Sapu-sapu dan Kesejahteraan Hewan
Saat ini sedang ramai, pemburuan besar-besaran ikan yang dikenal menjadi hama bagi ekosistem sungai. Di sisi lain, ahli agama juga ikut komentar tentang pembunuhan hewan besar-besaranyang dipandang tidak sejalan dengan prinsip Islam.
Mengenal si Sapu-sapu
Ikan sapu-sapu, yang umumnya masuk ke genus Pterygoplichthys dan ada juga Hypostomus, mereka masuk ke dalam ordo Siluriformes, ordo yang mencakup ikan-ikan yang mempunyai sungut, termasuk Ikan patin, ikan manyung, dan ikan lele. Organ ini sejatinya disebut barbel yang berfungsi sebagai indra peraba atau sensor. Keunikan dari ikan ini adalah memakan alga, yang dapat membersihkan akuarium. Maka, mungkin di antara kita yang memelihara ikan, pasti pernah memasukkan ikan sapu-sapu untuk menjadi ikan pembersih.
Masalah terjadi saat kita menyalurkan apresiasi dan rasa sayang ke ikan sapu-sapu, tapi tidak menggunakan ilmu. Tidak tercatat berapa banyak orang yang melepaskan ikan sapu-sapu ke Sungai, namun nyatanya, ikan sapu-sapu ini akhirnya menjadi penguasa sungai di Indonesia. Ikan asli Amerika Selatan ini bersifat invasif, karena dengan ketahanannya yang luar biasa, dan hampir bisa memakan apapun, termasuk memakan telur ikan asli Indonesia.
Selain itu, tubuh ikan sapu-sapu tidak bersisik biasa, melainkan dilapisi kepingan tulang keras (scutes) yang melindungi mereka dari predator seperti burung atau ikan predator lokal. Seringkali ikan sapu-sapu tersangkut di jaring nelayan dan merusak alat tangkap karena kulitnya yang kasar dan berduri.
Prinsip Kesejahteraan Hewan
Secara umum, etika kesejahteraan hewan telah berkembang di dalam ranah penelitian sains dan kesehatan, khususnya pada uji pre-klinis berkaitan dengan hewan coba. Selain itu kesejahteraan hewan juga mencakup kesejahteraan hewan liar, hewan ternak, maupun hewan peliharaan. Kesejahteraan hewan/animal welfare bertumpu pada beberapa prinsip, salah satunya adalah prinsip 3 R, yang saat ini sudah berkembang menjadi 3+2 atau 5 R
Secara Teori penerapan prinsip 3+2 R dalam menangani fenomena ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif menuntut keseimbangan antara kebutuhan ekologis dan etika kesejahteraan hewan. Prinsip ini dimulai dengan replacement, yakni mencari metode pengendalian populasi yang tidak melibatkan pemusnahan fisik jika memungkinkan, disusul oleh reduction untuk meminimalkan jumlah individu yang harus dieksekusi melalui strategi manajemen wilayah yang terukur.
Dalam hal pemusnahan harus dilakukan, refinement menjadi krusial untuk memastikan metode pembunuhan dilakukan dengan cepat dan tanpa rasa sakit (eutanasia), bukan dengan membiarkan mereka kering di daratan atau dipukul secara brutal.
Aspek responsibility menuntut tanggung jawab penuh dari pelaksana atau masyarakat agar proses terminasi dilakukan secara profesional dan bangkainya dikelola dengan benar agar tidak mencemari lingkungan, sementara prinsip respect menekankan bahwa meskipun ikan sapu-sapu berstatus hama atau invasif, mereka tetaplah makhluk hidup yang memiliki sentience (perasaan), sehingga tindakan eliminasi harus dilakukan dengan rasa hormat tanpa unsur penyiksaan atau kebencian.
Secara praktik, sangat sulit dalam kita melakukan replacement maupun reduction. Meskipun secara alami ikan sapu-sapu tidak punya predator alami di sungai-sungai Indonesia, sudah banyak penghobi hewan yang memelihara otter yang bisa memakan ikan-ikan, termasuk ikan sapu-sapu. Otter adalah sejenis berang-berang karnivor liar yang tersebar di eropa dan asia. Dengan taringnya dia bisa mengkonsumsi ikan sapu-sapu dengan mudah.
Namun sekali lagi, jangan gegabah untuk melepaskan otter di sungai-sungai kita, karena belum validasi dari peneliti ekologi bahwa kehadiran otter tidak akan mengganggu keseimbangan ekosistem di wilayah yang bukan habitat aslinya.
Refleksi antara Kemanusiaan dan Kerusakan Lingkungan
Mari kita pahami bersama, bahwa kejadian rusaknya keseimbangan alam tidak hanya fokus pada ikan sapu-sapu nya, namun sebenarnya harus kembali ke kita sendiri. Marilah kita tidak lagi berperilaku yang jauh dari ilmu dan mengabaikan kepakaran. Marilah kita tidak hanya menilai kebenaran dari apa yang kita anggap benar, namun kebenaran yang berbasis bukti dan berpegang pada data. Kejadian invasi ikan sapu-sapu tidak akan terjadi apabila masyarakat sadar bahwa, tidak semua yang mereka anggap baik, itu baik.
Penulis: Afghan Azka Falah, S.Si. (Ketua Bidang Kesehatan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) D.I. Yogyakarta | Sarjana Biologi di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada | Mahasiswa Magister Bioetika di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow