Opini

Opini

Opini

Jun 15, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

FALSAFAH K.H. AHMAD DAHLAN : “PELAJARAN KEDUA”

Kebanyakan, di antara manusia berwatak angkuh dan takabur. Mereka mengambil keputusan sendiri sendiri. Sebagaimana orang Yahudi yang menganggap bahwa dirinya akan bahagia, selain orang Yahudi akan sengsara. Begitu juga orang Kristen menganggap bahwa hanya golongannya yang akan bahagia mendapat surga, lainnya akan sengsara.

Also Read Gerakan Ayah Hebat

Begitulah anggapan tiap-tiap golongan agama, sebagaimana golongan Majusi, Shabiah dan lain-lainnya lagi. Mereka mempunyai anggapan sendiri bahwa hanya golongannya saja yang akan selamat, lainnya sengsara. Golongan Islam juga menetapkan demikian. Hanya golongan Islam yang selamat dari api neraka, selain golongan Islam akan sengsara.

Sekarang bagaimana orang yang tidak beragama? Adapun golongan mereka yang tidak berdasar agama ditetapkan oleh golongan-golongan beragama baik golongan Islam, Yahudi, Kristen, Majusi ataupun golongan agama lain-lainnya, bahwa golongan yang tidak beragama itu semuanya akan celaka dan sengsara.

Golongan yang tidak beragama mempunyai anggapan manusia itu sesudah mati tidak akan celaka dan tidak akan disiksa. Di sini teranglah bahwa tiap-tiap golongan melemparkan kecelakaan kepada lainnya. Pernyataan fatwa KH Ahmad Dahlan: “Manusia satu sama lain selalu melemparkan pisau cukur, mempunyai anggapan pasti tepat dia melemparkan celaka kepada orang lain.”

KH Ahmad Dahlan heran, mengapa pemimpin-pemimpin agama dan tidak beragama selalu hanya beranggap, mengambil keputusan sendiri tanpa mengadakan pertemuan di antara mereka, tidak mau bertukar fikiran memperbincangkan mana yang benar dan mana yang salah? Hanya anggapan-anggapan disepakatkan dengan isterinya, disepakatkan dengan muridnya, disepakatkan dengan teman gurunya sendiri. Tentu saja dibenarkan. Tetapi marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain di luar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar itu? Dan manakah sesungguhnya yang salah itu?

Keadaan demikian itu banyak terdapat dalam golongan satu macam agama, menganggap salah terhadap sebagian golongan yang lain. Misalnya, mereka yang beragama Kristen Katholik menganggap salah terhadap mereka yang beragama Kristen Protestan. Sebaliknya, yang beragama Kristen Protestan menyalahkan kepada mereka yang beragama Kristen Katholik.

Begitu juga di kalangan umat Islam, mereka yang mengaku menjadi ahlu sunnah wal jama’ah menetapkan salah terhadap mereka yang didakwa termasuk golongan mu’tazilah, demikian seterusnya.

Pendek kata, tiap-tiap golongan dari yang besar sampai yang kecil malah sampai kepada perseorangan, mereka menganggap bahwa dirinya yang benar dan sudah benar, kemudian menyalahkan kepada yang lainnya.

“Yaitu, orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Q.S. Ar-Ruum: 32)

Mereka merasa sudah benar tidak memerlukan lagi untuk mengetahui keadaan golongan lain, tidak memerlukan bermusyawarah dengan golongan lain dan mengabaikan terhadap hujjah atau alasan golongan lain. Sudah teguh pendiriannya sengaja tidak mau membanding- banding atau menimbang.

Tetapi kenyataannya, satu sama lain selalu bertengkar, berselisih dan bermusuhan. Padahal sudah menjadi kepastian bahwa barang yang diperselisihkan itu kalau sudah diselidiki, tentu akan terdapat mana yang benar dan mana yang salah. Hanya satu yang benar di antara yang banyak itu. Tersebut dalam al-Qur’an:

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Q.S. Yunus: 32)

Apakah sebanyak perselisihan itu benar semua? Hanya sekali hidup di dunia kalau sampai salah akan celaka. Tetapi bagaimana pun mereka hanya selalu menganggap dirinya sudah benar dan merasa dalam kebenaran dan hanya memutuskan sendirian, merasa sudah memakai alasan yang syah tidak khawatir kalau salah. Hanya sekali hidup di bumi untuk bertaruh. KH Ahmad Dahlan membacakan surat al-‘araf : 99 :

“Tidaklah khawatir akan siksa Allah, kecuali mereka golongan yang rugi.”

 

Sumber : Ebook “Falsafah Ajaran KH Ahmad Dahlan” karya KRH Hadjid

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here