Masjid Jogokariyan (3) : Cermin Daulat Rakyat, dari Pemilu Takmir Sampai Warna Cat
Kemerdekaan hanya bisa dibangun oleh mereka yang tunduk kepada Allah dan hidup sejahtera bersama. Karena itu masjid adalah sumber kemerdekaan rakyat.
_ Ustaz Jazir, ASP.
Jika kita datang ke Masjid Jogokariyan, tidak ada kesan megah jika melihat bentuk bangunannya. Bahkah lokasi masjid ini mepet dengan jalanan, dengan tempat parkir di areal masjid terbatas. Di pagar sebelah utara terdapat tulisan yang ikonik 'Masjid Jogokaiyan' dengan font yang beragam. Selain itu, tulisan tersebut juga terdiri dari aneka warna. Lebih mirip hiasan di sekolah taman kanak-kanak.
Meskipun terlihat sederhana, tetapi ada makna mendalam yang melatarbelakangi pemilihan cat di Masjid Jogokariyan. Menurut Ustaz Jazir ASP, ketika Masjid Jogokariyan berencana melakukan pengecatan, takmir meminta kesempatan kepada jamaah untuk mengusulkan warna cat. Akhirnya, para jamaah memberikan masukan dan terkumpul delapan usulan warna cat. Karena tugas takmir adalah melayani jamaah, maka takmir mengakomodir semua usulan tersebut. Jadilah, warna Masjid Jogokariyan menjadi berwarna-warni. Dan para jamaah yang mengusulkan warna cat lebih merasa memiliki karena suaranya didengarkan. Tetapi di balik itu semua, selain ada jamaah yang usul warna cat, tidak sedikit juga yang menyatakan kesediaan untuk menjadi donatur cat.
Dalam menentukan ketua takmir, Masjid Jogokariyan memiliki cara unik. Takmir dipilih langsung oleh jamaah. Setiap jamaah memiliki hak yang sama untuk menentukan ketua takmir sesuai pilihan mereka. Pada tahun 1999, Muhammad Jazir secara aklamasi diminta meneruskan sang Ayah, menjadi takmir. Tetapi ia menolak. Ia iangin agar pemilihan ketua takmir dipilih melalui pemilihan umum secara langsung dan terbuka. Sehingga ketua takmit yang terpilih memang benar-benar sesuai dengan keinginan sebagian besar jamaah.
Ustaz Jazir, akhirnya terpilih menjadi ketua takmir melalui pemilihan umum tersebut. Ustaz kelahiran Yogyakarta, 28 Oktober 1962 tersebut memang sejak kecil sudah dekat dengan masjid. Bahkan saat usia 10 tahun, diberi amanah mengelola pengajian anak-anak. Ustad Jazir bertekad untuk memperbaiki pengelolaan masjid terinspirasi apa yang ia saksikan ketika di Malaysia. Ia melihat imam di Malaysia tidak sekadar sebagai imam shalat, tetapi juga menjadi tempat para jamaah untuk mencari jawaban atas persoalan yang mereka hadapi. Proses pemilihan ketua takmir melalui pemilihan umum ini mencerminkan kedaulatan jamaah (rakyat) dalam menentukan takmir (pemimpin) masjid.
Setelah menjadi ketua takmir, Ustaz Jazir tidak mau program yang dijalankan hanya berasal dari usulan jajaran takmir. Maka ia membuka ruang kepada jamaah untuk mengusulkan berbagai program yang ingin dijalankan. Dari usulan itu kemudian dibuat skala prioritas. Sehingga takmir memiliki tugas untuk menjalankan program-program yang usulan dari jamaah. Ini sesuai dengan kedudukan takmir sebagai pelayan jamaah, bukan dilayani jamaah. [e]
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow