiri. </p><p>Di banyak ruang kelas, proses pembelajaran berubah menjadi rutinitas administratif. Guru sibuk mengejar target kurikulum, sementara murid perlahan kehilangan rasa ingin tahunya. Kegiatan belajar yang seharusnya membangkitkan pengalaman justru kerap terasa mekanis. Tidak sedikit murid yang cerdas secara akademik, tetapi gugup ketika harus berinteraksi dengan masyarakat langsung.</p><p>Pengetahuan seakan diperlakukan sebagai sesuatu yang cukup dijelaskan lewat buku, papan tulis, dan ujian. Fenomena itu sebenarnya memperlihatkan satu persoalan mendasar: pendidikan banyak ditunaikan di dalam ruang kelas.  </p><h3>Pendidik Sejati</h3> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/116a0179c5a715c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="122512" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 08 May 2026 15:01:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah dan Pemerintah: Refleksi Menuju Rencana Aksi Masa Depan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah-dan-pemerintah-refleksi-menuju-rencana-aksi-masa-depan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah-dan-pemerintah-refleksi-menuju-rencana-aksi-masa-depan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Relasi antara Muhammadiyah dan pemerintah di Indonesia merupakan hubungan historis yang kompleks, panjang, dan dinamis. Sejak berdirinya pada tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan, Muhammadiyah memposisikan dirinya sebagai gerakan Islam modernis yang berorientasi pada pembaruan sosial, pendidikan, dan pelayanan publik, sekaligus sebagai kekuatan masyarakat sipil yang kritis terhadap kebijakan negara. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Relasi antara Muhammadiyah dan pemerintah di Indonesia merupakan hubungan historis yang kompleks, panjang, dan dinamis. Sejak berdirinya pada tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan, Muhammadiyah memposisikan dirinya sebagai gerakan Islam modernis yang berorientasi pada pembaruan sosial, pendidikan, dan pelayanan publik, sekaligus sebagai kekuatan masyarakat sipil yang kritis terhadap kebijakan negara.</p><p>Dalam sejarah politik Indonesia, Muhammadiyah tidak pernah sepenuhnya berada di dalam kekuasaan negara, tetapi juga tidak memilih posisi oposisi permanen. Relasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan yang dialektis: terkadang kritis bahkan konfrontatif terhadap kebijakan pemerintah, namun pada saat yang sama tetap membuka ruang kolaborasi demi kepentingan publik yang lebih luas. Pola ini menjadikan hubungan Muhammadiyah dengan negara sering digambarkan sebagai “kritik yang panjang namun tetap menyimpan harapan untuk berkontribusi dalam tata kelola publik” (Nashir et al., 2019). Sikap tersebut mencerminkan strategi organisasi dalam mempertahankan independensi moral sekaligus menjaga relevansi politiknya dalam proses pembangunan nasional.</p><p>Dalam lintasan sejarahnya, Muhammadiyah memainkan peran penting sebagai aktor masyarakat sipil yang mengisi ruang-ruang pelayanan sosial yang belum sepenuhnya mampu dijangkau oleh negara. Penelitian tentang pemberdayaan masyarakat menunjukkan bahwa melalui berbagai amal usaha dan lembaga sosial, Muhammadiyah berfungsi sebagai agen penguatan civil society yang mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Aktivitas ini tidak jarang menyoroti kekurangan program pemerintah, sehingga relasi antara keduanya seringkali bersifat korektif.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/04/1169d09a977f35e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="54870" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 04:59:19 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Sangkan Paraning Karsa: Menavigasi Pendidikan Islam Berkemajuan di Samudra Zaman</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/sangkan-paraning-karsa-menavigasi-pendidikan-islam-berkemajuan-di-samudra-zaman</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/sangkan-paraning-karsa-menavigasi-pendidikan-islam-berkemajuan-di-samudra-zaman</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/09/116aa2836e75323.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="129416" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 10 Sep 2026 17:16:34 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Login Muhammadiyah, Jangan Sampai Logout</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/login-muhammadiyah-jangan-sampai-logout</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/login-muhammadiyah-jangan-sampai-logout</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Belakangan ini media sosial diramaikan dengan istilah yang menarik: “Login Muhammadiyah.” Ungkapan itu muncul dalam berbagai unggahan, komentar, dan video pendek, terutama dari generasi muda. Ada yang mengaitkannya dengan cara Muhammadiyah menentukan awal Ramadan dan Idulfitri, Kalender Hijriah Global Tunggal, kemandirian organisasi, pendidikan, rumah sakit, hingga cara berpikir Muhammadiyah yang dianggap rasional dan sederhana. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Belakangan ini media sosial diramaikan dengan istilah yang menarik: “<em>Login</em> Muhammadiyah.” Ungkapan itu muncul dalam berbagai unggahan, komentar, dan video pendek, terutama dari generasi muda. Ada yang mengaitkannya dengan cara Muhammadiyah menentukan awal Ramadan dan Idulfitri, Kalender Hijriah Global Tunggal, kemandirian organisasi, pendidikan, rumah sakit, hingga cara berpikir Muhammadiyah yang dianggap rasional dan sederhana.</p><p>Fenomena ini tentu menarik. Tetapi kita tidak perlu terlalu cepat merayakannya sebagai tanda bahwa generasi muda sedang berbondong-bondong menjadi Muhammadiyah. Ada sesuatu yang lebih penting untuk dibaca: perubahan cara generasi baru membangun kedekatan dan memilih identitas keberagamaannya.</p><p>Pilihan kata <em>login</em> sendiri menarik. Generasi sebelumnya lebih akrab dengan istilah “masuk Muhammadiyah”, “menjadi anggota Muhammadiyah”, atau “bergabung dengan Persyarikatan”. Generasi digital memakai bahasa yang mereka kenal sehari-hari.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/07/116a670181549c0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="97303" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 27 Jul 2026 13:58:38 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Matahari dari Barat (1) : Dalam Gerak Ada Kekuatan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/matahari-dari-barat-1-dalam-gerak-ada-kekuatan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/matahari-dari-barat-1-dalam-gerak-ada-kekuatan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Kecuali menginginkan kebekuan, gerak adalah sebuah keniscayaan. Sebab dalam gerak ada sendi-sendi yang bekerja membakar kemalasan diri. Sebab dalam gerak tersemai benih-benih perubahan. Air yang diam tak dialirkan berpotensi menyimpan energi negatif mematikan. Sebaliknya air yang bergerak mengalir akan sehat dan meyegarkan. Pendaki di puncak gunung salju tak khawatir beku kedinginan sebab mereka punya gerak yang membuat suhu tubuh dalam keterjagaan. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Kecuali menginginkan kebekuan, gerak adalah sebuah keniscayaan. Sebab dalam gerak ada sendi-sendi yang bekerja membakar kemalasan diri. Sebab dalam gerak tersemai benih-benih perubahan. Air yang diam tak dialirkan berpotensi menyimpan energi negatif mematikan. Sebaliknya air yang bergerak mengalir akan sehat dan meyegarkan. Pendaki di puncak gunung salju tak khawatir beku kedinginan sebab mereka punya gerak yang membuat suhu tubuh dalam keterjagaan.</p><p>Sejenak tengoklah ke belakang, bukan untuk romantisme masa silam melainkan mengambil pelajaran. Episode generasi awal umat ini tak pernah sepi dari aral melintang. Tak pernah kosong dari gangguan dan tantangan. Seakan tak ada jeda sekedar menikmati keadaan dalam kondisi nyaman. Tapi lihatlah bagaimana mereka mengukir setiap jejak yang ditorehkan dengan catatan mengesankan. Iman dalam hati tetap terasa manis karena Allah dan Rasulnya lebih mereka cintai dari apapun. Biarpun darah mengalir, luka-luka menganga, dan tapak kaki bengkak karena jauhnya sebuah perjalanan.</p><p><em>&ldquo;Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.&rdquo; (Al Anfaal [8]: 26</em>)</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e23733ee8c0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="127986" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 25 Mar 2025 11:57:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>KOMUNIKASI KELUARGA MUSLIM</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/komunikasi-keluarga-muslim</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/komunikasi-keluarga-muslim</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ KEKERASAN terhadap anak merupakan masalah sosial serius di Indonesia yang terus meningkat meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan organisasi terkait. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>KEKERASAN terhadap anak merupakan masalah sosial serius di Indonesia yang terus meningkat meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan organisasi terkait.</p><p>Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), dari Januari hingga November 2023, tercatat 15.120 kasus kekerasan terhadap anak, dengan 12.158 korban anak perempuan dan 4.691 korban anak laki-laki.</p><p>Angka ini menunjukkan tren mengkhawatirkan karena terus bertambah. Bahkan, sejak Januari hingga pertengahan Agustus 2024, Simfoni PPA mencatat jumlah korban kekerasan anak di Indonesia mencapai 15.267 anak.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/12/1167726b7969ed8.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="1266964" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 30 Dec 2024 17:04:11 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Munawir Mumatz</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Online Reputation Management: Mengapa Reputasi Digital Menentukan Masa Depan Bisnis Anda?</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/online-reputation-management-mengapa-reputasi-digital-menentukan-masa-depan-bisnis-anda</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/online-reputation-management-mengapa-reputasi-digital-menentukan-masa-depan-bisnis-anda</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Istiqfarha Sojapani (Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta) ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Oleh: Istiqfarha Sojapani (Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta)</strong></em></p><p><strong>MEDIAMU.COM &ndash; </strong>Di era digital ini, keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan tidak lagi hanya ditentukan oleh produk atau layanan yang ditawarkannya, tetapi juga oleh reputasinya di mata publik. UK Chartered Institute of Public Relations (CIPR) menyatakan bahwa setiap organisasi, baik besar maupun kecil, bergantung pada reputasi untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat (Heever &amp; Rensburg, 2018). Reputasi ini terbentuk melalui serangkaian tindakan yang disengaja maupun tidak disengaja dari perusahaan dan pemangku kepentingan yang terlibat, baik dari dalam maupun luar. Dengan kata lain, reputasi menjadi aset tak ternilai bagi organisasi, di mana setiap persepsi publik yang terbentuk bisa mendukung atau bahkan menghancurkan masa depan perusahaan.</p><p>Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, reputasi <em>online</em> (reputasi digital) kini menjadi salah satu aset paling berharga yang harus dikelola dengan cermat. Informasi bergerak begitu cepat melalui internet dan media sosial, memungkinkan jutaan orang untuk mengakses, membagikan, dan membentuk opini dalam hitungan menit. Bagi perusahaan, reputasi online yang positif dapat menjadi kunci keberhasilan, sementara reputasi yang buruk dapat menyebabkan kerugian besar, kehilangan pelanggan, atau bahkan mengakibatkan kehancuran bisnis hanya dalam hitungan hari, atau bahkan jam. Sebuah survei menemukan bahwa 34% kepala komunikasi perusahaan global melaporkan bahwa mereka menghadapi ancaman reputasi berbasis media sosial dalam satu tahun terakhir (Becker &amp; Lee, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap reputasi kini lebih besar dari sebelumnya.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/12/11675009a8f284c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="148498" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 04 Dec 2024 14:50:22 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah dan Peran Strategisnya dalam Menyukseskan Pemilu 2024</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Organisasi masyarakat, terutama Muhammadiyah, memiliki peran sentral dalam mendewasakan demokrasi Indonesia. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada isu keagamaan, pendidikan, dan kemanusiaan, tetapi juga aktif dalam peran kebangsaan. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Pemilihan Umum (Pemilu) adalah salah satu ciri utama demokrasi, menjadi instrumen penting untuk mewujudkan pemerintahan yang sah. Pemilu tidak hanya menjadi wadah untuk menentukan pemimpin, tetapi juga sebagai bentuk pendidikan politik bagi masyarakat. Menurut Syamsudin Haris, Pemilu merupakan sarana pendidikan politik yang langsung, terbuka, dan berskala besar, sehingga seharusnya mampu meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat terhadap demokrasi.</span></span></p><p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Bagi Indonesia, yang menganut sistem demokrasi, Pemilu adalah salah satu pilar penting dalam kehidupan berbangsa. Sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 1955, Indonesia telah menyelenggarakan Pemilu sebanyak 12 kali. Pemilu terakhir pada tahun 2019 menyisakan cerita pahit berupa polarisasi tajam di masyarakat, bahkan berujung pada 21-22 Mei 2019. Kejadian ini menunjukkan bahwa Pemilu yang seharusnya menjadi pesta demokrasi justru berubah menjadi konflik medan akibat kampanye hitam, penyebaran hoaks, dan propaganda negatif yang menyulut emosi masyarakat.</span></span></p><p><strong><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Polarisasi dan Peran Strategis Muhammadiyah</span></span></strong></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/11/1167382a9f380f9.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="1684359" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 16 Nov 2024 12:31:17 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Peran Muhammadiyah</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Guru Tidak Boleh Berhenti Belajar</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/guru-tidak-boleh-berhenti-belajar</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/guru-tidak-boleh-berhenti-belajar</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/06/116a37e406c7c40.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="48063" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 21 Jun 2026 13:16:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menggugat Budaya &amp;apos;Asap&amp;apos;: Menuju Paradigma Organisasi Sehat, Aman, dan Nyaman di DPD IMM DIY</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menggugat-budaya-asap-menuju-paradigma-organisasi-sehat-aman-dan-nyaman-di-dpd-imm-diy</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menggugat-budaya-asap-menuju-paradigma-organisasi-sehat-aman-dan-nyaman-di-dpd-imm-diy</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2026, bukan sekadar momentum seremonial tahunan. Bagi Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) DIY, peringatan ini adalah cermin retak yang memantulkan realitas internal organisasi kita. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2026, bukan sekadar momentum seremonial tahunan. Bagi Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) DIY, peringatan ini adalah cermin retak yang memantulkan realitas internal organisasi kita.</p><p>Selama ini, konsep "aman" dalam lingkungan IMM sering kali tereduksi pada isu-isu reaktif—terutama dalam pengawalan kasus kekerasan seksual yang telah dikawal dengan baik oleh bidang IMMawati. Namun, kita harus jujur bahwa dalam aspek promotif-preventif kesehatan, IMM sering kali masih gagap. Kita terlalu terbiasa memadamkan api, namun abai memetakan kerentanan struktural yang memicu bahaya tersebut.</p><h3>Membongkar Hegemoni Maskulinitas dan Budaya Merokok</h3><p>Rokok dalam budaya organisasi mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosiokultural di Indonesia, di mana merokok sering kali dilekatkan pada simbolisasi maskulinitas, kedewasaan, dan modal sosial untuk berinteraksi. Studi sosiologis yang dilakukan oleh Ng et al. (2007) menunjukkan bahwa di Indonesia, perilaku merokok pada laki-laki dikonstruksikan secara sosial sebagai penanda publisitas, kejantanan, dan "perekat" hubungan antar-teman sebaya.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/116a1c58c5b9d63.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="83899" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 31 May 2026 15:52:10 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menumbuhkan Gerakan IMM Kesehatan berbasis Inter&amp;Professional Education: Jawaban atas Krisis Etik Profesionalisme Nakes dalam Penelantaran Balita di Sorosutan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menumbuhkan-gerakan-imm-kesehatan-berbasis-inter-professional-educationjawaban-atas-krisis-etik-profesionalisme-nakes-dalam-penelantaran-balita-di-sorosutan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menumbuhkan-gerakan-imm-kesehatan-berbasis-inter-professional-educationjawaban-atas-krisis-etik-profesionalisme-nakes-dalam-penelantaran-balita-di-sorosutan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penyelidikan Polresta Yogyakarta pada akhir April 2026 mengungkap fakta kelam bahwa kekejaman di Little Aresha Daycare, Sorosutan, bukanlah insiden sporadis, melainkan kekerasan terstruktur yang digerakkan oleh motif ekonomi. Kepolisian telah menetapkan 13 tersangka, termasuk ketua yayasan, kepala sekolah, dan belasan pengasuh yang terbukti mewariskan "tradisi" penyiksaan secara turun-temurun dari senior kepada staf baru. Demi meraup keuntungan maksimal, satu pengasuh dipaksa menangani hingga sepuluh bayi sekaligus.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Penyelidikan Polresta Yogyakarta pada akhir April 2026 mengungkap fakta kelam bahwa kekejaman di Little Aresha Daycare, Sorosutan, bukanlah insiden sporadis, melainkan kekerasan terstruktur yang digerakkan oleh motif ekonomi. Kepolisian telah menetapkan 13 tersangka, termasuk ketua yayasan, kepala sekolah, dan belasan pengasuh yang terbukti mewariskan "tradisi" penyiksaan secara turun-temurun dari senior kepada staf baru. Demi meraup keuntungan maksimal, satu pengasuh dipaksa menangani hingga sepuluh bayi sekaligus. </p><p>Praktik tak manusiawi seperti mengikat bayi yang hanya dilepas saat makan atau mandi, serta memakaikan baju layak hanya demi dokumentasi laporan palsu kepada orang tua, akhirnya terbongkar berkat keberanian seorang mantan karyawan yang menolak nuraninya dibungkam. Di saat yang sama, pengabaian medis ekstrem dibiarkan terjadi; laporan orang tua mengenai anak yang demam tinggi hingga 39 °Celcius, batuk persisten, hingga lebam fisik, ditutupi rapat-rapat tanpa adanya intervensi kesehatan dasar.</p><p>Fakta bahwa kekerasan fisik dan penelantaran klinis ini menjadi tradisi yang terbiarkan, apalagi dengan keterlibatan pihak berlatar belakang medis maupun tenaga kesehatan di dalamnya, merupakan bentuk pengkhianatan paling fatal terhadap sumpah profesi. Seorang tenaga medis-kesehatan diajarkan untuk memiliki sensitivitas tinggi terhadap tanda-tanda klinis trauma dan penyakit. Memilih untuk tunduk pada perintah yayasan atau hierarki senioritas dengan mengabaikan balita yang diikat dan dibiarkan sakit parah adalah bentuk pembiaran terencana (<em>omission of duty</em>) yang menggugurkan prinsip utama etika medis, yakni tidak membahayakan pasien (<em>do no harm</em>).</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/1169f534d792c2e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="107503" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 01 May 2026 23:18:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Dari Pelanggaran ke Tragedi: Refleksi Driving Behavior dalam Keselamatan Transportasi</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/dari-pelanggaran-ke-tragedi-refleksi-driving-behavior-dalam-keselamatan-transportasi</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/dari-pelanggaran-ke-tragedi-refleksi-driving-behavior-dalam-keselamatan-transportasi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Dalam konteks keselamatan, penting untuk memahami bahwa mengemudi bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal sikap, kesadaran, dan tanggung jawab. Seorang pengemudi yang terampil sekalipun tetap berisiko tinggi jika tidak memiliki disiplin dalam mematuhi aturan. Sebaliknya, pengemudi dengan kemampuan biasa dapat menjadi sangat aman jika memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap keselamatan. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Dalam konteks keselamatan, penting untuk memahami bahwa mengemudi bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal sikap, kesadaran, dan tanggung jawab. Seorang pengemudi yang terampil sekalipun tetap berisiko tinggi jika tidak memiliki disiplin dalam mematuhi aturan. Sebaliknya, pengemudi dengan kemampuan biasa dapat menjadi sangat aman jika memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap keselamatan.</p><p>Oleh karena itu, pendekatan dalam meningkatkan keselamatan transportasi tidak bisa hanya bertumpu pada infrastruktur dan teknologi, tetapi juga harus menyentuh aspek perilaku manusia. Edukasi, penegakan hukum, serta pembentukan budaya keselamatan menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih aman dan berkelanjutan.</p><p>Senin kemarin menjadi pengingat yang begitu keras bahwa satu keputusan kecil di jalan dapat berujung pada tragedi besar yang tak terbayangkan sebelumnya. Sebuah kecelakaan kereta api terjadi, berawal dari sebuah taksi yang nekat menerobos palang perlintasan. Dalam kondisi lalu lintas yang padat, kendaraan tersebut justru terjebak di tengah rel tanpa ruang untuk bergerak maju ataupun mundur. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan diri berubah menjadi detik-detik yang menegangkan, hingga akhirnya tabrakan pun tak terhindarkan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/1169f530b92e271.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="31092" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 01 May 2026 23:06:17 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Dolar AS Menggila di Rp17.300, UMKM Bisa Apa?</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/dolar-menggila-di-rp17300-umkm-bisa-apa</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/dolar-menggila-di-rp17300-umkm-bisa-apa</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Di sudut-sudut pasar, di dapur-dapur produksi rumahan, di bengkel kecil pinggir jalan, angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) bukan sekadar kabar ekonomi. Ia menjelma menjadi kegelisahan nyata. Harga bahan naik, pelanggan mulai menahan belanja, dan pelaku UMKM kembali diuji: bertahan atau tumbang perlahan. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Di sudut-sudut pasar, di dapur-dapur produksi rumahan, di bengkel kecil pinggir jalan, angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) bukan sekadar kabar ekonomi. Ia menjelma menjadi kegelisahan nyata. Harga bahan naik, pelanggan mulai menahan belanja, dan pelaku UMKM kembali diuji: bertahan atau tumbang perlahan.</p><p>Bagi sebagian orang, fluktuasi nilai tukar mungkin hanya grafik. Tapi bagi UMKM, ini adalah cerita tentang perjuangan harian. Tentang ibu-ibu yang tetap mengaduk adonan dengan harapan dagangannya laku. Tentang bapak-bapak yang membuka lapak sejak pagi, meski belum tentu ada pembeli. Tentang ikhtiar yang tidak pernah berhenti, sekalipun keadaan terasa sempit.</p><p>Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/04/1169ec83721c0a9.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="307448" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 25 Apr 2026 09:04:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Milad ke&amp;113 Muhammadiyah: Momentum Menyalakan Kembali Bara Pemuda di Ranting Muhammadiyah</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/milad-ke-113-muhammadiyah-momentum-menyalakan-kembali-bara-pemuda-di-ranting-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/milad-ke-113-muhammadiyah-momentum-menyalakan-kembali-bara-pemuda-di-ranting-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Momentum Milad ke-113 tahun Muhammadiyah menjadi saat yang tepat untuk kembali menengok peran pemuda di tingkat ranting, ruang yang terdekat dengan masyarakat sekaligus pondasi gerakan Persyarikatan. Namun, di banyak tempat, semangat pemuda justru mulai meredup dan tidak sekuat dulu. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Momentum Milad ke-113 tahun Muhammadiyah menjadi saat yang tepat untuk kembali menengok peran pemuda di tingkat ranting, ruang yang terdekat dengan masyarakat sekaligus pondasi gerakan Persyarikatan. Namun, di banyak tempat, semangat pemuda justru mulai meredup dan tidak sekuat dulu.</p><p>Keaktifan organisasi berkurang, jiwa kerelawanan belum tumbuh optimal, proses regenerasi sering tersendat, dan sebagian kader muda harus pindah domisili demi pendidikan atau pekerjaan. Kondisi ini membuat ranting kehilangan energi baru yang seharusnya menjadi penggerak utamanya. Kegelisahan yang saya rasakan ini tampaknya juga dialami oleh banyak saudara di ranting lain.</p><p>Karena itu, sangat penting bagi kader Muhammadiyah yang kini berada pada level kepemimpinan di atas ranting untuk kembali melakukan turba (turun ke bawah). Dengan melihat langsung kondisi ranting, potensi kader muda bisa dibaca lebih jelas dan regenerasi dapat dijaga agar tidak terputus. Hubungan antara senior dan pemuda juga harus terus diperkuat, supaya tidak muncul jarak yang dapat melemahkan dinamika gerakan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/11691befc850ad6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="120024" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 18 Nov 2025 11:02:44 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Sapu&amp;sapu dan Kesejahteraan Hewan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/sapu-sapu-dan-kesejahteraan-hewan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/sapu-sapu-dan-kesejahteraan-hewan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Saat ini sedang ramai, pemburuan besar-besaran ikan yang dikenal menjadi hama bagi ekosistem sungai. Di sisi lain, ahli agama juga ikut komentar tentang pembunuhan hewan besar-besaranyang dipandang tidak sejalan dengan prinsip Islam.Mengenal si Sapu-sapu ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Saat ini sedang ramai, pemburuan besar-besaran ikan yang dikenal menjadi hama bagi ekosistem sungai. Di sisi lain, ahli agama juga ikut komentar tentang pembunuhan hewan besar-besaranyang dipandang tidak sejalan dengan prinsip Islam.</p><h4>Mengenal si Sapu-sapu</h4><p>Ikan sapu-sapu, yang umumnya masuk ke genus <em>Pterygoplichthys</em> dan ada juga <em>Hypostomus</em>, mereka masuk ke dalam ordo <em>Siluriformes</em>, ordo yang mencakup ikan-ikan yang mempunyai sungut, termasuk Ikan patin, ikan manyung, dan ikan lele. Organ ini sejatinya disebut barbel yang berfungsi sebagai indra peraba atau sensor. Keunikan dari ikan ini adalah memakan alga, yang dapat membersihkan akuarium. Maka, mungkin di antara kita yang memelihara ikan, pasti pernah memasukkan ikan sapu-sapu untuk menjadi ikan pembersih.</p><p>Masalah terjadi saat kita menyalurkan apresiasi dan rasa sayang ke ikan sapu-sapu, tapi tidak menggunakan ilmu. Tidak tercatat berapa banyak orang yang melepaskan ikan sapu-sapu ke Sungai, namun nyatanya, ikan sapu-sapu ini akhirnya menjadi penguasa sungai di Indonesia. Ikan asli Amerika Selatan ini bersifat invasif, karena dengan ketahanannya yang luar biasa, dan hampir bisa memakan apapun, termasuk memakan telur ikan asli Indonesia.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/04/1169eb257dbabc3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="45390" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 24 Apr 2026 08:10:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Di Mata Anak Muda, Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/di-mata-anak-muda-muhammadiyah-bukan-sekadar-organisasi</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/di-mata-anak-muda-muhammadiyah-bukan-sekadar-organisasi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Di tengah dunia yang bergerak cepat, ketika perhatian anak muda mudah berpindah dan kepercayaan terhadap institusi semakin menipis, Muhammadiyah justru masih berdiri dengan daya tarik yang tidak kecil. Ini bukan sesuatu yang biasa. Banyak organisasi besar kehilangan relevansinya di mata generasi baru. Tetapi Muhammadiyah tampaknya tetap punya daya pikat. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Di tengah dunia yang bergerak cepat, ketika perhatian anak muda mudah berpindah dan kepercayaan terhadap institusi semakin menipis, Muhammadiyah justru masih berdiri dengan daya tarik yang tidak kecil. Ini bukan sesuatu yang biasa. Banyak organisasi besar kehilangan relevansinya di mata generasi baru. Tetapi Muhammadiyah tampaknya tetap punya daya pikat.</p><p>Laporan survei yang diterbitkan Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahamd Dahlan (UAD) berjudul Muhammadiyah di Mata Anak Muda memberi gambaran yang menarik sekaligus menggugah. Sebanyak 91 persen responden menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari itu, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya untuk isu-isu terkini, 89,3 persen menilai Muhammadiyah sebagai pemersatu bangsa, 87,3 persen melihatnya sebagai panutan dalam isu politik nasional, dan 82,6 persen menilai pejabat publik dari Muhammadiyah memiliki kinerja yang baik. Angka-angka ini menunjukkan satu hal penting: Muhammadiyah tidak hanya dikenal, tetapi juga dipercaya. Namun yang lebih menarik bukan sekadar besarnya angka-angka itu, melainkan alasan di baliknya.</p><p>Anak muda hari ini ternyata tidak (terutama) mengenang Muhammadiyah dari simbol-simbol keagamaan yang sering diperdebatkan. Mereka tidak mengingat Muhammadiyah dari urusan ritual yang kerap menjadi identitas publiknya. Yang paling menonjol justru hal-hal yang konkret: 44,1 persen responden mengingat Muhammadiyah sebagai lembaga yang memiliki sekolah dan kampus berkualitas, dan 42,3 persen sebagai organisasi Islam modern dan rasional. Sementara itu, hal-hal yang sering dilekatkan secara populer seperti “puasa/lebaran duluan” hanya disebut oleh 17,1 persen responden, dan “tarawih 11 rakaat” hanya 3,5 persen.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/04/1169d09c9507729.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="29475" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 05:07:56 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Arsjad Rasjid: Disrupsi AI dan Pengangguran Jadi Alarm bagi Perguruan Tinggi</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/arsjad-rasjid-disrupsi-ai-dan-pengangguran-jadi-alarm-bagi-perguruan-tinggi</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/arsjad-rasjid-disrupsi-ai-dan-pengangguran-jadi-alarm-bagi-perguruan-tinggi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ YOGYA - Tingginya angka pengangguran nasional di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau _artificial intelligence_ (AI) dinilai sebagai peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi. Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus segera bertransformasi agar tidak terus melahirkan lulusan yang terputus dari kebutuhan industri dan dinamika dunia kerja. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>YOGYA</strong> - Tingginya angka pengangguran nasional di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau _artificial intelligence_ (AI) dinilai sebagai peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi. Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus segera bertransformasi agar tidak terus melahirkan lulusan yang terputus dari kebutuhan industri dan dinamika dunia kerja.</p><p></p><p>Pernyataan tersebut disampaikan Arsjad dalam Kuliah Umum bertajuk “Membangun Iklim Entrepreneurship untuk Kemajuan Bangsa melalui Dunia Usaha” yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Senin (15/12) di _Ballroom Student Dormitory_ UMY.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/12/116941360351b74.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="89775" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 16 Dec 2025 17:36:08 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>M. Fajrul Falaq</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Akar Rumput Hadapi Penetrasi, Infiltrasi, dan Kompetisi Ideologi: Saatnya Turun Tangan Bukan Urun Angan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/akar-rumput-hadapi-penetrasi-infiltrasi-dan-kompetisi-ideologi-saatnya-turun-tangan-bukan-urun-angan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/akar-rumput-hadapi-penetrasi-infiltrasi-dan-kompetisi-ideologi-saatnya-turun-tangan-bukan-urun-angan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Agus Yuliyanto, S.Pd., M.Pd.* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Agus Yuliyanto, S.Pd., M.Pd.*</strong></p><p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Muhammadiyah sebagai organisasi yang telah berusia 113 tahun tentu telah melalui berbagai badai dan gelombang ujian. Merujuk peristiwa sejarah selama Muhammadiyah berdiri ada beberapa kejadian yang membuat Muhammadiyah harus bersikap, salah satu contohnya ketika Muhammadiyah mencetuskan Kepribadian Muhammadiyah.</p><p>Permasalahan yang dihadapi Muhammadiyah era akhir-akhir ini adalah penetrasi, infiltrasi, dan kompetisi ideologi gerakan lain. Inti pokok permasalahan ini adalah masuknya ideologi gerakan lain ke dalam Muhammadiyah yang dilakukan secara halus, sistematis, dan terstruktur yang mengganggu Persyarikatan Muhammadiyah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/1169174d8ce1b5a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="913437" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 14 Nov 2025 22:41:25 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Gerakan Ekonomi Muhammadiyah: Pilar Kemandirian Umat dan Pembangunan Bangsa</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/gerakan-ekonomi-muhammadiyah-pilar-kemandirian-umat-dan-pembangunan-bangsa</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/gerakan-ekonomi-muhammadiyah-pilar-kemandirian-umat-dan-pembangunan-bangsa</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Dr. Riduwan* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong><span lang="EN-US">Oleh: Dr. Riduwan*</span></strong></p><p><span lang="EN-US">Milad ke-113 Muhammadiyah yang resepsinya digelar di Bandung mengusung tema, “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Dalam pidato iftitahnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si, menyampaikan pentingnya transformasi Muhammadiyah. Pidato inspiratif tersebut semestinya mampu diterjemahkan ke dalam agenda aksi gerakan atau program kerja yang bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia, salah satunya adalah gerakan ekonomi Muhammadiyah.<o:p></o:p></span></p><p><span lang="EN-US">Gerakan Ekonomi merupakan salah satu pilar penting dalam misi besar Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Selain fokus pada dakwah keagamaan, pendidikan, dan kesehatan, Muhammadiyah menyadari bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi penting bagi umat dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional dan percaturan global. Melalui berbagai instrumen organisasi dan amal usaha, gerakan ekonomi ini berkembang menjadi kekuatan produktif yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.</span><span lang="EN-US"><o:p></o:p></span></p><h4><span lang="EN-US">Landasan Pemikiran Gerakan Ekonomi Muhammadiyah</span><span lang="EN-US"><o:p></o:p></span></h4> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/11691bf3a6436ae.png?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="9200666" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 18 Nov 2025 11:19:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Untuk AUM Kita, Saatnya Turun Tangan, Bukan Hanya Urun Angan, Apalagi Agkat Tangan!</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/untuk-aum-kita-saatnya-turun-tangan-bukan-hanya-urun-angan-apalagi-agkat-tangan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/untuk-aum-kita-saatnya-turun-tangan-bukan-hanya-urun-angan-apalagi-agkat-tangan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Agus Yuliyanto, S.Pd., M.Pd. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Agus Yuliyanto,</strong> <strong>S.Pd., M.Pd.</strong></p><p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Pasca selesainya bimbingan teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam Region Gorontalo, saya berkesempatan mengunjungi MI Muhammadiyah Unggulan Gorontalo pada hari Senin 10 November 2025. Kali pertama menginjakan kaki di madrasah ini, suasana madrasah unggulan sudah terlihat jelas. Para guru menyambut tamu dengan prinsip <em>falyukrim ḍayfahu</em> dan wajah murid sangat ceria dan menikmati proses belajar. </p><p>Madrasah ini memiliki lebih dari lima ratus murid, tentu ini sebuah prestasi yang layak kita apresiasi bersama. Kontribusi Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Komite Madrasah, dan Majelis Dikdasmen turut andil dalam memajukan madrasah ini. Kalau kita berkolaborasi dalam mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti sekolah ini, pastinya sekolah/madrasah kita akan semakin berkembang dan seyogyanya akan menjadi pilihan utama masyarakat. MI Muhammadiyah Gorontalo telah menjadi buktinya.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/11691853ad6e2d2.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="177060" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 17:19:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Tekanan Akademik Dan Goresan Luka Tak Kasat Mata</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/tekanan-akademik-dan-goresan-luka-tak-kasat-mata</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/tekanan-akademik-dan-goresan-luka-tak-kasat-mata</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p></p><p><em><strong>*Penulis adalah tim magang mediamu dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan</strong></em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/11690e0f52211f2.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17781" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 07 Nov 2025 22:25:17 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Guru Tetap Diperlukan di Tengah Krisis Moral Siswa</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/guru-tetap-diperlukan-di-tengah-krisis-moral-siswa</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/guru-tetap-diperlukan-di-tengah-krisis-moral-siswa</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ *Penulis adalah mahasiswa magang prodi Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong><em>*Penulis adalah mahasiswa magang prodi Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan</em></strong></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168f85a8d1973e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="97636" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 24 Oct 2025 23:46:25 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Polemik Tayangan Trans 7 dan Bagaimana Seharusnya Kita Merespons</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/polemik-tayangan-trans-7-dan-bagaimana-seharusnya-kita-merespons</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/polemik-tayangan-trans-7-dan-bagaimana-seharusnya-kita-merespons</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ *penulis adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>*penulis adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan</strong></em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/12868fb31f696d05.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="48550" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 24 Oct 2025 11:35:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Buku, Si Jendela Dunia yang Membentuk Cara Pandang Manusia</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/buku-si-jendela-dunia-yang-membentuk-cara-pandang-manusia</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/buku-si-jendela-dunia-yang-membentuk-cara-pandang-manusia</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><b id="docs-internal-guid-6ae09597-7fff-882e-68ed-f2a848b06f5c"><br><br></b></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168fb2de280c03.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="27542" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 24 Oct 2025 14:43:27 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                                    <item>
                    <title>Mendesak Pemeriksaan Mendalam Standar Sanitasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/mendesak-pemeriksaan-mendalam-standar-sanitasi-program-makan-bergizi-gratis-mbg</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/mendesak-pemeriksaan-mendalam-standar-sanitasi-program-makan-bergizi-gratis-mbg</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168fafbc0cf1b9.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="147270" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 24 Oct 2025 11:09:04 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Keputusan Terlambat PSSI dan Akhir Era Patrick Kluivert</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/keputusan-terlambat-pssi-dan-akhir-era-patrick-kluivert</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/keputusan-terlambat-pssi-dan-akhir-era-patrick-kluivert</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/11668faf7f37eed6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="29201" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 24 Oct 2025 10:53:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Meretas Jejak Kader Unggul Al&amp;Mujahidin Untuk Muhammadiyah di Masa Depan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/meretas-jejak-kader-unggul-al-mujahidin-untuk-muhammadiyah-di-masa-depan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/meretas-jejak-kader-unggul-al-mujahidin-untuk-muhammadiyah-di-masa-depan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/11468f39e1ee3992.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="286504" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 21 Oct 2025 11:18:33 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ): Jalan Perkaderan Kultural Muhammadiyah</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/gerakan-jamaah-dakwah-jamaah-jalan-perkaderan-kultural-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/gerakan-jamaah-dakwah-jamaah-jalan-perkaderan-kultural-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis yang telah berkiprah lebih dari satu abad dikenal berhasil mengusung misi dakwah dan tajdid (pembaruan). Manifestasi keberhasilannya paling nyata tampak melalui dakwah bil hal yang diwujudkan lewat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Namun, keberlangsungan dan relevansi gerakan ini sejatinya sangat bergantung pada denyut nadi di akar rumput di basis jamaah dan komunitas. Untuk menjaga fondasi tersebut tetap kokoh, Persyarikatan kemudian meluncurkan dan menginstitusionalisasikan Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ).Makna dan Tujuan GJDJ ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis yang telah berkiprah lebih dari satu abad dikenal berhasil mengusung misi dakwah dan tajdid (pembaruan). Manifestasi keberhasilannya paling nyata tampak melalui dakwah bil hal yang diwujudkan lewat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Namun, keberlangsungan dan relevansi gerakan ini sejatinya sangat bergantung pada denyut nadi di akar rumput di basis jamaah dan komunitas. Untuk menjaga fondasi tersebut tetap kokoh, Persyarikatan kemudian meluncurkan dan menginstitusionalisasikan Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ).</p><h3>Makna dan Tujuan GJDJ</h3><p>Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah merupakan strategi dakwah berbasis komunitas atau ranting, yang bertujuan menegakkan ajaran Islam sekaligus memberdayakan masyarakat, terutama kelompok dhu‘afa dan mustadh‘afin. Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, GJDJ merupakan upaya internalisasi nilai-nilai Islam secara komprehensif.</p><p>Pembinaannya tidak hanya menekankan pemahaman agama, tetapi juga menanamkan adab bermasyarakat dan semangat gotong royong. Dengan demikian, GJDJ memastikan nilai-nilai Islam terwujud dalam perilaku sosial kolektif (<em>hablum minannas</em>) yang kuat, hal yang sangat penting di tengah kompleksitas kehidupan modern, terutama di wilayah perkotaan.</p><h3>Akar Historis dan Genealogi Gerakan</h3> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168f650b328275.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="81583" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 20 Oct 2025 22:09:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>&amp;apos;Nyebat&amp;apos; Menurut Muhammadiyah: Menolak Klaim Pahala, Asap, dan Amal Jariyah yang Salah Alamat</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/nyebat-menurut-muhammadiyah-menolak-klaim-pahala-asap-dan-amal-jariyah-yang-salah-alamat</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/nyebat-menurut-muhammadiyah-menolak-klaim-pahala-asap-dan-amal-jariyah-yang-salah-alamat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/12868e1f17968db7.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="165326" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 05 Oct 2025 11:11:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Sensus Ekonomi 2026 dan Pertaruhan Masa Depan Kalsel: Potret, Peluang, atau Sekadar Angka</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/sensus-ekonomi-2026-dan-pertaruhan-masa-depan-kalsel-potret-peluang-atau-sekadar-angka</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/sensus-ekonomi-2026-dan-pertaruhan-masa-depan-kalsel-potret-peluang-atau-sekadar-angka</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Yogyakarta - Sensus Ekonomi 2026 yang akan digelar Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi momentum penting bagi Kalimantan Selatan. Melalui pendataan menyeluruh terhadap usaha, baik skala besar maupun UMKM, sensus ini diharapkan memberi gambaran nyata tentang arah dan masa depan ekonomi daerah. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Yogyakarta</strong> - Sensus Ekonomi 2026 yang akan digelar Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi momentum penting bagi Kalimantan Selatan. Melalui pendataan menyeluruh terhadap usaha, baik skala besar maupun UMKM, sensus ini diharapkan memberi gambaran nyata tentang arah dan masa depan ekonomi daerah.</p><p>Selama periode 2021–2025, ekonomi Kalsel mengalami dinamika cukup tajam. Pada 2021 pertumbuhan ekonomi tercatat 3,4 persen pascapandemi, meningkat menjadi 4,6 persen pada 2022, dan mencapai puncak 5,2 persen di 2023 berkat kenaikan harga batu bara. Namun, pada 2024 terjadi perlambatan ke 4,1 persen akibat melemahnya permintaan global, sementara 2025 diperkirakan hanya tumbuh sekitar 4,3 persen. Struktur ekonomi Kalsel masih didominasi sektor pertambangan sebesar 42 persen, diikuti perdagangan 28 persen, industri pengolahan 15 persen, dan sisanya sektor lain.</p><p>BPS menekankan bahwa tujuan utama Sensus Ekonomi 2026 adalah memotret kondisi usaha secara lengkap. Data yang dihasilkan akan menjadi dasar kebijakan diversifikasi ekonomi, penguatan UMKM, serta peningkatan sektor industri dan jasa agar tidak hanya bergantung pada komoditas tambang.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/09/1168d11a0f259fa.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="94215" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 22 Sep 2025 16:44:05 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>M. Fajrul Falaq</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        mediamu,
                                                                                                                                                                opini,
                                                                                                                                                                ekonomi,
                                                                                                                                                                aktual terpercaya,
                                                                                                                                                                ajtual mencerahkan,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Teruslah Berbicara Tentang Palestina</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/teruslah-berbicara-tentang-palestina</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/teruslah-berbicara-tentang-palestina</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Palestina, terus didera serangan dari Israel. Serangan tidak hanya menyasar tempat persembunyian pejuang Hamas tetapi juga sekolah, lokasi pengungsian bahkan rumah sakit. Ratusan warga, termasuk anak-anak menjadi korban. Serangan ini tidak saja melanggar kesepakatan gencatan senjata tetapi juga telah meniadakan nilai-nilai kemanusiaan.&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Palestina, terus didera serangan dari Israel. Serangan tidak hanya menyasar tempat persembunyian pejuang Hamas tetapi juga sekolah, lokasi pengungsian bahkan rumah sakit. Ratusan warga, termasuk anak-anak menjadi korban. Serangan ini tidak saja melanggar kesepakatan gencatan senjata tetapi juga telah meniadakan nilai-nilai kemanusiaan.&nbsp;</p><p>Seperti biasa, dunia hanya diam. Negeri-negeri Arab dan mayoritas berpenduduk muslim juga tidak kuasa. Media-media juga seperti sudah bosan mengabarkan. Apalagi para pembaca. Enggan memantau berita dari Palestina.</p><p>Tetapi, kita jangan sampai lelah berbicara tentang Palestina. Berjuang dengan sesuai kapasitas masing-masing. Jika bisa memboikot produk pendukung Israel mari kita lakukan. Jika bisa berdonasi untuk warga Palestina bisa dilakukan dengan menyalurkan melalui LazisMu atau lembaga terpercaya lainnya.&nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/04/1167f292ffb9349.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="377091" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 06 Apr 2025 21:44:40 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (7) : Tiga Ciri Kemakmuran Masjid</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-7-tiga-ciri-kemakmuran-masjid</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-7-tiga-ciri-kemakmuran-masjid</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(Surat At-Taubah ayat 18) ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.</em><br /><em>(Surat At-Taubah ayat 18)</em></p><p>Orang yang bisa memakmurkan masjid tidak sekadar mereka yang membangun masjid dengan kemegahan. Ukuran kemakmuran masjid bukan megah, besar atau bersihnya masjid. Tetapi seberapa banyak jamaah yang ikut salat di Masjid. Memakmurkan masjid dengan tolok ukur bangunan adalah ciri orang-orang musyrik.</p><p><em>&ldquo;Tidak (akan) terjadi hari kiamat, sampai orang-orang saling membanggakan masjidnya.&rdquo; (HR. Abu Daud, An-Nasa&rsquo;i,Ibnu Majah)</em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167d928110ecb6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="34332" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 26 Mar 2025 00:02:08 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Memaknai Kesetaraan Bagi Penyandang Disabilitas</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/memaknai-kesetaraan-bagi-penyandang-disabilitas</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/memaknai-kesetaraan-bagi-penyandang-disabilitas</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Manusia sejatinya merupakan ciptaan yang sempurna dan Tuhan menciptakannya dalam sebaik – baiknya bentuk, termasuk saudara kita penyandang disabilitas. Mereka juga ciptaan Tuhan yang sempurna, secara fisik mungkin ada perbedaan akan tetapi mereka memiliki keistimewaan dan kelebihannya tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain.Kesetaraan Hak Disabilitas  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Manusia sejatinya merupakan ciptaan yang sempurna dan Tuhan menciptakannya dalam sebaik – baiknya bentuk, termasuk saudara kita penyandang disabilitas. Mereka juga ciptaan Tuhan yang sempurna, secara fisik mungkin ada perbedaan akan tetapi mereka memiliki keistimewaan dan kelebihannya tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain.</p><h4>Kesetaraan Hak Disabilitas </h4><p>Penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama layaknya orang-orang pada umumnya, baik itu akses pendidikan, ibadah, fasilitas umum dan lainnya. Mereka berhak mendapatkan Pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun nonformal, karena melalui pilar ini mereka dapat memperbaharui ilmu pengetahuan dan <em>skill</em>, meluaskan wawasan, membangun <em>mindset</em> yang baik serta pola pikir yang benar. Tentunya hal ini perlu dipikirkan bersama untuk bisa memberikan kesempatan bagi teman-teman disabilitas agar dapat merasakan pendidikan yang layak sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas diri, tentu saja pendidikan yang mereka dapatkan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing – masing individu. </p><p>Dewasa ini sudah mulai muncul di ruang publik dari beberapa teman-teman disabilitas, sebut saja Putri Ariani, siapa yang tidak kenal penyanyi satu ini, suaranya yang luar biasa merdunya indah membuat orang yang mendengarnya tertegun takjub. Tidak hanya di kancah nasional Putri Ariani juga tampil di kancah internasional. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/07/11688a2ab1295d3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="843407" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 30 Jul 2025 21:23:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Tanah Tak Hanya Sekadar Aset Ekonomi, Tapi Juga Ruang Hidup</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/tanah-tak-hanya-sekadar-aset-ekonomi-tapi-juga-ruang-hidup</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/tanah-tak-hanya-sekadar-aset-ekonomi-tapi-juga-ruang-hidup</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Wangi Putri Ali* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Wangi Putri Ali*</strong></p><p>Konflik agraria di Indonesia tentu bukan cerita baru. Ini adalah masalah lama yang masih terus berulang hingga hari ini, mencerminkan bahwa sistem kita masih mengalami ketimpangan yang nyaris mengakar. Persoalan tanah tidak hanya terjadi di satu atau dua tempat, tetapi dapat kita temukan hampir di seluruh penjuru Indonesia.</p><p></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/07/1168880d67f3e9f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="62839" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 29 Jul 2025 06:53:47 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Catatan Pendidikan, Anehnya Orang Muhammadiyah</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/catatan-pendidikan-anehnya-orang-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/catatan-pendidikan-anehnya-orang-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Sebaris kata-kata dari Pak Suparyanto benar-benar menampar kesadaran saya tentang sekolah Muhammadiyah. Kata yang meluncur dari pejuang pendidikan sejati sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 1 Minggir kala itu. Ia bertahun-tahun mencoba mengangkat citra sekolah Muhammadiyah. Dulu muridnya tidak sampai dua ratus sampai kini berubah menjadi sekolah jujugan dengan murid lebih dari lima ratus. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Sebaris kata-kata dari Pak Suparyanto benar-benar menampar kesadaran saya tentang sekolah Muhammadiyah. Kata yang meluncur dari pejuang pendidikan sejati sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 1 Minggir kala itu. Ia bertahun-tahun mencoba mengangkat citra sekolah Muhammadiyah. Dulu muridnya tidak sampai dua ratus sampai kini berubah menjadi sekolah jujugan dengan murid lebih dari lima ratus.</p><p>"Ada orang yang mencibir, murid sekolah Muhammaadiyah kok merokok," urainya. Menurutnya pihak sekolah sudah berusaha untuk melarang murid merokok. Tetapi biasanya mereka merokok dari rumah. "Kami di sini melarang, tetapi mereka di rumah melihat Bapak mereka merokok," imbuh Pak Yanto</p><p>Ia mengungkapkan, banyak warga Muhammadiyah yang berharap agar sekolah Muhammadiyah menjadi sekolah unggulan. Punya prestasi mentereng. Hasil Unas bagus. Tetapi putra-putri para warga Muhammadiyah yang pintar dan tertib malah disekolahkan di sekolah umum. Sedang sekolah Muhammadiyah harus berjuang memenuhi kecukupan jumlah murid dengan mati-matian.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e0055e20707.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="11172" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 23 Mar 2025 19:59:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Risalah Islam Berkemajuan dan  Ikhtiar Mewujudkan Ekonomi Berkeadilan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/risalah-islam-berkemajuan-dan-ikhtiar-mewujudkan-ekonomi-berkeadilan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/risalah-islam-berkemajuan-dan-ikhtiar-mewujudkan-ekonomi-berkeadilan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Dr. Riduwan*Pendahuluan ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Oleh: Dr. Riduwan*</p><h4>Pendahuluan</h4><p>Keadilan ekonomi merupakan salah satu pilar penting dalam menciptakan tatanan masyarakat yang sejahtera, beradab, dan berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan, keadilan ekonomi tidak hanya sebatas pemerataan pendapatan, tetapi juga menyangkut akses yang setara terhadap sumber daya, kesempatan kerja, pendidikan, layanan kesehatan, serta perlindungan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak boleh ada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap berbagai sumber daya pembangunan yang tersedia. Dalam konteks itu, negara wajib hadir dan memastikan bahwa semua warga bangsa telah memiliki hak yang sama dalam program pembangunan nasional.</p><h4>Ekonomi Berkeadilan</h4><p>Ekonomi berkeadilan merupakan kondisi di mana distribusi sumber daya, kekayaan, dan kesempatan ekonomi berlangsung secara adil dan merata, tanpa diskriminasi dan eksploitasi. Masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang secara ekonomi dan mencapai kualitas hidup yang layak, tanpa adanya rasa takut atau tekanan pihak manapun. Aksesibilitas terbuka secara proporsional bagi semua anak bangsa, untuk mencapai kesejahteraan hidup, bagian dari proses menuju ekonomi berkeadilan.<br>Kondisi tersebut menuntut agar kekayaan tidak hanya terkonsentrasi di tangan segelintir orang  atau kelompok, tetapi tersebar secara adil agar semua warga bangsa dapat menikmatinya. Setiap individu, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau gender serta agama memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, dan peluang usaha. Disamping itu, negara wajib menyediakan jaring pengaman sosial, seperti bantuan sosial, asuransi kesehatan, dan perlindungan tenaga kerja, untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Masyarakat harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan ekonomi, baik melalui koperasi, organisasi masyarakat sipil, maupun partisipasi dalam pemerintahan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/07/1168720e949a0a1.png?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="3440999" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 12 Jul 2025 14:28:57 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masihkah Pimpinan dan Warga Muhammadiyah Memandang Seni Budaya Sebelah Mata?</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masihkah-pimpinan-dan-warga-muhammadiyah-memandang-seni-budaya-sebelah-mata1</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masihkah-pimpinan-dan-warga-muhammadiyah-memandang-seni-budaya-sebelah-mata1</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Jayadi, S.Pd.I., M.S.I.* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Oleh: Jayadi, S.Pd.I., M.S.I.*</strong></em></p><p>Pada dasarnya Muhammadiyah juga memiliki kepedulian terhadap seni budaya, dan Muhammadiyah mengambil dari sisi manfaat juga nilai-nilai Islami kebaikan dari seni budaya tersebut sebagai penyeimbang layaknya aspek kehidupan lain. Hanya saja masih banyak para pimpinan dan warga Muhammadiyah yang tidak memiliki konsen seni budaya, karena mungkin penilaiannya lebih tertuju pada aspek nilai-nilai ketidakbermanfaatan semata saja. </p><p>Seni dan budaya bisa menjadi arus utama syiar dakwah Muhammadiyah dengan tampilannya yang lebih elegan, egaliter dan empati pada sosial dakwah kemanusiaan. Bukti seni budaya di Muhammadiyah sebenarnya banyak, termasuk Mars Muhammadiyah, Mars Ortom, dan lainnya yang itu hasil dari seni budaya dalam hal kebaikan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/07/11686cd04a09491.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="44856" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 08 Jul 2025 15:02:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        seni budaya,
                                                                                                                                                                muhammadiyah,
                                                                                                                                                                tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Dari Sekolah ke Palestina: Antara Gelaja Egosentris Lembaga dan Menghidupkan Visi Peradaban</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/dari-sekolah-ke-palestina-antara-gelaja-egosentris-lembaga-dan-menghidupkan-visi-peradaban</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/dari-sekolah-ke-palestina-antara-gelaja-egosentris-lembaga-dan-menghidupkan-visi-peradaban</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Alvin Qodri Lazuardy* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Penulis: Alvin Qodri Lazuardy*</strong></p><p>Malam itu, SM Tower menjadi sebuah tempat pilihan atas sebuah diskusi yang semula saya kira akan berjalan seperti biasa: tentang pengelolaan sekolah, service excellent, dan strategi kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah. Saya hadir sebagai bagian dari Majelis Tarjih dan Tajdid, memenuhi panggilan Ustadz Fatin Hamam selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah. Tak ada ekspektasi berlebihan, kecuali menyimak, mencatat, dan membawa pulang satu dua hal baru untuk diterapkan. Namun siapa sangka, malam itu berubah menjadi titik balik dalam cara saya memahami arah perjuangan pendidikan Islam.</p><p>Pak Ghufron Mustaqim, tokoh IT yang akrab dengan startup Evermos dan kini menjadi bagian dari Sarekat Usaha Muhammadiyah (SUMU), tampil bukan sebagai teknokrat biasa. Di saat hadirin menanti paparan teknis tentang bagaimana mengelola sekolah unggul dengan pelayanan prima, beliau justru membuka layar dengan slide Masjidil Aqsa. Bukan sekadar gambar, tapi potongan sejarah. Bukan sekadar pembuka, melainkan pintu menuju visi yang lebih tinggi—tentang barokah, peradaban, dan tanggung jawab kolektif umat Islam atas Palestina.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/07/11686899bf31252.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="711121" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 05 Jul 2025 10:43:25 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        palestina,
                                                                                                                                                                opini                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menguatkan Persatuan: Jalan Panjang Muhammadiyah Menyatukan Umat dan Bangsa</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menguatkan-persatuan-jalan-panjang-muhammadiyah-menyatukan-umat-dan-bangsa</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menguatkan-persatuan-jalan-panjang-muhammadiyah-menyatukan-umat-dan-bangsa</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Yayan Suryana* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Oleh: Yayan Suryana*</strong></em></p><p>Salah satu dari dua belas langkah perjuangan yang dirumuskan oleh KH. Mas Mansur adalah menguatkan persatuan. Langkah ini bukan hanya cita-cita teoritis, tetapi telah menjadi denyut nadi gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya hingga kini. Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang pentingnya persatuan, tetapi secara aktif mewujudkannya dalam berbagai bidang kehidupan.</p><p>Persatuan bagi Muhammadiyah bukan semata-mata strategi sosial, tetapi merupakan ajaran Islam yang fundamental: <em>inna hādihi ummatukum ummatan wāhidan</em> &ndash; umat ini adalah umat yang satu (QS. Al-Anbiya: 92).</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/06/11683ea01b2896d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17924" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 03 Jun 2025 14:11:49 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (10) : Beragam Layanan Ramah untuk Lansia</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-10-beragam-layanan-ramah-untuk-lansia</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-10-beragam-layanan-ramah-untuk-lansia</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Ketika lansia sepi di rumah, tidak ada yang diajak berbincang. Masjid menjadi tujuan, tetapi ketika datang ke masjid, masjidnya masih gelap, masih dikunci, tidak ada yang melayani. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Ketika lansia sepi di rumah, tidak ada yang diajak berbincang. Masjid menjadi tujuan, tetapi ketika datang ke masjid, masjidnya masih gelap, masih dikunci, tidak ada yang melayani.</em></p><p><strong><em>Ustaz HM. Jazir, ASP.</em></strong></p><p></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167d928110ecb6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="34332" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 10 Apr 2025 13:26:55 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hari Raya Idul Fitri dengan Pelukan Keluarga yang Hangat</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menyambut-hari-raya-idul-fitri-dengan-pelukan-keluarga-yang-hangat</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menyambut-hari-raya-idul-fitri-dengan-pelukan-keluarga-yang-hangat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ 🤝Salam Ta&#039;zhim dari Keluarga Kami

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم  

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ  

Dengan hati yang lapang, keluarga Nashrul Mu&#039;minin di Lamongan selaku Content writer Yogyakarta mengulurkan tangan:  

🤝&quot;Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.&quot;🤝

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur:22:  

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

&quot;Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/12867ea4396365a4.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="46627" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 31 Mar 2025 14:45:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <media:keywords>Idul Fitri, Pelukan Hangat Orangtua</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Idulfitri: Momentum Silaturrahmi dan Rekonsiliasi</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/idulfitri-momentum-silaturrahmi-dan-rekonsiliasi</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/idulfitri-momentum-silaturrahmi-dan-rekonsiliasi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ oleh: Sapto Suhendro, S.Ag., M.Pd. (Ketua PDM Pemalang) ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>oleh: Sapto Suhendro, S.Ag., M.Pd. (Ketua PDM Pemalang)</p><p><em>Mudiknya Lebaran di mana-mana</em><br /><em>Pulang ke kampung amatlah bermakna</em><br /><em>Meskipun jauh ditempuhnya juga</em><br /><em>Jangan paksakan diri</em></p><p><em>Makanlah ketupat rasanya nikmat</em><br /><em>Bermaaf-maafan, bersihkan dosa</em><br /><em>Janganlah lupakan yang tidak mampu</em><br /><em>Agar semua gembira</em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e9cbd59e3a3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="113740" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 31 Mar 2025 05:58:29 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/cara-menumbuhkan-minat-baca-anak</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/cara-menumbuhkan-minat-baca-anak</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Mengetahui Betapa Pentingnya Membaca ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong><em>Mengetahui Betapa Pentingnya Membaca</em></strong></p><p>Para peneliti di <em>The Institute of Education</em> Inggris, menemukan bahwa anak yang sejak kecil dibacakan cerita dari buku-buku memiliki kemampuan menyerap pelajaran lebih baik. Anak tersebut juga memiliki kosakata yang lebih banyak dan kemampuan berhitung di atas rata-rata.</p><p>Mereka meneliti sekitar 8.000 anak selama satu tahun. Dalam penelitian itu didapat kesimpulan, bahwa membacakan buku kepada anak setiap hari sangat berkorelasi dengan kemampuan kognitif dan perilaku positif pada anak usia lima tahun.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e71e9522ade.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="-1" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 29 Mar 2025 05:12:54 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (9) : Salat dan Zakat, Dua Pusaka Umat</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-9-salat-dan-zakat-dua-pusaka-umat</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-9-salat-dan-zakat-dua-pusaka-umat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Kalau mau melihat orang muslim, lihatlah di waktu salat Jumat. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Kalau mau melihat orang muslim, lihatlah di waktu salat Jumat.</em></p><p><em>Kalau mau melihat orang mukmin, lihatlah di waktu subuh.</em></p><p><em></em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e6b071f00f0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="13542" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 28 Mar 2025 21:25:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        salat dan zakat,
                                                                                                                                                                memakmurkan jamaah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Berbakti Kepada Ibu, Kunci Kebahagiaan Hidup</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/berbakti-kepada-ibu-kunci-kebahagiaan-hidup</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/berbakti-kepada-ibu-kunci-kebahagiaan-hidup</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Jahimah As Salami mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, &ldquo;Wahai Rasulullah, saya ingin mengikuti peperangan.&rdquo; Nabi bertanya, &ldquo;Apakah ibumu masih ada?&rdquo; Ia menjawab, &ldquo;Ya&rdquo; Rasulullah berkata, &ldquo;Layanilah ia karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.&rdquo; (HR. An Nasai) ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Jahimah As Salami mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, &ldquo;Wahai Rasulullah, saya ingin mengikuti peperangan.&rdquo; Nabi bertanya, &ldquo;Apakah ibumu masih ada?&rdquo; Ia menjawab, &ldquo;Ya&rdquo; Rasulullah berkata, &ldquo;Layanilah ia karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.&rdquo; (HR. An Nasai)</p><p>Hadits tersebut menunjukan bagaimana mulianya kedudukan seorang ibu. Seorang anak diperintahkan untuk berbakti kepada ibunya. Tanpa itu, mustahil surga akan teraih.</p><p>Inti dari hadits itu juga senada dengan perintah penghormatan anak kepada ibunya sebanyak tiga kali lipat sebelum penghormatan kepada seorang ayah. Karena ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seorang anak. Sejak di dalam kandungan hingga beranjak dewasa seorang anak memiliki ketergantungan akan peran ibu. Hingga biasanya anak memiliki kedekatan emosional lebih besar kepada ibunya ketimbang kepada ayahnya.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e56dbc5825c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="263002" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 27 Mar 2025 22:25:33 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bantuan Gratis dan Kemandirian yang Terkikis</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/bantuan-gratis-dan-kemandirian-yang-terkikis</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/bantuan-gratis-dan-kemandirian-yang-terkikis</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Saya datang selepas siang. Membawa satu paket bahan pokok hasil donasi dari kawan-kawan. Isinya memang tidak seberapa, hanya berupa beras, dan mi instan. Saat itu, sebut saja Mbah Pawiro (usia lebih 60 tahun), sedang makan. Dengan menggunakan piring seng. Sepintas saya lihat tidak ada lauk dan nyaris tanpa sayur. Hanya terlihat kuah. Ia tinggal &nbsp;berdua dengan anak perempuannya. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Saya datang selepas siang. Membawa satu paket bahan pokok hasil donasi dari kawan-kawan. Isinya memang tidak seberapa, hanya berupa beras, dan mi instan. Saat itu, sebut saja Mbah Pawiro (usia lebih 60 tahun), sedang makan. Dengan menggunakan piring seng. Sepintas saya lihat tidak ada lauk dan nyaris tanpa sayur. Hanya terlihat kuah. Ia tinggal &nbsp;berdua dengan anak perempuannya.</p><p><br />Dengan kondisi yang sudah lanjut usia, Mbah Pawiro tidak mau berdiam diri. Ia masih berusaha bekerja dengan menganyam mendong (rumput bahan anyaman) untuk dibuat tikar. Meskipun kebutuhan tikar mendong terus menurun, tetapi sebagian masyarakat masih menjadi perajin tikar mendong. Kecamatan Minggir Sleman DIY, memang telah lama dikenal sebagai sentra produksi mendong. Bahkan dijual sampai Tasikmalaya Jawa Barat. Namun kehadiran produk berbahan plastik telah mengalahkan pamor tikar mendong.</p><p><br />Kegigihan Mbah Pawiro yang tetap bekerja meskipun sudah renta adalah potret dari kegigihan nenek moyang kita dalam berusaha. Bagi mereka membanting tulang dan memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan hidup ada sebuah kehormatan. Jiwa kemandirian mereka telah teruji. Lebih baik menahan lapar daripada harus meminta-minta.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/12867d56886bbea0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="25904" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 15 Mar 2025 18:47:12 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (8) : Kaderisasi dengan Nasi dan Nasihat</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-8-kaderisasi-dengan-nasi-dan-nasihat</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-8-kaderisasi-dengan-nasi-dan-nasihat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Di antara ciri khas pelayanan di Masjid Jogokariyan ialah terjemah dari lafaz azan. Hayya 'alashalah, hayya 'alal falah. Marilah shalat, marilah menuju kemenangan. Ustaz Jazir menerjemahkan hayya 'alal falah juga berarti kebahagiaan. Maka orang-orang yang salat di Masjid Jogokariyan langsung dibahagiakan. Dengen memberikan fasilitas layanan yang memadai. Menyediakan kopi selepas subuh di hari Ahad, atau makanan jumat berkah selepas salat Jumat. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Di antara ciri khas pelayanan di Masjid Jogokariyan ialah terjemah dari lafaz azan. Hayya 'alashalah, hayya 'alal falah. Marilah shalat, marilah menuju kemenangan. Ustaz Jazir menerjemahkan hayya 'alal falah juga berarti kebahagiaan. Maka orang-orang yang salat di Masjid Jogokariyan langsung dibahagiakan. Dengen memberikan fasilitas layanan yang memadai. Menyediakan kopi selepas subuh di hari Ahad, atau makanan jumat berkah selepas salat Jumat.</p><p>Tidak hanya sampai di situ, bagi generasi muda saat ini kebutuhan akses internet merupakan sesuatu yang penting. Maka takmir Masjid Jogokariyan menyediakan akses wifi secara gratis. Agar bisa dimanfaatkan para pemuda yang datang ke masjid. Beragam layanan tersebut dilakukan agar mereka betah ke masjid. Dalam rapat-rapat atau kegiatan juag disediakan makanan.</p><p>"Anak muda itu doyan nasi, tetapi tidak doyan nasihat," terang Ustaz Jazir.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/12867d5ab414c209.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="20631" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 27 Mar 2025 06:41:59 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menumbuhkan Semangat Berbagi di Bulan Ramadan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menumbuhkan-semangat-berbagi-di-bulan-ramadan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menumbuhkan-semangat-berbagi-di-bulan-ramadan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Ramadan menjadi saat yang tepat untuk saling berbagi. Suatu ketika, Abu Bakar, mendatangi seorang perempuan Yahudi tunanetra. Ia memberikan makanan. Tetapi perempuan itu merasa aneh. Karena cara menyuapinya berbeda dari orang yang biasa datang kepadanya. Ia bercerita bahwa biasanya orang yang menyuapinya dengan lembut. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Ramadan menjadi saat yang tepat untuk saling berbagi. Suatu ketika, Abu Bakar, mendatangi seorang perempuan Yahudi tunanetra. Ia memberikan makanan. Tetapi perempuan itu merasa aneh. Karena cara menyuapinya berbeda dari orang yang biasa datang kepadanya. Ia bercerita bahwa biasanya orang yang menyuapinya dengan lembut.</p><p><br />Abu Bakar lantas menerangkan, jika orang yang selama ini menyuapi adalah Rasulullah Muhammad SAW. yang telah tiada sehingga Abu Bakar yang menggantikan. Mendengar kabar tersebut, perempuan itu tiba-tiba menangis. Ia tidak menyangka jika orang yang selama ini menyuapinya adalah orang yang selama ini sering ia hina.</p><p><br />Betapa mulia akhlak Rasulullah SAW. ia tetap berbagi kepada orang yang selama ini menghina. Keteladanan Rasulullah itu patut untuk dicontoh. Agar kita bisa berbagi kepada siapapun, terutama yang membutuhkan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167d5475a908d3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="114410" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 15 Mar 2025 16:50:27 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Matahari dari Barat (2) : Memahat Kemanfaatan Bagi Semesta</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/matahari-dari-barat-2-memahat-kemanfaatan-bagi-semesta</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/matahari-dari-barat-2-memahat-kemanfaatan-bagi-semesta</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pada titik akhir kemanfaatanlah nilai kehidupan manusia ditentukan. Kemanfaatan yang tidak hanya tersemat dalam diri, namun meruah kepada keluarga, masyarakat dan semesta. Ia menjadi tanda syukur atas karunia Allah yang melimpah. Ia sebagai wujud tugas kekhalifahan di bumi. Lalu lewat kemanfaatan itu pula manusia mencapai derajat khairunnas, insan terbaik. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pada titik akhir kemanfaatanlah nilai kehidupan manusia ditentukan. Kemanfaatan yang tidak hanya tersemat dalam diri, namun meruah kepada keluarga, masyarakat dan semesta. Ia menjadi tanda syukur atas karunia Allah yang melimpah. Ia sebagai wujud tugas kekhalifahan di bumi. Lalu lewat kemanfaatan itu pula manusia mencapai derajat khairunnas, insan terbaik.</p><p>Cukuplah berdiam di Gua Hira&rsquo;, maka tidak akan ada kebencian dari orang-orang kafir. Tetaplah bersembahyang di dalam rumah, maka kaum Quraisy tak akan mengusir. Diamlah, dan lupakan kalimat, &lsquo;Ahad, Ahad, Ahad&rsquo; maka tak akan ada lagi siksaan dari majikan, Umayah bin Khalaf. Tapi itu tak akan pernah menjadi pilihan pribadi-pribadi agung umat ini. Muhammad Saw, Abu Bakar ash Shidiq dan Bilal bin Rabah. Setelah kebenaran menghunjam di hati, ada kerja yang harus dijalankan agar ia memberi kemanfaatan bagi semesta.</p><p><em>&ldquo;Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.&rdquo; (Ibrahim [14]: 24-25)</em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e3b3941f862.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="109140" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 26 Mar 2025 14:58:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Mengajarkan Islam dengan Keteladanan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/mengajarkan-islam-dengan-keteladanan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/mengajarkan-islam-dengan-keteladanan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Dari Jarir bin Abdullah, &ldquo;Pada suatu siang sewaktu kami berada di sisi Rasulullah Saw., datanglah sekelompok manusia telanjang berkemul kain shuf tebal berlubang dari kepala mereka dan bersenjata pedang, umumnya dari suku Mudlar. Melihat mereka berubahlah wajah Rasululllah SAW., dan sesudah masuk ke rumah, tidak lama keluar menyuruh Bilal adzan dan iqamat, sehabis sholat beliau berkhutbah, isi khutbhanya diawali dengan ayat 1 An-Nisaa&rsquo; dan ayat 18 surat Al-Hasyr, seseorang besedekah uang emas peraknya, pakaian, dan gandum atau kurmanya, atau sekalipun hanya separoh biji kurma. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Dari Jarir bin Abdullah, &ldquo;Pada suatu siang sewaktu kami berada di sisi Rasulullah Saw., datanglah sekelompok manusia telanjang berkemul kain shuf tebal berlubang dari kepala mereka dan bersenjata pedang, umumnya dari suku Mudlar. Melihat mereka berubahlah wajah Rasululllah SAW., dan sesudah masuk ke rumah, tidak lama keluar menyuruh Bilal adzan dan iqamat, sehabis sholat beliau berkhutbah, isi khutbhanya diawali dengan ayat 1 An-Nisaa&rsquo; dan ayat 18 surat Al-Hasyr, seseorang besedekah uang emas peraknya, pakaian, dan gandum atau kurmanya, atau sekalipun hanya separoh biji kurma.</p><p>&nbsp;Lalu datanglah seorang pria Anshar membawa pundi-pundi besar yang sangat berat, yang hampir tiada terangkat olehnya. Dan hal itu diikuti oleh beberapa sahabat lainnya, sehingga terlihatlah dua gunduk makanan dan pakaian, melihat yang demikian wajah beliau Saw berseri-seri, seraya bersabda; &lsquo;Barangsiapa merintis jalan kebaikan dalam Islam, berarti ia memperoleh pahala (sendiri) dan pahala orang-orang yang mengikuti jalan kebaikan tersebut dengan tiada mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan sebaliknya barang siapa memulai berbuat jahat dalam Islam, berarti memikul dosa (sendiri) ditambah semua dosa orang-orang yang menirukan kejahatannya dengan tiada mengurangi dosa mereka sedikitpun.&rdquo; (HR. Muslim)</p><p>Salah satu kunci sukses dakwah Rasulullah adalah keteladanan. Dalam berdakwah beliau lebih mengedepankan dakwah bil hal atau keteladanan. Setiap kali beliau memerintahkan kepada para sahabat untuk melaksanakan suatu amalan maka Rasulullah-lah yang pertamakali melaksanakan. Sikap demikian tentu akan lebih efektif untuk mengajak dalam kebaikan, karena apa yang telah beliau perbuat dapat menjadi panutan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e365394870a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="245769" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 26 Mar 2025 09:26:04 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Memaksimalkan Media Sosial dalam Digital Branding Amal Usaha Muhammadiyah</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/memaksimalkan-media-sosial-dalam-digital-branding-amal-usaha-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/memaksimalkan-media-sosial-dalam-digital-branding-amal-usaha-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Eko Triyanto ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Oleh: Eko Triyanto</em></p><p>Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) perlu mengakomodir perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Arus informasi yang begitu deras tak mungkin lagi untuk dibendung. Bahkan kini setiap saat bisa masuk ke area privat tanpa perlu otorisasi. Maka sudah sepantasnya AUM berbenah sehingga bisa memaksimalkan teknologi yang ada, khususnya media sosial untuk melakukan digital branding.</p><p>Sejak aplikasi komunikasi serba bisa Whatsapp (WA) hadir, arus &nbsp;informasi semakin tidak terbendung. Kehadiran WA berimbas pada menurunnya minat publik untuk mencari informasi yang bersumber dari media resmi seperti website instansi. Secara akurasi, informasi dan data yang disajikan melalui aplikasi semisal WA sangat sulit untuk terverifikasi. Ini menjadi tantangan baru bagi para punggawa humas atau pelaku public relation.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167e2d2ac959d5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="141559" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 25 Mar 2025 23:00:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menjadi Keluarga Allah di Bumi</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/menjadi-keluarga-allah-di-bumi</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/menjadi-keluarga-allah-di-bumi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Ini bedanya, generasi sahabat dengan kita-kita di masa kini. Waktu itu Arabdikenal memiliki peradaban jahiliyah, bodoh, keji dan banyak tindakan yang tidakberprikemanusiaan. Tapi setelah diturunkan Al Quran, terjadi revolusi peradabanyang luar biasa. Mereka berubah dari sebuah daerah yang dibayang-bayangi duaimperium raksasa Persia dan Romawi, menjadi bangsa yang disegani. Kekuatanmereka ada pada Al Quran, kuncinya: ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Ini bedanya, generasi sahabat dengan kita-kita di masa kini. Waktu itu Arab<br />dikenal memiliki peradaban jahiliyah, bodoh, keji dan banyak tindakan yang tidak<br />berprikemanusiaan. Tapi setelah diturunkan Al Quran, terjadi revolusi peradaban<br />yang luar biasa. Mereka berubah dari sebuah daerah yang dibayang-bayangi dua<br />imperium raksasa Persia dan Romawi, menjadi bangsa yang disegani. Kekuatan<br />mereka ada pada Al Quran, kuncinya:</p><p><em>Pertama</em>, Mereka yakin kepada akan kebenaran Al Quran. Al Quran menjadi<br />rujukan utama dalam kehidupan mengalahkan berbagai aturan yang dibuat manusia.</p><p><em>Kedua</em>, Tanpa berpikir ulang. Karena keyakinan itu mereka melakukan apa<br />yang ada dalam Al Quran tanpa harus bertanya, &ldquo;Kenapa mesti begini?&rdquo;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/12867e259e6b7f1d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="202334" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 25 Mar 2025 16:17:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Meningkatnya Jumlah Mualaf, Bukti Nyata Kebenaran Islam</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/meningkatnya-jumlah-mualaf-bukti-nyata-kebenaran-islam</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/meningkatnya-jumlah-mualaf-bukti-nyata-kebenaran-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bangsa barat didukung jaringan media yang mereka miliki telah lama berusaha menutup cahaya Islam. Islam dicitrakan dengan berbagai sifat buruk. Seperti suka berperang, bodoh, miskin, merendahkan wanita dan sederet kesan negatif lainnya. Sehingga banyak orang yang membenci Islam, tanpa mereka tahu seperti apa sebenarnya Islam. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Bangsa barat didukung jaringan media yang mereka miliki telah lama berusaha menutup cahaya Islam. Islam dicitrakan dengan berbagai sifat buruk. Seperti suka berperang, bodoh, miskin, merendahkan wanita dan sederet kesan negatif lainnya. Sehingga banyak orang yang membenci Islam, tanpa mereka tahu seperti apa sebenarnya Islam.</p><p>Tetapi paska tragedi ambruknya gedung World Trade Centre (WTC) yang terjadi pada 9 September 2001 atau dikenal dengan tragedi 911, jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat justru bertambah dengan cepat. Menurut sebuah sensus, dalam rentang 2000-2010 muslim di Amerika meningkat dari 1 juta menjadi 2,6 juta orang. Peristiwa 911 ternyata justru membuat orang Amerika Serikat penasaran dan ingin tahu tentang Islam. Mereka lantas mencari informasi dari sumber langsung, Al Quran. Sehingga jumlah penjualan mushaf Al Quran terjemah di Amerika Serikta meningkat.</p><p>Setelah mendapatkan gambaran Islam dari Al Quran, sebagian besar masyarakat terkejut. Sebab ternyata Islam tidak seburuk yang diceritakan oleh media-media barat. Sebaliknya mereka menganggap ajaran Islam penuh kasih sayang dan cinta damai. Hal inilah yang membuat banyak warga Amerika Serikat kemudian memutuskan untuk memeluk Islam. Usaha untuk mencitrakan buruk tentang Islam, ternyata justru berbalik, banyak orang tertarik dengan Islam.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167db9b688bb17.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="264554" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 25 Mar 2025 00:28:14 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (6) : Membangun Tanpa Proposal</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-6-membangun-tanpa-proposal</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-6-membangun-tanpa-proposal</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ &ldquo;Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya&ldquo;. [Ath-Thalaq : 3] ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>&ldquo;Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya&ldquo;. [Ath-Thalaq : 3]</em></p><p></p><p>Masjid Jogokariyan. Dari namanya memang memang memiliki keunikan. Umumnya, nama masjid menggunakan bahasa Arab, atau diambil dari nama orang yang membangun. Tetapi nama Masjid Jogokariyan diambil dari nama kampung di mana masjid tersebut berada. Mirip seperti nama-nama Masjid yang dibangun Rasulullah SAW. mulai dari Masjid Quba yang memang terletak di daerah Quba sampai Masjid yang dibangun di Bani Salamah, dikenal sebagai Bani Salamah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/12867d5ab414c209.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="20631" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 23 Mar 2025 22:23:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (5) : ATM Beras, Menyantuni Kaum Miskin</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-5-atm-beras-menyantuni-kaum-miskin</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-5-atm-beras-menyantuni-kaum-miskin</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Rasulullah SAW membangun menara masjid bukan untuk keindahan.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Rasulullah SAW membangun menara masjid bukan untuk keindahan. </em></p><p><em>Bilal bin Rohbah naik ke menara hanya lima kali sehari. </em></p><p><em>Tetapi Rasulullah yang paling sering naik ke menara. </em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167d6bf501e0ce.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="160072" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 19 Mar 2025 22:36:20 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah, Matahari untuk Kaum Miskin</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah-matahari-untuk-kaum-miskin</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/muhammadiyah-matahari-untuk-kaum-miskin</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Eko Triyanto ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Oleh: Eko Triyanto</em></p><p><em>&ldquo;Djadi seolah-olah dasarnja pertolongan daripada Moehammadijah b/g PKO itoe soeatoe soember (mata air) pertolongan jang djernih lagi bersih, terletak di seboeah tempat jang bisa didatangi oleh segala orang tidak memandang bangsa dan Agama.&rdquo; (Penggalan dari asas Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang didirikan pada 1923)</em></p><p></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167d99b2a8242d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="14461" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 18 Mar 2025 23:13:56 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (4) : Gerakan Mensalatkan Orang Hidup</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-4-gerakan-mensalatkan-orang-hidup</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-4-gerakan-mensalatkan-orang-hidup</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ &ldquo;Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka&ldquo;. (HR. Abu Daud) ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>&ldquo;Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka&ldquo;. (HR. Abu Daud)</em></p><p><em>&nbsp;</em></p><p>Di antara program unik yang dijalankan Masjid Jogokariyan berupa mensalatkan orang hidup. Jika selama ini, orang disalatkan setelah meninggal, maka di Jogokariyan orang-orang yang masih hidup juga disalatkan (diajak untuk melaksanakan salat). Langkah pertama yang dilakukan dengan melakukan pendataan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167d928110ecb6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="34332" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 18 Mar 2025 15:00:46 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (3) : Cermin Daulat Rakyat, dari Pemilu Takmir Sampai Warna Cat</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-3-cermin-daulat-rakyat-dari-pemilu-takmir-sampai-warna-cat</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-3-cermin-daulat-rakyat-dari-pemilu-takmir-sampai-warna-cat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Kemerdekaan hanya bisa dibangun oleh mereka yang tunduk kepada Allah dan hidup sejahtera bersama. Karena itu masjid adalah sumber kemerdekaan rakyat.&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Kemerdekaan hanya bisa dibangun oleh mereka yang tunduk kepada Allah dan hidup sejahtera bersama. Karena itu masjid adalah sumber kemerdekaan rakyat.&nbsp;</em></p><p>&nbsp;_ Ustaz Jazir, ASP.</p><p>&nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/1167d796e40fec5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="38566" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 17 Mar 2025 10:29:12 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (2) : Membangun Jamaah Masjid Tidak Sekadar Jamaah Shalat</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-2-membangun-jamaah-masjid-tidak-sekadar-jamaah-shalat</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-2-membangun-jamaah-masjid-tidak-sekadar-jamaah-shalat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ "La Islama Illa bil Jama'ah" ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>"La Islama Illa bil Jama'ah"</em></p><p>"Tidak ada Islam kecuali dengan berjama'ah"</p><p>Umar bin Khattab ra.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/12867d678bb93605.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17922" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 16 Mar 2025 14:08:15 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Masjid Jogokariyan (1) Menara, dari Kontrol Sosial ke Simbol Monumental</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-1-menara-dari-kontrol-sosial-ke-simbol-monumental</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/masjid-jogokariyan-1-menara-dari-kontrol-sosial-ke-simbol-monumental</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Tidak ada gunanya menara masjid yang tinggi.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Tidak ada gunanya menara masjid yang tinggi. </em></p><p><em>Jika tetangga masjid tidak bisa nanak nasi. </em></p><p><em>Jika tetangga masjid tidak bisa tidur karena anaknya tidak bisa membayar sekolah. </em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/03/12867d5ab414c209.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="20631" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 15 Mar 2025 23:31:54 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Eko Triyanto</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Guru: Cinta Murid dan Cinta Ilmu</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/guru-cinta-murid-dan-cinta-ilmu</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/guru-cinta-murid-dan-cinta-ilmu</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Arif Jamali Muis ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Arif Jamali Muis</strong></p><p></p><p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Dalam salah satu sambutan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu&rsquo;ti menyampaikan dua sikap yang harus dimiliki oleh guru, yaitu cinta murid dan cinta ilmu. Bahkan, menurut Pak Menteri Mu&rsquo;ti, jika dua sikap ini tidak dimiliki oleh guru, seberapa besar pun penghasilan yang didapatkan, ia tidak akan bahagia.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/02/1167a985cf804a5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="108496" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 10 Feb 2025 11:51:38 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bolehkah Dana Zakat untuk Membiayai Program Makan Bergizi Gratis?</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/bolehkah-dana-zakat-untuk-membiayai-program-makan-bergizi-gratis</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/bolehkah-dana-zakat-untuk-membiayai-program-makan-bergizi-gratis</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh : Zainal Arifin* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Oleh : Zainal Arifin*</p><p><strong>MEDIAMU.COM &ndash; </strong>Ketua DPD RI Sultan B Najamuddin menyampaikan usulan terkait penggunaan zakat untuk dana Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan ini disampaikan Sultan di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta pada Selasa (14/1/2025) memicu perdebatan. Sehingga muncul pertanyaan, bolehkah dana zakat untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)?</p><p>Ada dua sisi yang perlu diperhatikan. Pertama, sisi syariah, memberi makan orang yang membutuhkan itu Boleh, asal sesuai dengan <em>asnaf</em>-nya, <em>mustahiq</em> zakat ada 8 <em>asnaf</em> berdasarkan QS At Taubah ayat 60 :</p><ol><li>Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.</li><li>Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.</li><li>Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.</li><li>Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah.</li><li>Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya.</li><li>Gharimin, mereka yang berutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya.</li><li>Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagaianya.</li><li>Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah.</li></ol> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/01/11678fb0f194391.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="321277" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 21 Jan 2025 21:37:40 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Budaya dan Masyarakat: Refleksi Kuntowijoyo tentang Dinamika Sosial&amp;Budaya Indonesia</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/budaya-dan-masyarakat-refleksi-kuntowijoyo-tentang-dinamika-sosial-budaya-indonesia</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/budaya-dan-masyarakat-refleksi-kuntowijoyo-tentang-dinamika-sosial-budaya-indonesia</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM -&nbsp;Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman budaya yang kaya, menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman. Dalam buku Budaya dan Masyarakat, Kuntowijoyo menggali hubungan antara budaya dan masyarakat serta bagaimana keduanya saling memengaruhi dan berkembang dalam dinamika sosial yang terus berubah. Buku ini menjadi refleksi mendalam tentang pentingnya memahami budaya sebagai sistem makna yang membentuk identitas masyarakat. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM</strong> -&nbsp;Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman budaya yang kaya, menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman. Dalam buku <em>Budaya dan Masyarakat</em>, Kuntowijoyo menggali hubungan antara budaya dan masyarakat serta bagaimana keduanya saling memengaruhi dan berkembang dalam dinamika sosial yang terus berubah. Buku ini menjadi refleksi mendalam tentang pentingnya memahami budaya sebagai sistem makna yang membentuk identitas masyarakat.</p><p>Buku ini terbagi menjadi empat bagian utama, masing-masing membahas aspek berbeda dari hubungan antara budaya dan masyarakat. Bagian pertama, <em>Pemahaman Dasar: Analisa Sosio-Historik</em>, menyajikan analisis sosio-historis tentang bagaimana sejarah dan kreativitas berperan dalam perkembangan budaya. Kuntowijoyo membahas konsep &ldquo;Struktur dan Kultur&rdquo; sebagai kerangka kerja untuk memahami transformasi budaya. Pendekatan ini mengajak pembaca untuk melihat perubahan budaya sebagai hasil interaksi antara struktur sosial dan kreativitas manusia.</p><p>Bagian kedua, <em>Humaniora: Proses Kesadaran Simbolis</em>, menyoroti peran pendidikan humaniora dalam membentuk kesadaran budaya, terutama di kalangan masyarakat Jawa. Penulis menjelaskan bagaimana simbol-simbol budaya diciptakan dan direkonstruksi, membentuk identitas dan tradisi masyarakat. Perspektif ini menyoroti pentingnya pendidikan dalam menjaga keberlangsungan budaya di tengah modernisasi.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/01/1167871ce827da0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="53598" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 15 Jan 2025 09:27:03 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Islam &amp;amp; Kebhinekaan: Moderasi dalam Keberagaman</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/islam-kebhinekaan-moderasi-dalam-keberagaman</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/islam-kebhinekaan-moderasi-dalam-keberagaman</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM - Indonesia, sebuah negara dengan keanekaragaman luar biasa, menjadikan asas kebhinekaan sebagai identitas yang menyatukan masyarakatnya. Namun, dalam dinamika sosial yang terus berubah, nilai-nilai toleransi dan harmoni kerap menghadapi tantangan. Buku Islam &amp; Kebhinekaan, di bawah penyuntingan Dr. Alwi Shihab, hadir sebagai sebuah kompilasi gagasan dari berbagai pemikir terkemuka yang menawarkan perspektif Islam moderat sebagai solusi. Dengan menyatukan beragam pandangan, buku ini menyuguhkan pendekatan mendalam dan reflektif tentang bagaimana Islam dapat menjadi pilar keberagaman di Indonesia. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Indonesia, sebuah negara dengan keanekaragaman luar biasa, menjadikan asas kebhinekaan sebagai identitas yang menyatukan masyarakatnya. Namun, dalam dinamika sosial yang terus berubah, nilai-nilai toleransi dan harmoni kerap menghadapi tantangan. Buku <em>Islam &amp; Kebhinekaan</em>, di bawah penyuntingan Dr. Alwi Shihab, hadir sebagai sebuah kompilasi gagasan dari berbagai pemikir terkemuka yang menawarkan perspektif Islam moderat sebagai solusi. Dengan menyatukan beragam pandangan, buku ini menyuguhkan pendekatan mendalam dan reflektif tentang bagaimana Islam dapat menjadi pilar keberagaman di Indonesia.</p><p>Sebagai editor, Alwi Shihab menghadirkan lima bab utama yang membahas berbagai aspek Islam moderat dalam konteks kehidupan multikultural. Bab pertama mengeksplorasi prinsip Islam sebagai agama <em>rahmatan lil alamin</em> (rahmat bagi semesta alam), yang mengajarkan nilai-nilai toleransi, kebijaksanaan, dan pengertian. Kontributor dalam bab ini menyoroti pentingnya memandang perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman, untuk menciptakan masyarakat yang harmonis.</p><p>Keindahan prinsip moderasi atau <em>wasathiyah</em> dibahas lebih lanjut dalam bab kedua. Melalui tulisan dari beberapa pakar, bab ini menguraikan moderasi sebagai jalan tengah yang menghindari ekstremisme, mengedepankan kasih sayang, dan menjadikan keberagaman sebagai anugerah ilahi. Pandangan ini memberikan kerangka bagi pembaca untuk melihat Islam sebagai agama yang inklusif dan mampu merangkul keberagaman.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/01/1167871bba80cd6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="39909" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 15 Jan 2025 09:22:12 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Ketika Kesabaran Seorang Wanita Diuji….Sabarlah..!!!</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/ketika-kesabaran-seorang-wanita-diujisabarlah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/ketika-kesabaran-seorang-wanita-diujisabarlah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Hartina (Mahasiswi RPL Keperawatan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta) ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Oleh: Hartina (Mahasiswi RPL Keperawatan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta)</strong></em></p><p>Masalah perselingkuhan dalam rumah tangga ada sejak dahulu, saat ini semakin meningkat. Perselingkuhan dalam keluarga menimbulkan banyak masalah bagi perempuan, serta anak menjadi korban. Dari perselingkuhan bisa jelas menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan bisa terjadi kekerasan dalam rumah tangga, perasaan terancam dalam keluarga tersebut.</p><p>Sebutlah Ny Wati (nama samaran) wanita usia 58 tahun dan suaminya Tn Wono (nama samaran), pasangan suami istri ini keduanya bekerja, tetapi sekarang suami tidak bekerja karena sakit. Namun, hal ini tidak membuatnya bertaubat.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/01/11677538dc4e30f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="55474" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 02 Jan 2025 01:58:47 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Memuliakan Guru</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/arif-jamali-muis-memuliakan-guru</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/arif-jamali-muis-memuliakan-guru</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Arif Jamali Muis* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Arif Jamali Muis*</strong></p><p><strong></strong></p><p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2024 telah diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 28 November 2024. Acara ini dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dengan tema <em>Guru Hebat Indonesia Kuat</em>. Puncak peringatan HGN tersebut sangat dinantikan oleh masyarakat pendidikan karena menjadi momen untuk mendengar kebijakan-kebijakan penting yang akan memengaruhi sektor pendidikan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/12/128675a6ca742e21.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="29606" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 12 Dec 2024 11:47:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Didi Suryadi Asal Pemuda Bireuen Fans Beratnya Ariel Noah </title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/didi-suryadi-asal-pemuda-bireuen-fans-beratnya-ariel-noah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/didi-suryadi-asal-pemuda-bireuen-fans-beratnya-ariel-noah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM, OPINI - Di tengah gemuruh industri musik Indonesia, tidak jarang kita mendapati sosok-sosok penggemar yang begitu setia dan mendalam dalam kecintaannya terhadap musisi tertentu. Salah satu contoh nyata dari fenomena ini adalah Didi Suryadi, seorang penggemar berat Ariel Noah asal Bireuen.&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM, OPINI</strong> - Di tengah gemuruh industri musik Indonesia, tidak jarang kita mendapati sosok-sosok penggemar yang begitu setia dan mendalam dalam kecintaannya terhadap musisi tertentu. Salah satu contoh nyata dari fenomena ini adalah Didi Suryadi, seorang penggemar berat Ariel Noah asal Bireuen.&nbsp;</p><p>Didi bukan sekadar penggemar biasa, namun ia adalah simbol dari loyalitas dan dedikasi yang luar biasa terhadap musisi idolanya.</p><p>Fenomena ini membuka ruang untuk refleksi lebih dalam mengenai hubungan antara musisi dan penggemarnya, serta bagaimana hal tersebut bisa membentuk identitas dan budaya musik di Indonesia.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/12/1167552f70dec02.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="190937" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 08 Dec 2024 12:33:46 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        didi suryadi asal pemuda bireuen fans beratnya ariel noah,
                                                                                                                                                                pemuda bireuen,
                                                                                                                                                                opini,
                                                                                                                                                                didi suryadi,
                                                                                                                                                                bireuen                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Kerukunan Ummat Beragama Nyata di Kupang NTT ; Catatan dari Tanwir Muhammadiyah</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/kerukunan-ummat-beragama-nyata-di-kupang-ntt-catatan-dari-tanwir-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/kerukunan-ummat-beragama-nyata-di-kupang-ntt-catatan-dari-tanwir-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh : Dr H Taqwaddin, SH, SE, MS. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Oleh : <em>Dr H Taqwaddin, SH, SE, MS. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh</em></p><p><strong>MEDIAMU.COM, OPINI </strong>- Bagi saya catatan ini akan penting walaupun catatan ini bukan tentang Tanwir, bukan tentang pidato Presiden ataupun tentang pidato Ketua Umum ataupun pidato para menteri yang hebat-hebat. Bukan tentang itu. Tetapi cerita saya ini tentang pelayanan panitia pendukung yang sebagian besarnya adalah beragama kristen.&nbsp;</p><p>Dari pelayanan yang optimal ini, saya menarik asumsi hipotesis bahwa fakta kerukunan ummat beragama di Kupang adalah nyata.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/12/116753b5b62865e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="50919" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Dec 2024 09:42:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        tanwir muhammadiyah,
                                                                                                                                                                muhammadiyah aceh,
                                                                                                                                                                taqwaddin hadiri tanwir muhammadiyah,
                                                                                                                                                                kupang,
                                                                                                                                                                muhammadiyah,
                                                                                                                                                                opini                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Kenaikan Gaji Guru di 2025: Harapan Baru atau Tantangan Baru?</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/kenaikan-gaji-guru-di-2025-harapan-baru-atau-tantangan-baru</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/kenaikan-gaji-guru-di-2025-harapan-baru-atau-tantangan-baru</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Nashrul Mu'minin, Cokro muda Yogyakarta&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Nashrul Mu'minin, Cokro muda Yogyakarta</strong>&nbsp;</p><p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Prabowo Subianto, Presiden RI, mengumumkan kebijakan kenaikan gaji guru mulai 2025 sebagai bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan pendidik. Kebijakan ini menjadi angin segar di tengah berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia, termasuk kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah. Namun, langkah ini juga memunculkan pertanyaan kritis mengenai efektivitasnya dalam mengatasi tantangan sistemik pendidikan di Indonesia. &nbsp;</p><p>Sebagai mahasiswa Cokroaminoto, dari perspektif Cokro Muda Nashrul Mu'minin, kebijakan ini memiliki nilai strategis namun juga memerlukan implementasi yang tepat agar tidak hanya bersifat populis. Islam menekankan pentingnya penghargaan terhadap pendidik. Rasulullah ﷺ bersabda: &nbsp;<br />إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ &nbsp;<br />"Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut dalam lubangnya dan ikan di laut, mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi). &nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/12/11675929cee3cf9.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="83355" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 29 Nov 2024 12:57:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Resensi Buku: Sosiologi Islam dan Masyarakat Kontemporer</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/resensi-buku-sosiologi-islam-dan-masyarakat-kontemporer-1</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/resensi-buku-sosiologi-islam-dan-masyarakat-kontemporer-1</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, M.Pd ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, M.Pd</strong></p><p></p><p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Buku Sosiologi Islam dan Masyarakat Kontemporer adalah karya yang menggugah, menjembatani dunia akademik modern dengan nilai-nilai spiritual Islam. Ditulis dengan visi yang melampaui eksplorasi akademik semata, buku ini menawarkan paradigma baru bagi ilmuwan Muslim untuk mereformulasikan sosiologi dalam bingkai Islam. Penulis tidak hanya mengkritik pendekatan sosiologi konvensional tetapi juga menyajikan landasan teoretis bagi pengembangan sosiologi Islam sebagai disiplin yang relevan dengan kebutuhan umat Muslim di era kontemporer.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/11/1167454e0c4c961.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="884895" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 26 Nov 2024 11:47:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Melangkah Menuju Pendidikan Berkah dengan Pendekatan Mindful, Meaningful, dan Joyful</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/melangkah-menuju-pendidikan-berkah-dengan-pendekatan-mindful-meaningful-dan-joyful</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/melangkah-menuju-pendidikan-berkah-dengan-pendekatan-mindful-meaningful-dan-joyful</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Nashrul Mu&rsquo;minin ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Nashrul Mu&rsquo;minin</strong></p><p><strong>MEDIAMU.COM - </strong>Pendidikan yang efektif tidak hanya berfokus pada pengembangan intelektual, tetapi juga memperbaiki akhlak dan menanamkan kesadaran spiritual. Dalam era modern, pendekatan pembelajaran <strong>mindful</strong> (penuh kesadaran), <strong>meaningful</strong> (bermakna), dan <strong>joyful</strong> (menyenangkan) menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang menyentuh ranah emosional dan spiritual siswa. Artikel ini mengupas konsep ini dari perspektif Islam.</p><h3>Landasan Ayat dan Hadits</h3><p>Allah berfirman dalam Al-Qur'an:</p><p style="text-align: right;"><br /><em>يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ</em><br /><em></em></p><p style="text-align: left;"><em>"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."</em> (QS. Al-Mujadila: 11)</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/11/1167454755c297d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="94838" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 26 Nov 2024 10:58:22 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Refleksi Milad Muhammadiyah: Menguatkan Pilar Ekonomi, Pendidikan, dan Kesehatan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/refleksi-milad-muhammadiyah-menguatkan-pilar-ekonomi-pendidikan-dan-kesehatan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/refleksi-milad-muhammadiyah-menguatkan-pilar-ekonomi-pendidikan-dan-kesehatan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, M.Pd&nbsp;&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, M.Pd</strong>&nbsp;&nbsp;<br /><br /></p><p><strong>MEDIAMU.COM - </strong>Milad ke-112 Muhammadiyah adalah momentum penting untuk meneguhkan kembali peran strategis organisasi ini dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dengan tema *&ldquo;Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua&rdquo;*, Muhammadiyah menyampaikan pesan kuat bahwa perjuangan untuk menciptakan kesejahteraan inklusif adalah manifestasi nyata dari *Islam Berkemajuan*. Tema ini tidak hanya mencerminkan visi besar Muhammadiyah, tetapi juga menegaskan relevansinya sebagai gerakan yang merangkul kebutuhan umat di tengah perubahan zaman. &nbsp;</p><h4>Muhammadiyah dan Paradigma Kemakmuran &nbsp;</h4><p>Sejak didirikan pada 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah menempatkan kesejahteraan umat sebagai inti perjuangannya. Kemakmuran yang dimaksud bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi spiritual, sosial, dan intelektual. Dalam ajaran Islam, kemakmuran bukanlah hak eksklusif individu atau kelompok tertentu, melainkan hak bersama yang harus dikelola dengan adil. &nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/11/11673c31d7eb451.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="529304" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 19 Nov 2024 13:36:23 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Mengembalikan Ujian Nasional: Sebuah Tinjauan Kritis</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/mengembalikan-ujian-nasional-sebuah-tinjauan-kritis</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/mengembalikan-ujian-nasional-sebuah-tinjauan-kritis</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Nashrul Mu'minin* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Nashrul Mu'minin*</strong></p><p><strong>MEDIAMU.COM -&nbsp;</strong>Dalam beberapa minggu terakhir, wacana mengembalikan Ujian Nasional (UN) telah menjadi topik hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini dipicu oleh perubahan kabinet di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto serta adanya desakan dari berbagai pihak untuk mengevaluasi kualitas pendidikan yang dianggap menurun. Sebagai generasi muda yang peduli pada pendidikan, saya, Cokro Muda dari Yogyakarta, ingin memberikan sudut pandang kritis mengenai isu ini.</p><h3><strong>Pendidikan dalam Perspektif Al-Quran &nbsp;</strong></h3><p>Dalam Al-Quran, Allah berfirman, "وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا" (Surah Taha: 114), yang artinya "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu." Ini menegaskan pentingnya pengetahuan mendalam dalam pendidikan, bukan sekadar pencapaian nilai ujian. Pendidikan harus berfokus pada pembentukan karakter dan akhlak, bukan hanya mengejar angka.</p><h3>Dampak Psikologis Ujian Nasional &nbsp;</h3> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/11/116735b9f621d28.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="102762" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 14 Nov 2024 15:57:07 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Generasi Muda, Pilar Demokrasi dalam Pilkada Aceh</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/generasi-muda-pilar-demokrasi-dalam-pilkada-aceh</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/generasi-muda-pilar-demokrasi-dalam-pilkada-aceh</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis : Abiyyu Bayu Satria Sekretaris Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Aceh&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Penulis : Abiyyu Bayu Satria Sekretaris Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Aceh&nbsp;</em></p><p><strong>MEDIAMU.COM, OPINI </strong>- Di tahun 2024, semua daerah di Indonesia, akan menggelar pesta Demokrasi dalam bentuk kemasan Pilkada, dan sudah barang tentu Aceh juga ada di dalamnya. Merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan bahwa para remaja pastinya akan ikut ambil bagian dalam mensukseskan pesta demokrasi tersebut,&nbsp;</p><p>Meskipun banyak remaja dan pelajar belum memiliki hak suara dalam pesta dimaksud, akan tetapi peran mereka tidak bisa dipandang sebelah mata.&nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/11/116730d4d973bc2.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="257123" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 10 Nov 2024 22:48:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        opini,
                                                                                                                                                                bayu satria,
                                                                                                                                                                sekretaris ipm aceh,
                                                                                                                                                                pilkada aceh,
                                                                                                                                                                generasi muda,
                                                                                                                                                                ipm aceh,
                                                                                                                                                                bayu abiyyu                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Agama sebagai Solusi Peradaban Melalui Refleksi dari Pemikiran Din Syamsuddin</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/agama-sebagai-solusi-peradaban-melalui-refleksi-dari-pemikiran-din-syamsuddin</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/agama-sebagai-solusi-peradaban-melalui-refleksi-dari-pemikiran-din-syamsuddin</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Nashrul Mu'minin ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Nashrul Mu'minin</strong></p><p>Sebagai seorang mahasiswa, saya ingin menyoroti pernyataan Din Syamsuddin di Paris yang menekankan perlunya agama sebagai solusi dalam menghadapi tantangan peradaban saat ini. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh konflik, peran agama sebagai panduan moral dan etika sangat penting. Dalam tulisan ini, saya akan membahas pemikiran tersebut dengan merujuk pada ajaran Al-Qur'an, hadis Nabi Muhammad SAW, serta landasan Muhammadiyah.</p><p><strong>Agama sebagai Solusi dalam Peradaban</strong></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/10/116704b29956a77.png?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="881004" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 08 Oct 2024 04:19:39 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Penutupan TikTok Music dan Pelajaran yang Bisa kita Petik Darinya</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/penutupan-tiktok-music-dan-pelajaran-yang-bisa-kita-petik-darinya</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/penutupan-tiktok-music-dan-pelajaran-yang-bisa-kita-petik-darinya</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Nashrul Mu'minin ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Nashrul Mu'minin</strong></p><p><strong>Mediamu.com - </strong>Sebagai seorang mahasiswa, saya mengamati bahwa penutupan TikTok Music pada akhir November 2024 memberikan pelajaran penting bagi pengguna dan pengembang layanan digital. Dalam era digital yang terus berkembang, layanan streaming musik menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Namun, keputusan ByteDance selaku pengembang menciptakan tantangan dan kesempatan bagi pengguna untuk beradaptasi.</p><p><strong>Konteks Penutupan TikTok Music</strong></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/09/1166fa930d22b04.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="34801" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 30 Sep 2024 12:01:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hubungan Muhammadiyah dengan Kekuasaan</title>
                    <link>https://opini.mediamu.com/hubungan-muhammadiyah-dengan-kekuasaan</link>
                    <guid>https://opini.mediamu.com/hubungan-muhammadiyah-dengan-kekuasaan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Ketiga, bersifat adil serta korektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana. Inilah model Muhammadiyah memberikan kritik kebijakan pemerintah, jangan berharap Muhammadiyah menyampaikan kritik dengan nada keras seperti LSM kebanyakan. Lihatlah bagaimana Prof. Haedar Nashir atau Prof. Abdul Mu&rsquo;ti memberikan masukan ke dengan bahasa yang santun tetapi secara substansi mengena dan tidak ada yang merasa tersakiti.Seperti itulah Muhammadiyah yang akan selalu kritis terhadap pemerintah jika tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, tetapi pada saat yang sama bisa juga bekerjasama ketika itu untuk kemaslahatan umum.Walahualam Bishowab...*Penulis adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em>Ketiga,</em> bersifat adil serta korektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana. Inilah model Muhammadiyah memberikan kritik kebijakan pemerintah, jangan berharap Muhammadiyah menyampaikan kritik dengan nada keras seperti LSM kebanyakan. Lihatlah bagaimana Prof. Haedar Nashir atau Prof. Abdul Mu&rsquo;ti memberikan masukan ke dengan bahasa yang santun tetapi secara substansi mengena dan tidak ada yang merasa tersakiti.</p><p style="text-align: justify;">Seperti itulah Muhammadiyah yang akan selalu kritis terhadap pemerintah jika tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, tetapi pada saat yang sama bisa juga bekerjasama ketika itu untuk kemaslahatan umum.</p><p style="text-align: justify;"><em>Walahualam Bishowab...</em></p><p style="text-align: justify;"></p><p style="text-align: justify;"><em><strong>*Penulis adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY.</strong></em></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/09/12866dc0a31a55f0.png?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="13325952" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Sep 2024 07:31:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        muhammadiyah,
                                                                                                                                                                kekuasaan,
                                                                                                                                                                hubungan                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                        </channel>
</rss>