Masjid Jogokariyan (8) : Kaderisasi dengan Nasi dan Nasihat
Di antara ciri khas pelayanan di Masjid Jogokariyan ialah terjemah dari lafaz azan. Hayya 'alashalah, hayya 'alal falah. Marilah shalat, marilah menuju kemenangan. Ustaz Jazir menerjemahkan hayya 'alal falah juga berarti kebahagiaan. Maka orang-orang yang salat di Masjid Jogokariyan langsung dibahagiakan. Dengen memberikan fasilitas layanan yang memadai. Menyediakan kopi selepas subuh di hari Ahad, atau makanan jumat berkah selepas salat Jumat.
Tidak hanya sampai di situ, bagi generasi muda saat ini kebutuhan akses internet merupakan sesuatu yang penting. Maka takmir Masjid Jogokariyan menyediakan akses wifi secara gratis. Agar bisa dimanfaatkan para pemuda yang datang ke masjid. Beragam layanan tersebut dilakukan agar mereka betah ke masjid. Dalam rapat-rapat atau kegiatan juag disediakan makanan.
"Anak muda itu doyan nasi, tetapi tidak doyan nasihat," terang Ustaz Jazir.
Ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW. agar umat Islam gemar berbagi makanan. Dari Abu Dzar, Rasul Saw. bersabda; “Hai Abu Dzar, ketika kau memasak kuah, perbanyaklah airnya, dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain dari Abu Hurairah, Rasul Saw. bersabda, “Hai kaum hawa yang beragama Islam, sekali-kali jangan berhati kecil (jangan merasa hina) sewaktu akan memberi hadiah kepada tetangga, sekalipun hanya sepotong kikil kambing.” (HR. Bukhari-Muslim).
Mungkin timbul pertanyaan kenapa Rasul begitu menekankan sedekah yang berupa makanan ini. Ya, ternyata rekatnya tali ukhuwah bisa bermula dari makanan. Saling berbagi makanan antar tetangga dapat mempererat tali silaturrahim. Karena yang dipandang bukan apa yang diberikan tetapi lebih bagaimana seorang memiliki perhatian kepada tetangga lain.
Pengaruh makanan memang luar biasa. Coba tengok kira-kira apa yang mampu membuat sekelompok anak muda rela bergabung pada sebuah gank? Salah satu faktor utamanya adalah karena makanan. Umumnya mereka menjadi loyal (mempunyai ikatan) diakibatkan oleh karena mereka kerap kali diberi makanan atau minuman (keras). Rasa bisa saling berbagi ini menumbuhkan ikatan yang begitu kuat.
Menyantuni Mualaf
Selain pemuda, Mualaf juga menjadi prioritas dalam pelayanan. Mualaf bukan hanya mereka yang baru masuk Islam. Tetapi mereka yang dalam kondisi lemah sehingga berpotensi berpaling dari agama Islam.
Mualaf juga bermakna mereka yang berhati lembut. Pada masa Rasulullah SAW. orang-orang yang dipandang berhati lembut mereka diberi perhatian, meskipun bukan muslim, agar mereka tidak menghalangi penyiaran Islam.
Mualaf menjadi satu di antara delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat. “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah:60).
Dengan perhatian yang diberikan Masjid Jogokariyan tersebut, para pemuda dan jamaah menjadi semakin mencintai masjid dan mau ikut memakmurkan masjid. [e]
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow