Ahmad Dahlan dan Dialog yang Menggerakkan
Di tengah banjir informasi hari ini, manusia tampak semakin sulit berdialog. Percakapan di ruang publik sering berubah menjadi arena saling menyerang. Media sosial dipenuhi komentar singkat yang tergesa-gesa, sementara kemampuan manusia untuk mendengar perlahan mulai menghilang. Banyak orang ingin segera menang dalam perdebatan, tetapi enggan memahami pikiran orang lain.
Fenomena seperti itu tidak hanya terjadi dalam ruang politik atau budaya digital. Dunia pendidikan pun perlahan mulai mengalami gejala serupa. Banyak proses belajar berlangsung satu arah, di mana guru sekadar mentransfer pengetahuan, sehingga kesadaran tidak selalu tumbuh dalam diri murid. Murid mungkin hafal banyak teori, namun tidak sungguh-sungguh memahami maknanya. Padahal pendidikan sejatinya bukan sekadar transfer of knowledge (pengetahuan) tetapi juga transfer of values and principles (nilai dan prinsip). Pendidikan adalah proses membangkitkan cara berpikir dan membentuk kepekaan nurani manusia.
Di titik inilah dialog menjadi penting. Sebab manusia sering kali berubah bukan ketika diperintah, melainkan disaat kesadarannya disentuh melalui percakapan yang hidup. Karena itu menarik membaca kembali metode pendidikan K.H. Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20. Banyak orang yang belum melihat kedalaman pendekatan pedagogis Ahmad Dahlan. Padahal Ahmad Dahlan bukan hanya guru agama, tetapi juga seorang pendidik sejati yang memahami psikologi perkembangan manusia serta seni membangun kesadaran diri melalui dialog.
Apa itu Metode Hiwar?
Dalam tradisi pendidikan Islam, metode yang sering digunakan Ahmad Dahlan itu dikenal dengan istilah hiwar. Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany menyebutnya sebagai metode dialog dan perbincangan, yakni percakapan silih berganti antara dua orang atau lebih yang diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan. Metode ini bukan sekadar tanya jawab biasa. Tujuan akhirnya adalah membentuk rasa, sikap, dan perilaku manusia.
Menariknya, Ahmad Dahlan menggunakan pendekatan tersebut dengan sangat kreatif. Ia tidak sekadar memberi ceramah panjang kepada murid-muridnya. Ia justru memancing pertanyaan, kegelisahan, bahkan protes. Dari sana ia membangun kesadaran secara perlahan. Pendidikan tidak dipahami sebagai proses menundukkan murid, melainkan menggerakkan akal, batin (nurani) dan budi pekerti mereka sekaligus.
Salah satu kisah paling terkenal adalah “geger al-Ma’un”, sebuah legenda di lingkungan Muhammadiyah yang hingga kini terus diceritakan dari generasi ke generasi. Menurut kesaksian K.R.H. Hadjid, Ahmad Dahlan berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, hanya mengajarkan surat al-Ma’un kepada murid-muridnya. Situasi itu membuat para murid bingung dan sekaligus cemas. Mereka merasa pelajaran tidak bergerak ke mana-mana.
Di tengah kebingungan itu, salah seorang murid bernama Syuja’ akhirnya memberanikan diri bertanya. “Kiai, mengapa hanya Q.s. al-Ma’un yang diajarkan pada kami?” Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dalam budaya pendidikan Islam saat itu. Di banyak pesantren awal abad ke-20, murid cenderung pasif dan nyaris tidak mungkin memprotes guru. Jangankan protes, berdialog dengan secara langsung menatap wajah guru saja tidak mungkin dilakukan.
Namun demikian, Ahmad Dahlan justru membuka ruang dialog itu. Ia tidak marah atau tersinggung. Ia menjawab pertanyaan tersebut dengan dialog yang perlahan mengguncang kesadaran murid-muridnya. “Apa kamu sudah mengerti betul?” tanya Ahmad Dahlan. Ketika murid menjawab bahwa mereka sudah hafal, Ahmad Dahlan kembali bertanya: “Kalau sudah hafal, apa sudah kamu amalkan?”
Percakapan itu kemudian bergerak ke arah yang jauh lebih dalam. Ahmad Dahlan lantas menjelaskan bahwa memahami al-Ma’un bukan sekadar menghafal ayat atau membacanya dalam salat. Surat itu perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena itu, pengajian ditutup, dan murid-murid diminta mencari orang-orang miskin, memandikan mereka, memberi pakaian bersih, makanan, dan bahkan tempat tidur.
Jika dibaca sepintas, dialog tersebut memang tampak sangat sederhana. Namun di balik percakapan singkat itu terdapat strategi pendidikan yang sangat maju. Ahmad Dahlan tidak hanya membangkitkan aspek kognitif murid, tetapi juga afeksi dan tindakan nyata. Ia sedang mengajarkan agama Islam dari sekadar pengetahuan menjadi pengalaman moral yang hidup.
Pendekatan seperti itu mencerminkan sosok Ahmad Dahlan sangat memahami psikologi perubahan dan perkembangan manusia. Ia paham bahwa kesadaran manusia tidak lahir dari indoktrinasi semata. Manusia benar-benar memahami sesuatu yang baru ketika akalnya digugah, emosinya disentuh, lalu tubuhnya dilibatkan dalam tindakan yang konkret. Inilah cermin dari pendidikan sebagai proses yang utuh: berpikir, merasakan, dan bertindak.
Ahmad Dahlan tampaknya sengaja menciptakan situasi pedagogis dengan memancing respons kritis murid. Dengan mengulang materi yang sama dalam waktu lama, ia membangun rasa penasaran dan kegelisahan psikologis. Dari kegelisahan itulah lahir pertanyaan. Dan dari pertanyaan itulah proses pendidikan dimulai.
Cara belajar seperti ini terasa sangat berbeda dibanding pola pendidikan tradisional yang menempatkan murid sekadar sebagai penerima pengetahuan. Ahmad Dahlan justru malah mendorong murid-muridnya memahami agama dengan menggunakan akal pikiran secara kritis. Ia ingin mereka menemukan makna ajaran Islam melalui kesadaran sendiri, bukan hanya menerima secara pasif. Di titik inilah pembaruan Ahmad Dahlan sesungguhnya bekerja sangat mendalam.
Melalui metode hiwar, Ahmad Dahlan perlahan mendekonstruksi tradisi taklid yang telah berkembang di masyarakat. Ia tidak ingin umat Islam hanya mengikuti pendapat atau ajaran guru agama tanpa memahami makna dan ruhnya. Karena itu, proses pembelajaran Al-Qur’an yang diterapkan Ahmad Dahlan dilakukan melalui tadabbur yaitu membaca, memikirkan, mempertanyakan, lalu mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata.
Legacy yang terlupakan
Hari ini, pendekatan tersebut terasa semakin relevan. Dunia digital membuat manusia terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa proses refleksi mendalam. Banyak orang yang mengutip ayat, hadis, atau pendapat ulama di media sosial, tetapi tidak selalu memahami konteks dan maknanya. Agama sering kali berhenti pada slogan, bukan kesadaran etis.
Dalam situasi seperti itu, metode hiwar yang digunakan Ahmad Dahlan menawarkan sesuatu yang penting, yakni keberanian berpikir. Pendidikan Islam tentu saja tidak cukup hanya melahirkan generasi yang pandai menghafal dalil. Sekolah dan pengajian juga harus membentuk manusia yang mampu berdialog, bertanya, merenung, serta menghubungkan ajaran agama Islam dengan realitas sosial.
Yang lebih penting lagi, Ahmad Dahlan telah menunjukkan bahwa dialog bukan tanda kelemahan otoritas guru. Justru melalui percakapan terbuka itulah, seorang pendidik dapat membangun kedekatan emosional dan sekaligus menghidupkan daya kritis murid. Pendidikan yang sehat bukan pendidikan yang menegasikan pertanyaan, melainkan yang menuntun rasa ingin tahu menuju kesadaran baru.
Barangkali, metode inilah salah satu legacy (peninggalan) Ahmad Dahlan yang sering terlupakan. Ia tidak hanya mendirikan sekolah modern, tetapi juga membangun budaya berpikir dalam pendidikan Islam. Ia memahami bahwa perubahan sosial tidak lahir dari manusia yang sekadar patuh, melainkan dari pribadi yang sadar dan mampu membaca makna hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, metode hiwar di tangan Ahmad Dahlan bukan sekadar teknik mengajar. Ia adalah cara memanusiakan manusia melalui sistem pendidikan yang humanis. Metode dialog telah digunakan secara efektif untuk membangunkan akal, melembutkan hati, dan sekaligus mendorong tindakan sosial yang nyata. Dan mungkin, di tengah zaman yang semakin gaduh oleh kebisingan informasi hari ini, peninggalan itu justru terasa semakin mendesak untuk dihidupkan kembali dalam ruang pendidikan kita.
Penulis: Dr. Farid Setiawan, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta | Dosen PAI Universitas Ahmad Dahlan)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow