Sangkan Paraning Karsa: Menavigasi Pendidikan Islam Berkemajuan di Samudra Zaman

Sangkan Paraning Karsa: Menavigasi Pendidikan Islam Berkemajuan di Samudra Zaman

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Retno Sumirat* 

Ulang tahun bagi sebuah lembaga pendidikan Islam sejatinya bukanlah panggung euforia, melainkan panggung muhasabah. Ketika memasuki usia ke-76 tahun—tujuh dasawarsa lebih mengabdi—pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada diri sendiri adalah: Sejauh mana kita telah mewujudkan harapan besar perjuangan dakwah dan pendidikan? 

Berangkat dari kesadaran historis dan transformatif tersebut, tema Milad SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tahun ini mengusung frasa filosofis Jawa yang mendalam: "Sangkan Paraning Karsa, Maju Ing Samudraning Zaman". Tema ini bukan sekadar pemanis slogan. Ia adalah pengejawantahan dari spirit Risalah Islam Berkemajuan—sebuah tekad untuk berani melangkah, melintasi ombak zaman tanpa kehilangan akar spiritual dan identitas kemanusiaan. 

Sangkan : Mengukuhkan Akar Fondasi Kader

Kata "Sangkan" mengembalikan ingatan kita pada cita-cita mulia para pendiri. KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muhammadiyah bukan sekadar pabrik pencetak nilai akademis atau ijazah formal. Harapan Muhammadiyah sejak awal sangat tegas: melahirkan kader umat yang bertauhid kokoh, berakhlak mulia, berilmu luas, dan beramal nyata. Pesan historis KH Ahmad Dahlan, "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah," mengandung makna bahwa sekolah harus mampu menghidupkan jiwa murid agar bermanfaat bagi kemanusiaan. 

Di tengah era banjir informasi dan disrupsi digital hari ini, tantangan terbesar sekolah Islam adalah menjaga agar akidah murid tetap teguh, ibadahnya lurus, akhlaknya terpuji, tetapi pada saat yang sama kecakapan sains dan teknologinya unggul. Empat pilar Risalah Islam Berkemajuan—iman, ibadah, akhlak, dan IPTEK—harus berdiri sejajar dan saling menguatkan. 

Paraning : Tantangan Pendidikan dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

"Paraning" mewakili proses perjuangan. Membumikan idealisme pendidikan abad ke-21 tidak sepi dari hambatan nyata: 

1. Disrupsi Nilai dan Algoritma Sosial

Gen Z dan Gen Alpha tumbuh di bawah bayang-bayang algoritma media sosial yang kerap memecah belah dan mengkotak-kotakkan opini. Hambatan ini menuntut guru bertransformasi agar mampu mendidik murid menjadi pribadi yang cerdas bermedia, rasional, tidak mudah terprovokasi, serta konsisten menjadi penebar rahmah (rahmatan lil 'alamin). 

2. Transformasi Pedagogi dan Tekno-Humora

Menguasai IPTEK hari ini tidak lagi cukup dengan menghafal rumus, melainkan menguasai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), literasi data, dan jiwa kewirausahaan (enterpreneurship). Guru harus bertransformasi dari sekadar "penceramah" menjadi "mentor dan fasilitator", sementara ruang kelas bertransformasi menjadi laboratorium inovasi. 

Inilah titik temu yang sangat krusial dengan program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yakni Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) serta penguatan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Deep Learning dalam ranah pendidikan bukan sekadar belajar teknis machine learning, melainkan sebuah pendekatan pembelajaran kontekstual yang berfokus pada tiga pilar utama:

  1. Mindful Learning (Pembelajaran Bermakna & Sadar): Murid paham mengapa mereka belajar, bukan sekadar menghafal untuk ujian.

  2. Meaningful Learning (Pembelajaran Relevan): Kaitan antara materi sains/AI dengan pemecahan masalah kehidupan nyata di masyarakat.

  3. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan): Mendorong rasa ingin tahu (curiosity) dan kreativitas tanpa rasa takut gagal.

3. Relevansi Sosial dan Keumatan

Sekolah tidak boleh menjadi "menara gading" yang terasing dari realitas sekitar. Tolok ukur keberhasilan bukan hanya seberapa banyak piala olimpiade yang diraih, melainkan seberapa besar kepekaan sosial murid terhadap masalah lingkungan, keadilan, gerakan antikorupsi, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan pada NKRI. 

Karsa: Mewujudkan Profil Lulusan Solutif untuk Bangsa

"Maju Ing Samudraning Zaman" adalah komitmen untuk terus bergerak. SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta berikhtiar membuktikan bahwa agama, sains, dan teknologi dapat berjalan harmoni. Pembelajaran agama tidak boleh membuat murid takut pada kemajuan sains, dan laboratorium sains tidak boleh membuat murid lupa pada Sang Pencipta. Kita ingin melahirkan lulusan yang mampu menembus perguruan tinggi terbaik, namun tetap menjadi penggerak kemakmuran masjid dan masyarakat.  Integrasi ini selaras dengan 8 Dimensi Profil Lulusan dalam framework Pembelajaran Mendalam, di mana murid ditempa untuk memiliki:

  1. Keimanan dan Ketakwaan yang Kokoh (Karakter Spiritual) 

  2. Penalaran Kritis (Kemampuan Memecahkan Masalah Kompleks) 

  3. Kreativitas (Kecakapan Digital dan AI) 

  4. Kolaborasi (bisa bekerja sama dengan baik)

  5. Komunikasi (berkomunikasi dengan baik dan benar)

  6. Kemandirian (siap dalam kemandirian)

  7. Kewarganegaraan (cinta kebangsaan)

  8. Kesehatan (sehat jiwa dan raga)

Sebagai gerakan kebangsaan dan kemanusiaan, sekolah Muhammadiyah harus menjadi Sekolah yang Memberi Solusi. Lulusannya dituntut menjadi pribadi yang toleran, nasionalis, dan berwawasan luas, baik saat menjadi pemimpin organisasi pelajar, aktivis kampus, hingga kelak menjadi pemimpin daerah dan bangsa dengan tetap membawa identitas Islam Berkemajuan. 

Kami menyadari bahwa ikhtiar ini masih jauh dari kata sempurna. Namun, dengan meyakini prinsip "Teguh dalam Ushul, Berkemajuan dalam Muamalah", SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta siap mendayung bahtera pendidikan, mengarungi samudra zaman, demi mencetak generasi emas pemenang masa depan. 

*) Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta sekaligus Mahamurid Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait