Bantuan Gratis dan Kemandirian yang Terkikis
Saya datang selepas siang. Membawa satu paket bahan pokok hasil donasi dari kawan-kawan. Isinya memang tidak seberapa, hanya berupa beras, dan mi instan. Saat itu, sebut saja Mbah Pawiro (usia lebih 60 tahun), sedang makan. Dengan menggunakan piring seng. Sepintas saya lihat tidak ada lauk dan nyaris tanpa sayur. Hanya terlihat kuah. Ia tinggal berdua dengan anak perempuannya.
Dengan kondisi yang sudah lanjut usia, Mbah Pawiro tidak mau berdiam diri. Ia masih berusaha bekerja dengan menganyam mendong (rumput bahan anyaman) untuk dibuat tikar. Meskipun kebutuhan tikar mendong terus menurun, tetapi sebagian masyarakat masih menjadi perajin tikar mendong. Kecamatan Minggir Sleman DIY, memang telah lama dikenal sebagai sentra produksi mendong. Bahkan dijual sampai Tasikmalaya Jawa Barat. Namun kehadiran produk berbahan plastik telah mengalahkan pamor tikar mendong.
Kegigihan Mbah Pawiro yang tetap bekerja meskipun sudah renta adalah potret dari kegigihan nenek moyang kita dalam berusaha. Bagi mereka membanting tulang dan memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan hidup ada sebuah kehormatan. Jiwa kemandirian mereka telah teruji. Lebih baik menahan lapar daripada harus meminta-minta.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup, umumnya mereka berprofesi sebagai petani. Sehingga kebutuhan beras cukup terjamin. Sedangkan kebutuhan sayur terkadang dicukupi dengan menanam aneka sayuran di pekarangan atau pematang sawah. Sayuran seperti kacang panjang, daun singkong, terong, ataupun daun pepaya, umumnya tidak perlu membeli. Tercukupi dari hasil panen sendiri.
Namun, gelontoran program bagi-bagi bantuan yang beberapa tahun ini terjadi. Seperti mendagradasi semangat masyarakat untuk mandiri. Bagaimana tidak, mereka yang setiap hari bekerja di sawah dari pagi sampai sore. Dengan hasil yang belum tentu seberapa. Sedangkan tetangga yang lain, bisa bersantai di rumah sambil menunggu setiap bulan mendapatkan gelontoran bantuan. Aneka rupa bentuknya. Mulai dari anak sekolah, sampai bantuan untuk keluarga.
Tetapi tidak semua warga rela berpangku tangan mengharapkan bantuan. Mereka lebih memilih untuk tetap bekerja, mencukupi kebutuhan hidup dari usaha tangannya sendiri. Seberapapun hasilnya tetapi mereka merasa bangga. Seperti Mbah Pawiro, meskipun usia tidak lagi muda, tetap melakukan pekerjaan yang ia mampu lakukan. Menganyam tikar dari mendong. Cerminan jiwa mandiri dan tidak bergantung orang lain. [e]
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow