Guru Tidak Boleh Berhenti Belajar
Menjadi guru adalah pekerjaan profesional. Namun lebih dari sekadar profesi, menjadi guru adalah panggilan kemanusiaan yang harus dijalankan dengan hati, kesungguhan, dan keilmuan yang terus berkembang. Guru tidak sekadar mengajarkan mata pelajaran, tetapi menyiapkan manusia untuk menghadapi masa depannya.
Di situlah letak keistimewaan sekaligus tantangan profesi guru. Yang dihadapi guru bukanlah benda mati yang dapat dibentuk sesuka hati. Bukan pula botol kosong yang tinggal diisi pengetahuan. Yang dihadapi adalah manusia. Setiap murid memiliki pikiran, perasaan, pengalaman hidup, minat, bakat, dan cara belajar yang berbeda. Tidak ada dua anak yang benar-benar sama.
Karena itulah, menjadi guru sesungguhnya adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.
Kesadaran ini penting dimiliki sejak hari pertama seseorang memasuki ruang kelas sebagai guru. Sebab ketika seorang guru merasa dirinya sudah selesai belajar, sesungguhnya pada saat itulah ia mulai tertinggal. Bukan karena ilmunya hilang, tetapi karena dunia yang dihadapinya terus bergerak maju.
Pengalaman saya mengajar sejak tahun 2001 hingga 2024 semakin menguatkan keyakinan tersebut. Saya memulai perjalanan sebagai guru honorer, kemudian menjadi guru PNS, dan sepanjang perjalanan itu saya berjumpa dengan begitu banyak murid dengan karakter yang beragam. Semakin lama mengajar, saya justru semakin menyadari bahwa tidak ada satu metode yang selalu tepat untuk semua murid. Tidak ada satu pendekatan yang selamanya relevan untuk semua zaman.
Yang berhasil digunakan dua puluh tahun lalu belum tentu efektif hari ini. Murid yang duduk di kelas sekarang tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah teknologi digital, media sosial, kecerdasan artifisial, dan arus informasi yang bergerak sangat cepat. Cara mereka belajar, berinteraksi, dan memandang dunia tidak lagi sama.
Karena itu, guru tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman. Pengalaman memang penting, tetapi pengalaman tanpa pembaruan sering kali berubah menjadi kebiasaan. Sementara pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar kebiasaan. Pendidikan membutuhkan kemampuan untuk terus memahami perubahan dan meresponsnya dengan bijaksana.
Di sinilah pentingnya guru terus membaca, belajar, menulis, dan merefleksikan pengalamannya. Membaca membuka wawasan baru. Belajar memperkaya cara pandang. Menulis membantu menata pikiran. Sedangkan refleksi mengubah pengalaman menjadi kebijaksanaan. Melalui proses itulah seorang guru memperoleh perspektif baru untuk memahami murid-muridnya.
Bayangkan jika ilmu, metode, dan cara pandang guru tetap sama, sementara murid dan zamannya terus berubah. Akan muncul jarak yang semakin lebar antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang dibutuhkan murid untuk menghadapi masa depan. Pendidikan bisa kehilangan relevansinya, bukan karena gurunya tidak bekerja keras, tetapi karena ia berhenti bertumbuh.
Saya sering mengungkapkan: setiap murid memiliki zamannya sendiri, dan setiap zaman memiliki karakter murid yang berbeda. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa perubahan bukan hanya terjadi pada murid, tetapi juga harus terjadi pada guru. Nilai-nilai yang kita yakini boleh tetap kokoh, tetapi cara mengajarkannya harus terus diperbarui. Ilmu harus berkembang. Metode harus disesuaikan. Pendekatan harus diperbarui agar tetap mampu menjangkau kebutuhan peserta didik.
Dalam berbagai diskusi pendidikan, saya sering mendengar pertanyaan: bagaimana guru bisa terus belajar jika gajinya rendah? Bagaimana guru bisa berkembang jika beban administrasinya begitu banyak? Pertanyaan itu tentu penting. Kesejahteraan, perlindungan, dan pengurangan beban administrasi memang harus terus diperjuangkan. Pemerintah juga terus berupaya meningkatkan berbagai aspek tersebut. Namun menurut saya, kesadaran untuk belajar harus ditempatkan pada ruang yang berbeda. Belajar adalah bagian dari integritas profesi guru.
Kesadaran untuk terus meningkatkan diri tidak boleh sepenuhnya bergantung pada keadaan yang ideal. Sebab pada hakikatnya, belajar adalah bentuk tanggung jawab seorang guru kepada murid-muridnya.
Saya teringat pesan orang tua saya ketika masih menjadi guru honorer. Saat itu saya menjalani profesi guru dengan segala keterbatasan yang ada. Orang tua saya berkata, "Ketika kamu berada di dalam kelas, anak-anak tidak melihat apakah kamu guru honorer atau guru PNS. Dan malaikat yang mencatat amalmu juga tidak melihat statusmu. Maka berilah yang terbaik kepada murid-muridmu dan teruslah meningkatkan kemampuanmu agar bisa memberikan yang terbaik."
Pesan sederhana itu terus saya ingat hingga hari ini.
Karena pada akhirnya, murid tidak akan mengingat status kepegawaian gurunya. Mereka akan mengingat keteladanan, perhatian, ilmu, dan inspirasi yang diberikan oleh gurunya. Mereka akan mengingat siapa yang pernah membantu mereka percaya pada dirinya sendiri, menemukan potensinya, dan berani menatap masa depan.
Kita boleh memiliki kurikulum terbaik. Kita boleh memiliki program pendidikan yang hebat. Kita boleh memiliki teknologi yang semakin canggih. Kesejahteraan guru juga harus terus ditingkatkan. Namun pada akhirnya, kualitas pendidikan tetap sangat ditentukan oleh kualitas guru yang hadir setiap hari di hadapan murid-muridnya.
Guru adalah jantung pendidikan. Karena itu, membaca, menulis, dan merefleksikan pengalaman bukanlah pekerjaan tambahan bagi seorang guru. Ketiganya adalah napas seorang guru. Dari membaca lahir wawasan. Dari menulis lahir kejernihan berpikir. Dari refleksi lahir kebijaksanaan.
Selama guru masih mau belajar, ia akan tetap relevan. Selama guru masih mau membaca, ia akan terus menemukan perspektif baru. Selama guru masih mau menulis dan berefleksi, ia akan terus bertumbuh bersama murid-muridnya. Sebab pada akhirnya, tugas guru bukan hanya mengajar sepanjang hayat, tetapi juga belajar sepanjang hayat.
"Murid terus berubah. Zaman terus berubah. Karena itu guru tidak boleh berhenti belajar."
Penulis: Arif Jamali Muis, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, dan Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia)
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow