Masjid Jogokariyan (7) : Tiga Ciri Kemakmuran Masjid
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
(Surat At-Taubah ayat 18)
Orang yang bisa memakmurkan masjid tidak sekadar mereka yang membangun masjid dengan kemegahan. Ukuran kemakmuran masjid bukan megah, besar atau bersihnya masjid. Tetapi seberapa banyak jamaah yang ikut salat di Masjid. Memakmurkan masjid dengan tolok ukur bangunan adalah ciri orang-orang musyrik.
“Tidak (akan) terjadi hari kiamat, sampai orang-orang saling membanggakan masjidnya.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i,Ibnu Majah)
Memakmurkan masjid adalah dengan menggerakkan masyarakat untuk berbondong-bondong salat berjamaah di masjid. Takmir memikirkan orang-orang yang muslim digerakan agar mau salat di masjid. Seperti dalam lafaz azan, mari menegakkan salat, mari meraih kebahagiaan. Sehingga orang yang datang ke masjid merasa gembira.
Kedua untuk membahagiakan jamaah bisa dengan mengajak masyarakat untuk mau membayar zakat. Uang yang tidak terkumpul tidak hanya digunakan untuk pembangunan fisik. Dengan memberdayakan ekonomi jamaah. Sehingga para penerima zakat (mustahiq) menjadi muzaki (pembayara zakat). Masjid Jogokariyan juga melakukan wakaf produktif.
Masjid bisa memberikan solusi bagi persoalan yang dihadapi para jamaah. Membayarkan biaya sekolah siswa yang tidak mampu, membayar hutang jamaah yang kesulitan membayar hutang dan sebagainya. Masjid Jogokariyan mampu mengumpulkan zakat hingga 2,9 miliar per tahun. Melalui program pemberdayaan ekonomi. Sebagian pembayar zakat dulunya merupakan mustahiq.
Ketiga, ciri kemakmuran masjid ketika masjid mampu membuat jamaah tidak takut kepada siapapun kecuali takut kepada Allah SWT. [e]
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow