Opini

Opini

Opini

May 23, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Peran Keluarga Menentukan Ketahanan Bangsa

Oleh: Drs M Afnan Hadikusumo (DPD RI Dapil DIY)

Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, peran keluarga sangat menentukan kualitas bangsa. Ini dikarenakan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembinaan tumbuh-kembang, menanamkan nilai-nilai moral dan pembentukan kepribadian individu. Kalau diibaratkan, keluarga merupakan sebuah pondasi untuk tumbuh dan berkembanganya sebuah bangsa. Jika pondasinya kuat dan kokoh, maka bangunan di atasnya dapat berdiri tegak, awet dan tahan terhadap guncangan.

Pondasi yang kuat haruslah berawal dari keluarga-keluarga yang berkualitas dan tangguh. Sehingga tercipta ketahanan nasional dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebagai anggota MPR RI, di sela-sela acara “Sosialisasi Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika” kerjasama antara MPR RI dengan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sleman di Aula Kampus Universitas Aisyiyah Yogyakarta, pada 22 Juli 2018 kemarin, saya sempat mengutarakan keprihatinan.

Sayangnya, saat ini masih banyak “pekerjaan rumah” bagi bangsa Indonesia dalam membangun ketahanan keluarga. Di antaranya tingkat perceraian yang tinggi, masih banyaknya kekerasan, kenakalan remaja, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, radikalisme dan pudarnya semangat nasionalisme.

Itu semua merupakan wajah buruk tentang rapuhnya kondisi keluarga Indonesia.

Dalam acara itu, saya yang kebetulan sebagai cucu Pahlawan Nasional, Ki Bagoes Hadikusumo, sempat menyampaikan bahwa sesungguhnya penanaman nilai spiritualitas pada anak sejak dini sangat penting guna membangun karakter anak. Umpamanya, anak diajarkan mendalami kitab suci al-Qur’an atau diajarkan tentang aturan-aturan agama serta bagaimana mempraktikkannya. Agar saat ia remaja atau dewasa, sudah ada pengetahuan dan tertanam dalam dirinya perilaku apa saja yang baik dan benar. Sehingga orang tua tidak akan khawatir bila anaknya jauh dari mereka karena pribadinya sudah terbentuk sikap yang baik.

Dalam pembentukan karakter itu, ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kemudian, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk. Misalnya, anak tidak mau berbohong. Karena berbohong itu hal yang buruk. Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya.

Saya juga menggarisbawahi apa yang telah disampaikan Hj. Aminah Masykur, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sleman di sela-sela acara tersebut, yang manyatakan bahwa sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara yang disisipi dengan nilai-nilai agama, sangat penting dan bermanfaat.

Terutama bagi pembentukan karakter bangsa, khususnya dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.

Sebab disadari atau tidak, secara tidak langsung dengan terbentuknya keluarga yang sakinah ini, akan menjadikan ikatan persatuan bangsa menjadi lebih erat dan ketahanan bangsa pun menjadi lebih kuat.

Di depan seratus lima puluh orang peserta yang terdiri dari utusan Pimpinan Cabang Aisyiyah dan Pimpinan Ranting Aisyiyah se-kabupaten Sleman serta Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta saya sampaikan pentingnya persatuan bangsa. Juga pentingnya peranan keluarga dalam menentukan kualitas bangsa ini.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here