Puskesmas Ramah Lansia Bukan Sekadar Jalur Prioritas
Penulis: Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, ST, MT, ASEAN. Eng¹ dan dr. Ervina Rahmi Hawa²*
Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat dengan jumlah penduduk lanjut usia yang semakin besar. Bertambahnya usia harapan hidup tentu menjadi kabar baik. Namun, kondisi ini juga membawa tantangan baru bagi pelayanan kesehatan. Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat mengalami penurunan kekuatan otot, keseimbangan, penglihatan, pendengaran, daya ingat, dan kecepatan dalam memahami informasi.
Karena itu, puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan terdekat perlu hadir bukan hanya untuk mengobati penyakit, tetapi juga memberikan rasa aman, nyaman, dan mudah bagi lansia. Sederhananya, puskesmas ramah lansia adalah puskesmas yang memahami bahwa kebutuhan manusia berubah ketika usia bertambah.
Selama ini, pelayanan ramah lansia kadang dianggap cukup dengan menyediakan poli khusus atau memanggil pasien lansia lebih dahulu. Hal itu memang penting, tetapi perjalanan seorang lansia di puskesmas tidak dimulai dari ruang pemeriksaan.
Bayangkan seorang lansia yang harus turun dari kendaraan, mencari pintu masuk, menuju loket pendaftaran, menunggu antrian, berpindah ruangan, mengambil obat, lalu menggunakan toilet. Bagi orang muda, rangkaian tersebut mungkin terasa biasa. Namun, bagi lansia, satu anak tangga yang terlalu tinggi, tulisan petunjuk yang kecil, atau kursi tunggu yang terlalu rendah dapat menjadi persoalan besar. Pelayanan medis yang baik pun bisa terasa melelahkan apabila proses menuju layanan tersebut sulit dijalani.
Puskesmas ramah lansia setidaknya perlu memperhatikan tiga hal. Pertama, cara petugas memberikan informasi, edukasi, dan berkomunikasi. Kedua, prosedur pelayanan yang sederhana dan sesuai dengan kebutuhan lansia. Ketiga, kondisi bangunan dan fasilitas yang aman serta mudah digunakan oleh siapa saja. Ketiganya harus berjalan bersama. Gedung yang bagus tidak banyak membantu apabila petugas berbicara terlalu cepat dan alur pelayanan berbelit-belit. Sebaliknya, keramahan petugas juga belum cukup jika lantainya licin, kursi tunggunya tidak nyaman, atau petunjuk arahnya sulit dibaca.
Perhatian terhadap lansia seharusnya sudah dimulai sejak mereka tiba di halaman puskesmas. Tempat menurunkan penumpang sebaiknya berada dekat pintu masuk agar lansia tidak perlu berjalan terlalu jauh atau menyeberangi jalur kendaraan yang ramai. Tempat parkir prioritas perlu diberi tanda yang jelas dan menyediakan ruang yang cukup untuk membantu lansia naik atau turun dari kendaraan. Jalur menuju gedung juga harus rata, tidak licin, dan bebas dari lubang. Bagi orang muda, perbedaan tinggi lantai beberapa sentimeter mungkin tidak berarti. Namun, bagi lansia yang menggunakan tongkat, alat bantu jalan, atau kursi roda, hambatan kecil tersebut dapat meningkatkan risiko tersandung dan jatuh.
Setelah memasuki gedung, lansia perlu dapat bergerak tanpa rasa khawatir. Koridor harus cukup lebar, terang, dan tidak dipenuhi kursi, kardus, pot, atau barang lain yang menghalangi jalan. Pada bagian tertentu, pegangan tangan dapat membantu mereka menjaga keseimbangan. Petunjuk arah sebaiknya menggunakan tulisan besar, warna yang kontras, dan simbol yang mudah dikenali. Informasi tidak perlu dibuat terlalu ramai karena justru dapat membingungkan. Ukurannya sederhana: orang yang baru pertama kali datang seharusnya dapat menemukan ruang yang dituju tanpa berkali-kali bertanya kepada petugas.
Ruang tunggu juga perlu mendapat perhatian. Di sinilah pasien sering menghabiskan waktu paling lama. Kursi yang terlalu rendah atau tidak memiliki sandaran tangan membuat lansia kesulitan saat duduk maupun berdiri. Kursi yang nyaman sebaiknya memiliki tinggi yang sesuai, sandaran punggung, dan pegangan yang kuat. Beberapa kursi dapat disediakan khusus untuk lansia, tetapi penataannya jangan sampai menutup jalur kursi roda. Udara yang tidak pengap, pencahayaan yang nyaman, suara panggilan yang terdengar jelas, serta nomor antrean yang mudah dilihat akan membuat proses menunggu terasa jauh lebih bersahabat.
Hal serupa berlaku pada tempat tidur pemeriksaan. Jika posisinya terlalu tinggi, lansia akan kesulitan naik dan lebih berisiko jatuh. Tempat tidur yang lebih rendah, kokoh, memiliki pijakan yang aman, dan dilengkapi pegangan akan sangat membantu. Inilah inti pendekatan ergonomi: fasilitaslah yang menyesuaikan kemampuan manusia, bukan manusia yang dipaksa menyesuaikan diri dengan fasilitas. Data ukuran tubuh lansia dapat menjadi dasar untuk menentukan tinggi kursi, loket, tempat tidur pemeriksaan, dan pegangan tangan. Dengan begitu, fasilitas tidak hanya terlihat baik, tetapi benar-benar nyaman digunakan.
Toilet termasuk fasilitas yang sangat penting, tetapi sering luput dari perhatian. Pintunya harus cukup lebar untuk dilewati kursi roda dan mudah dibuka tanpa membutuhkan tenaga besar. Ruang di dalamnya perlu cukup luas agar pengguna dapat bergerak dan berputar dengan aman. Pegangan di dekat kloset akan membantu lansia ketika duduk atau berdiri, sedangkan lantai antiselip dapat mengurangi risiko terpeleset. Tombol darurat juga sebaiknya ditempatkan pada posisi yang tetap bisa dijangkau jika pengguna terjatuh. Tentu saja, semua fasilitas tersebut harus didukung oleh pencahayaan yang baik, penanda toilet yang jelas, dan kebersihan yang selalu terjaga.
Namun, puskesmas ramah lansia bukan hanya soal bangunan dan fasilitas. Cara melayani sama pentingnya. Proses pendaftaran dapat dibuat lebih sederhana, waktu tunggu dipersingkat, dan perpindahan dari satu ruang ke ruang lain dikurangi. Informasi jadwal pemeriksaan dapat dikirim melalui pesan singkat atau disampaikan kepada keluarga pendamping. Meski ada pendamping, petugas tetap perlu berbicara langsung kepada pasien lansia sebagai bentuk penghormatan. Gunakan kalimat yang pendek, suara yang cukup jelas, dan tempo bicara yang tidak tergesa-gesa. Setelah menjelaskan, petugas juga perlu memastikan bahwa pasien benar-benar memahami informasi yang diberikan.
Untuk memulainya, puskesmas tidak harus langsung melakukan renovasi besar. Langkah pertama dapat berupa audit sederhana dengan mengikuti perjalanan pasien sejak turun dari kendaraan hingga selesai mengambil obat. Petugas dapat mengajak lansia dan pendamping berdiskusi untuk mengetahui bagian mana yang paling menyulitkan.
Hasil pengamatan kemudian dipilah berdasarkan tingkat risiko, manfaat, biaya, dan kemudahan penerapannya. Banyak perbaikan sederhana yang dapat segera dilakukan, misalnya menyingkirkan barang dari koridor, memperbesar tulisan petunjuk, menyediakan kursi prioritas, memperbaiki alur antrean, atau melatih petugas. Biayanya mungkin tidak besar, tetapi dampaknya dapat langsung dirasakan.
Perbaikan yang membutuhkan biaya lebih besar, seperti merenovasi toilet, mengubah desain loket, menambah ramp, atau menata ulang ruang tunggu, dapat dilakukan secara bertahap. Setelah fasilitas diperbaiki, puskesmas juga perlu menilai apakah perubahan tersebut benar-benar membantu. Apakah kejadian hampir jatuh berkurang? Apakah waktu pelayanan menjadi lebih singkat? Apakah keluhan menurun dan kepuasan lansia meningkat?
Lansia perlu dilibatkan dalam evaluasi karena merekalah yang menggunakan fasilitas itu setiap hari. Pegangan tangan yang terlihat kokoh menurut perancang belum tentu nyaman atau mudah dijangkau oleh penggunanya.
Pada akhirnya, puskesmas ramah lansia bukanlah fasilitas yang memanjakan kelompok usia tertentu. Jalur yang aman, informasi yang jelas, pelayanan yang sederhana, dan ruang yang nyaman juga bermanfaat bagi ibu hamil, penyandang disabilitas, pasien yang sedang lemah, serta orang tua yang membawa anak.
Ketika sebuah layanan dirancang dengan memperhatikan pengguna yang paling rentan, kualitasnya biasanya menjadi lebih baik bagi semua orang. Karena itu, keramahan terhadap lansia tidak boleh berhenti sebagai slogan atau sekadar tulisan pada jalur prioritas. Ia harus terlihat dalam sikap petugas, alur pelayanan, kondisi fasilitas, dan kesediaan untuk terus melakukan evaluasi.
Puskesmas ramah lansia adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah menua: bukan hanya dengan memberikan pengobatan, tetapi juga dengan memastikan bahwa setiap tahapan pelayanan dapat dijalani dengan aman, mudah, mandiri, dan bermartabat.
Memanusiakan manusia berarti menghadirkan fasilitas yang memahami keterbatasan, menjaga keselamatan, dan menghormati martabatnya. Membangun fasilitas yang sesuai bagi lansia adalah wujud penghargaan kita kepada kehidupan dan umat manusia.
¹) Guru Besar Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret
²) Mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedoketeran Universitas Sebelas Maret
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow