Ketika Pohon Meh Pergi, Air Pun Ikut Menghilang

Ketika Pohon Meh Pergi, Air Pun Ikut Menghilang

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Prof Dr. Ir. Bambang Suhardi, ST, MT, ASEAN. Eng* 

Ada kenangan masa kecil yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia mungkin tertimbun oleh kesibukan, perjalanan hidup, pekerjaan, dan usia yang terus bertambah. Namun, pada suatu waktu, kenangan itu tiba-tiba muncul kembali dengan begitu jelas. Seolah-olah semuanya baru terjadi kemarin.

Salah satu kenangan yang masih kuat tersimpan dalam ingatan saya adalah tentang sepasang pohon trembesi yang tumbuh di batas dukuhan antara Pelemgede dan Dadap. Orang-orang di desa saya tidak menyebutnya pohon trembesi. Entah sejak kapan dan dari mana asal sebutannya, kami mengenalnya dengan nama sederhana: pohon meh.

Dua pohon itu tumbuh di kanan dan kiri jalan, seperti sepasang penjaga yang berdiri kokoh menyambut siapa pun yang melintas. Batangnya besar, cabangnya menjulur ke segala arah, dan daunnya begitu lebat hingga membentuk semacam atap alami di atas jalan. Pada siang hari, ketika matahari sedang terik-teriknya, berada di bawah kedua pohon itu seperti memasuki dunia yang berbeda.

Di luar, matahari membakar jalan dan tanah. Tetapi begitu sampai di bawah pohon meh, hawa terasa berubah. Teduh, sejuk, dan menenangkan. Rimbunan daunnya menahan sinar matahari sehingga hanya sedikit cahaya yang mampu menembus sampai ke tanah. Angin yang berembus di antara daun-daunnya menghadirkan kesejukan yang sulit digambarkan. Bagi orang-orang yang berjalan kaki, mengayuh sepeda, atau pulang dari sawah, tempat itu menjadi lokasi yang nyaman untuk berhenti sejenak. Berteduh. Duduk. Mengusap keringat. Menarik napas.

Pada masa itu, mungkin kami tidak mengenal istilah seperti ruang terbuka hijau, konservasi air, jasa ekosistem, atau kenyamanan termal. Kami hanya tahu bahwa di bawah pohon itu rasanya nyaman.

Sesederhana itu.

Bagi saya, pohon meh mempunyai arti yang lebih dalam. Ia bukan sekadar pohon besar di pinggir jalan. Ia adalah bagian dari masa kecil saya.

Saya sering memanjatnya.

Anak-anak zaman dulu barangkali memang berbeda. Tidak ada telepon genggam, permainan daring, atau media sosial. Dunia kami adalah jalan kampung, sawah, sungai, kebun, dan pepohonan. Memanjat pohon merupakan sesuatu yang biasa. Semakin tinggi bisa memanjat, terkadang semakin besar pula rasa bangganya.

Anehnya, waktu itu hampir tidak ada rasa takut.

Cabang-cabang pohon meh yang besar menjadi tempat saya berpijak. Dari satu dahan pindah ke dahan lainnya. Tangan memegang cabang, kaki mencari pijakan, kemudian perlahan naik semakin tinggi.

Ada satu kebiasaan yang sekarang justru terasa lucu sekaligus mengharukan ketika saya mengingatnya.

Ketika di rumah sedang dimarahi ibu atau bapak, saya sering memilih lari. Dan tempat pelarian saya adalah pohon meh.

Saya berlari menuju pohon itu, lalu memanjatnya. Semakin tinggi rasanya semakin aman. Seolah-olah persoalan yang terjadi di rumah tertinggal jauh di bawah sana.

Di antara rimbunan daun trembesi itu, hati seorang anak kecil menemukan tempat persembunyiannya.

Tidak ada yang menasihati. Tidak ada yang bertanya mengapa saya sedih. Tidak ada yang mencoba menghibur. Hanya ada pohon.

Tetapi anehnya, justru di sanalah saya merasa damai.

Saya bisa duduk lama di salah satu cabangnya, melihat jalan dari ketinggian, merasakan angin menerpa wajah, dan mendengarkan suara dedaunan yang bergerak perlahan. Kemarahan yang sebelumnya memenuhi hati pelan-pelan menghilang.

Barangkali begitulah cara alam berbicara kepada seorang anak kecil.

Ia tidak menggunakan kata-kata.

Ia memberikan keteduhan.

Bertahun-tahun kemudian saya baru memahami bahwa keberadaan sepasang pohon trembesi itu ternyata bukan hanya memberikan keteduhan bagi manusia. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang dahulu tidak kami sadari.

Pohon itu seperti menjaga air.

Di bawah pohon trembesi tersebut terdapat sumber air yang oleh masyarakat kami dikenal dengan sebutan Nggadel. Tempat itu memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat, terutama ketika musim kemarau datang.

Di kawasan tersebut terdapat tiga titik sumber air. Pada bagian atas, salah satu sumber kemudian dibuat menjadi sumur. Di bagian bawah terdapat belik atau sumber air alami yang tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Di sebelahnya lagi dibuat sebuah sumur.

Air di tempat itu seperti tidak mengenal musim.

Ketika musim penghujan, air tersedia.

Ketika kemarau datang, air tetap ada.

Bahkan ketika kemarau berlangsung panjang dan sumur-sumur milik warga di tempat lain mulai menyusut atau mengering, sumber air di Nggadel masih bertahan.

Bagi masyarakat desa, keberadaan sumber air semacam itu adalah anugerah.

Saya masih ingat bagaimana orang-orang dari desa sebelah datang ke tempat tersebut untuk mengambil air. Ketika sumber air di tempat mereka sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nggadel menjadi tujuan. Mereka datang membawa wadah untuk mendapatkan air.

Air yang keluar dari tanah itu tidak pernah bertanya dari dukuhan mana seseorang berasal.

Ia tidak membedakan Pelemgede, Dadap, maupun desa tetangga.

Siapa pun yang membutuhkan bisa mengambilnya.

Saat itu mungkin kami menganggap semuanya akan berlangsung selamanya. Pohon meh akan tetap berdiri. Nggadel akan tetap mengeluarkan air. Orang-orang akan tetap berteduh di bawah pohonnya, dan anak-anak akan terus memanjat cabang-cabangnya.

Ternyata tidak.

Ada satu hal yang sering dilupakan manusia: sesuatu yang diwariskan alam selama puluhan tahun dapat dihancurkan hanya dalam hitungan jam.

Karena kepentingan manusia, sepasang pohon trembesi itu akhirnya ditebang.

Saya tidak ingin mengubah cerita ini menjadi sekadar cerita tentang siapa yang menebang dan untuk kepentingan apa. Bagi saya, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah ketika pohon itu ditebang, manusia pernah memikirkan apa yang akan hilang bersamanya?

Mungkin yang terlihat ketika itu hanyalah dua batang pohon.

Padahal yang ditebang bukan sekadar kayu.

Yang hilang adalah keteduhan.

Yang hilang adalah tempat beristirahat.

Yang hilang adalah tempat bermain anak-anak.

Yang hilang adalah sebagian kenangan sebuah kampung.

Dan perlahan-lahan, sesuatu yang jauh lebih berharga juga ikut menghilang.

Air.

Setelah sepasang pohon trembesi itu tidak ada, sumber air di sekitarnya mulai mengalami perubahan. Air yang dahulu seperti tidak pernah habis perlahan menyusut.

Mungkin pada awalnya perubahan itu tidak begitu terasa. Tetapi alam mempunyai caranya sendiri untuk menunjukkan akibat dari tindakan manusia.

Sedikit demi sedikit debit air berkurang.

Belik yang dahulu menjadi tumpuan masyarakat tidak lagi seperti dulu. Tempat yang pernah didatangi banyak orang ketika kemarau panjang akhirnya kehilangan sumber kehidupannya.

Sekarang, sumber air itu sudah tidak ada lagi.

Dari tiga titik air yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, hanya tersisa satu sumur. Ironisnya, sumur yang masih tersisa itu pun sekarang sudah ditutup. Sumur tersebut dibeli oleh seseorang yang memiliki kemampuan ekonomi dan berasal dari desa sebelah.

Dulu, air di tempat itu seperti milik siapa saja yang membutuhkannya.

Sekarang tidak lagi.

Di titik inilah saya sering berpikir tentang perubahan nilai dalam kehidupan manusia.

Uang memang mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Dengan uang, tanah dapat berpindah kepemilikan. Dengan uang, sebuah sumur dapat dibeli. Dengan uang, sesuatu yang selama bertahun-tahun digunakan bersama dapat berubah menjadi milik pribadi.

Secara hukum mungkin ada banyak penjelasan mengenai kepemilikan. Tetapi bagi orang yang pernah melihat bagaimana tempat itu dahulu menjadi sumber air bagi masyarakat, ada perasaan kehilangan yang tidak mudah dijelaskan.

Sebab ada hal-hal yang nilainya tidak seharusnya hanya dihitung dengan uang.

Air adalah salah satunya.

Hari ini, ketika melewati tempat itu, pemandangannya sudah sangat berbeda dengan yang tersimpan dalam ingatan masa kecil saya.

Dahulu, dari kejauhan sudah terlihat dua pohon besar berdiri di kanan dan kiri jalan. Rimbunan daunnya seolah menjadi gerbang alami yang menandai batas antara Pelemgede dan Dadap.

Orang yang kepanasan bisa berhenti di bawahnya.

Anak-anak bisa bermain.

Burung-burung bisa hinggap.

Tanah tetap lembap.

Dan air tersimpan di bawahnya.

Sekarang semuanya berubah.

Tidak ada lagi pohon meh yang menaungi jalan.

Tidak ada lagi rimbunan daun yang menghalangi teriknya matahari.

Tidak ada lagi cabang pohon yang dahulu saya panjat ketika sedang dimarahi ibu dan bapak.

Tempat yang dahulu sejuk kini terasa gersang.

Dan yang lebih menyedihkan, sumber air yang dahulu tidak pernah kering meskipun kemarau panjang kini tinggal cerita.

Barangkali seseorang akan mengatakan bahwa hilangnya sumber air tidak dapat hanya dikaitkan dengan ditebangnya dua pohon trembesi. Memang benar. Alam bekerja melalui sistem yang kompleks. Curah hujan, perubahan tata guna lahan, kondisi tanah, pengambilan air tanah, vegetasi di sekitarnya, dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi keberadaan sumber air.

Namun bagi saya, cerita pohon meh tetap memberikan sebuah pelajaran sederhana: ketika manusia menghilangkan satu bagian dari alam, sering kali ada bagian lain yang ikut berubah.

Pohon, tanah, air, udara, hewan, dan manusia tidak hidup sendiri-sendiri.

Semuanya saling berhubungan.

Pohon yang kita lihat berdiri diam ternyata bekerja setiap hari. Akarnya membantu tanah menyerap dan menyimpan air. Tajuknya memberikan keteduhan. Daunnya mengurangi panas. Cabangnya menjadi tempat hidup berbagai makhluk. Dan ketika hujan turun, keberadaan pohon membantu air tidak sekadar mengalir begitu saja di permukaan tanah.

Sayangnya, manusia sering baru memahami nilai sebuah pohon setelah pohon itu tidak ada.

Kita baru merindukan teduh setelah tempat itu menjadi panas.

Kita baru mencari air setelah sumur mengering.

Kita baru berbicara tentang konservasi setelah sumber air menghilang.

Dan kita baru menyadari nilai sebuah kenangan setelah tempat yang menyimpan kenangan itu berubah selamanya.

Sepasang pohon meh di batas Pelemgede dan Dadap mungkin sudah lama tidak ada. Tetapi dalam ingatan saya, keduanya masih berdiri.

Saya masih bisa membayangkan seorang anak kecil berlari dari rumah karena dimarahi orang tuanya. Anak itu menuju sebuah pohon besar, memanjat batangnya, lalu duduk di antara cabang-cabang yang rindang.

Ia tidak membawa apa-apa.

Tidak ada telepon genggam.

Tidak ada kamera untuk mengabadikan kejadian itu.

Tidak ada foto yang kemudian bisa diunggah untuk mendapatkan perhatian orang lain.

Yang ada hanyalah seorang anak kecil, sebatang pohon, desir angin, dan kedamaian.

Anak kecil itu tidak tahu bahwa puluhan tahun kemudian ia akan merindukan tempat persembunyiannya.

Ia juga tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari pohon yang dianggapnya akan hidup selamanya ternyata akan tumbang oleh tangan manusia.

Dan mungkin yang paling tidak pernah dibayangkannya: ketika pohon itu pergi, air di bawahnya perlahan-lahan ikut pergi.

Kini pohon meh telah menjadi bagian dari masa lalu.

Nggadel pun tinggal nama dan cerita.

Namun semestinya cerita itu tidak berhenti sebagai nostalgia seorang anak desa tentang tempat bermainnya. Ada pesan yang lebih besar yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jangan melihat pohon hanya sebagai kayu.

Sebab nilai pohon tidak hanya berada pada batang yang bisa ditebang dan dijual. Ada air yang mungkin dijaga oleh akarnya. Ada tanah yang dilindunginya. Ada udara yang dibuatnya lebih nyaman. Ada makhluk lain yang menggantungkan kehidupan kepadanya. Ada manusia yang berteduh di bawahnya.

Dan ada kenangan yang tumbuh bersama cabang-cabangnya.

Kita sering merasa sebagai pemilik alam karena mempunyai sertifikat tanah, uang, atau kekuasaan untuk menentukan apa yang boleh dilakukan terhadap suatu tempat. Padahal sebenarnya kita hanyalah salah satu generasi yang sedang diberi kesempatan untuk menumpang hidup di atas bumi yang sama.

Apa yang kita lakukan hari ini akan diwarisi oleh orang-orang setelah kita.

Menanam pohon mungkin hasilnya tidak langsung kita nikmati.

Sebaliknya, menebang pohon dapat memberikan keuntungan dalam waktu singkat.

Tetapi alam mempunyai perhitungan yang berbeda dengan manusia.

Manusia menghitung harga kayu.

Alam menghitung kehilangan air, keteduhan, kesuburan, dan kehidupan.

Jika suatu hari saya diberi kesempatan berdiri kembali di tempat itu, saya mungkin hanya akan terdiam sejenak. Memandang jalan yang sama, tetapi dengan suasana yang tidak lagi sama.

Dalam hati saya ingin berkata kepada dua pohon meh yang pernah menemani masa kecil saya:

"Terima kasih karena dahulu engkau pernah memberikan tempat berteduh. Terima kasih karena cabang-cabangmu pernah menjadi tempat persembunyian seorang anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya. Terima kasih karena di bawah naunganmu pernah tersimpan air yang menghidupi banyak orang."

Pohon itu memang sudah tidak ada.

Airnya pun telah menghilang.

Tetapi kisahnya jangan sampai ikut hilang.

Biarlah cerita tentang pohon meh di batas Pelemgede dan Dadap menjadi pengingat sederhana bagi kita semua: ketika pohon terakhir ditebang, mungkin yang hilang bukan hanya keteduhan. Bisa jadi, bersama tumbangnya pohon itu, kita sedang mengucapkan selamat tinggal kepada sumber kehidupan yang selama ini diam-diam dijaganya.

*) Pengampu mata kuliah Ekologi Industri Prodi S1 Teknik Industri Universitas Sebelas Maret

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    9
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait