Metode Field Trip ala Ahmad Dahlan
Sekolah hari ini banyak yang dipenuhi teknologi digital. Murid duduk berjam-jam di depan presentasi digital, menyimak video pembelajaran, lalu pulang dengan tumpukan tugas yang harus diunggah sebelum tengah malam. Pendidikan terasa semakin modern, tetapi sekaligus agak jauh dari kehidupan nyata. Anak-anak mengenal banyak konsep, namun sering kesulitan memahami manusia dan lingkungannya sendiri.
Di banyak ruang kelas, proses pembelajaran berubah menjadi rutinitas administratif. Guru sibuk mengejar target kurikulum, sementara murid perlahan kehilangan rasa ingin tahunya. Kegiatan belajar yang seharusnya membangkitkan pengalaman justru kerap terasa mekanis. Tidak sedikit murid yang cerdas secara akademik, tetapi gugup ketika harus berinteraksi dengan masyarakat langsung.
Pengetahuan seakan diperlakukan sebagai sesuatu yang cukup dijelaskan lewat buku, papan tulis, dan ujian. Fenomena itu sebenarnya memperlihatkan satu persoalan mendasar: pendidikan banyak ditunaikan di dalam ruang kelas.
Pendidik Sejati
Di Tengah situasi seperti itu, menarik membaca kembali jejak K.H. Ahmad Dahlan lebih dari seabad silam. Banyak orang mengenal dan mengenangnya sebagai pembaru Islam, pendiri sekolah modern, atau tokoh tajdid (pembaruan). Namun di balik itu, Ahmad Dahlan sesungguhnya juga seorang pendidik sejati yang memahami pentingnya pengalaman langsung dalam proses belajar. Ia tampaknya sadar bahwa manusia tidak cukup dibentuk hanya lewat ceramah dan hafalan.
Kesadaran tersebut terlihat dalam sebuah catatan kecil yang sering luput dibicarakan. Koran berbahasa Jawa dan Melayu, Bromartani edisi 15 September 1915, memberitakan bahwa “Kiai Ahmad Dahlan alias Khatib Amin mengajak murid-murid laki-laki dan perempuan pergi ke Taman Sriwedari di Surakarta”. Sepintas kegiatan itu tampak sederhana, bahkan mungkin dianggap sekadar rekreasi biasa. Namun jika dilihat dalam konteks zamannya, tindakan itu sesungguhnya sangat progresif.
Awal abad ke-20 adalah masa ketika pendidikan masih berlangsung secara kaku dan hierarkis. Guru diposisikan sebagai pusat pengetahuan, sedangkan murid hanya mendengar dan menghafal. Perempuan pun belum memperoleh ruang pendidikan yang luas. Dalam suasana sosial seperti itu, membawa murid laki-laki dan perempuan bepergian bersama untuk belajar dari ruang publik merupakan langkah yang tidak biasa.
Tidak hanya itu, tempat tujuan Ahmad Dahlan juga bukan ruang sembarangan. Taman Sriwedari pada masa itu merupakan simbol modernitas Kota Surakarta. Dibangun pada era Sri Susuhunan Pakubuwana X, kawasan tersebut menjadi pusat hiburan rakyat dan sekaligus ruang publik modern yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai lapisan sosial. Dari wayang orang, pertunjukan seni, pertemuan massa, hingga percakapan politik bercampur menjadi denyut kehidupan kota.
Karenanya, Sriwedari bukan hanya taman hiburan. Tempat itu juga menjadi ruang sosial penting bagi umat Islam awal abad ke-20. Di sana pernah berlangsung berbagai pertemuan besar yang melibatkan ribuan orang. Salah satu yang terkenal adalah vergadering umat Islam pada 24 Februari 1918 yang dihadiri lebih dari 20.000 massa sebagai respons atas penghinaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Sriwedari memperlihatkan bagaimana ruang publik modern dapat menjadi arena tumbuhnya kesadaran sosial dan solidaritas keagamaan.
Ahmad Dahlan tampaknya memahami nilai pendidikan dari ruang seperti itu. Ia tidak ingin murid-muridnya hanya mengenal dunia dari balik tembok sekolah. Mereka perlu melihat keramaian masyarakat, menyaksikan perubahan zaman, memahami budaya populer, dan belajar membaca kehidupan umat Islam secara langsung. Karena itulah, pendidikan dalam pandangan Ahmad Dahlan, bukanlah sebuah proses pengasingan manusia dari realitas sosial.
Hari ini pendekatan pembelajaran yang diterapkan Ahmad Dahlan dikenal sebagai metode field trip. Dalam dunia pendidikan modern, field trip dipahami sebagai pembelajaran di luar kelas yang memungkinkan murid memperoleh pengalaman langsung terhadap suatu objek atau fenomena. Metode ini dipercaya mampu meningkatkan motivasi belajar, memperkuat pemahaman, sekaligus mengembangkan keterampilan sosial dan kreativitas murid. Namun jauh sebelum istilah itu populer di dunia pedagogi modern, Ahmad Dahlan tampaknya sudah mempraktikkan semangat serupa.
Ahmad Dahlan agaknya sangat memahami bahwa manusia dapat belajar secara mendalam ketika ia mengalami sesuatu secara nyata. Pengetahuan yang hanya disampaikan secara verbal mudah menguap dari ingatan. Sebaliknya, pengalaman langsung sering meninggalkan jejak psikologis yang sangat kuat. Apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami sendiri biasanya lebih membekas dibanding serangkaian nasihat panjang.
Cara berpikir seperti itu sebenarnya tampak konsisten dalam pendekatan pendidikan yang diterapkan Ahmad Dahlan. Ketika mengajarkan surat Al-Ma’un, misalnya, beliau tidak berhenti pada membaca dan menghafal teks. Murid-murid diajak menemui fakir miskin dan anak yatim. Tafsir tidak berhenti sebagai teori, melainkan berubah menjadi tindakan sosial. Pendidikan agama di tangan Ahmad Dahlan dikreasikan menjadi latihan membangun empati.
Di titik inilah Ahmad Dahlan terlihat bukan sekadar guru agama. Ia adalah pendidik sejati dengan intuisi psikologis yang tajam. Ia memahami bahwa kesadaran manusia tidak cukup dibentuk lewat hafalan. Kepedulian sosial bisa tumbuh ketika seseorang berjumpa langsung dengan kenyataan hidup. Dari pengalaman konkret itulah lahir rasa iba, tanggung jawab, dan keberanian bertindak.
Masa Depan Pendidikan
Pendekatan field trip yang diterapkan Ahmad Dahan memang terasa sangat maju pada zamannya. Sebagian masyarakat ketika itu masih memandang ruang publik modern dengan penuh kecurigaan. Namun Ahmad Dahlan justru mengajak murid memasuki ruang sosial yang dinamis. Ia tidak mendidik generasi muda untuk takut pada perubahan zaman, melainkan membekali mereka agar mampu hadir di tengah modernitas tanpa kehilangan arah moral.
Di sinilah letak penting tajdid (pembaruan) Ahmad Dahlan. Pembaruan yang dilakukan bukan hanya soal organisasi atau sistem sekolah. Ia juga memperbarui cara pandang tentang pendidikan itu sendiri. Belajar bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid, melainkan proses membentuk cara berpikir dalam melihat dunia.
Semangat seperti itu sayangnya perlahan mulai jarang terasa dalam pendidikan modern. Sekolah hari ini sering sibuk mengejar capaian administratif dan angka-angka akademik. Murid didorong memahami banyak materi, tetapi tidak selalu diberi kesempatan untuk mengalami kehidupan secara langsung. Pengetahuan akhirnya terasa jauh dari realitas sosial.
Krisis empati yang muncul di era digital mungkin berkaitan dengan situasi tersebut. Banyak orang begitu mudah berkomentar tentang kemiskinan, ketimpangan, atau penderitaan sosial tanpa pernah benar-benar melihat kehidupan masyarakat kecil. Media sosial membuat manusia cepat bereaksi, tetapi sering gagal memahami. Dunia terasa dekat di layar, namun jauh secara emosional.
Karena itu, metode field trip ala Ahmad Dahlan menjadi sangat relevan untuk dibaca ulang. Pendidikan Islam tidak cukup melahirkan generasi yang pandai berbicara tentang moralitas. Sekolah juga harus menghadirkan pengalaman yang membentuk kepekaan sosial murid. Anak-anak perlu diajak mengenali masyarakat, budaya, dan persoalan kemanusiaan secara nyata.
Barangkali inilah yang dahulu dipahami Ahmad Dahlan ketika membawa murid-muridnya ke Sriwedari. Ia sedang mengajarkan bahwa belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kehidupan itu sendiri adalah sekolah besar yang harus dibaca dengan mata terbuka dan hati yang hidup. Dari sana para murid bisa belajar memahami manusia, perubahan sosial, sekaligus tantangan zamannya.
Pada akhirnya, perjalanan kecil ke Sriwedari tahun 1915 itu bukan sekadar kisah nostalgia. Di balik langkah sederhana itu sejatinya tersimpan pandangan besar tentang manusia dan pembelajaran. Ahmad Dahlan ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga matang secara sosial dan emosional.
Mungkin di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk oleh layer digital, angka, dan administrasi, pesan itu justru terasa semakin penting hari ini. Sebab pendidikan sejati tidak hanya membuat manusia pandai menjawab soal. Pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang membantu seseorang memahami kenyataan, merasakan penderitaan orang lain, dan belajar membaca zaman dengan hati yang jernih.
Penulis: Dr. Farid Setiawan, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta | Dosen PAI Universitas Ahmad Dahlan)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow