Opini

Opini

Opini

Jun 16, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Apa Pentingnya Takwa?

Di bulan Ramadhan, term takwa menjadi perbincangan hangat, (seperti hangatnya perbincangan mengenai term teroris saat ini atau hangatnya perbincangan mengenai Setnov dan kawan-kawan dengan term korupsinya beberapa waktu yang lalu atau juga hangatnya perbincangan mengenai term #2019GantiPresiden). Lewat mimbar yang mulia, para mubaligh maupun mubalighah menyerukan bahwa ibadah puasa merupakan sarana bagi setiap mukmin untuk menggapai ketakwaan. Landasan teologisnya tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183. Lalu apa sebenarnya takwa itu? Dan apa pentingnya takwa itu?

Menurut keterangan Muhammad Fu’ad ‘Abd Al-Baqi dalam karya monumentalnya Al-Mu’jam Al-Mufahras Li Al-Fazh Al-Qur’an, term takwa dalam Al-Qur’an berjumlah sebanyak 242 ayat dan tersebar pada 61 surat. Banyaknya term takwa yang tersebar di berbagai surat dalam Al-Qur’an tersebut menunjukkan bahwa takwa harus menjadi titik fokus/perhatian penting bagi setiap muslim. Memang kata takwa ini sangatlah populer di telinga kita, akan tetapi sudahkah takwa itu terpancar dalam diri kita? Kalau melihat realitas yang ada, khususnya di bumi Indonesia ini, sangat marak dengan berbagai aksi kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang katanya mengenal takwa. Tindakan kejahatan seperti pembunuhan, penganiayaan, prostitusi, korupsi, kebiadaban berpolitik, kebrutalan di media sosial, terorisme, narkoba, dan lain sebagainya itu seakan-akan menjadi hal yang biasa saja terjadi di bumi beriman ini. Aneh memang.

Mari kita simak dan resapi hakikat takwa dengan sebenar-benarnya. Dalam Al-Qur’an Allah SWT menuturkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim/ 66: 6). Berdasarkan ayat tersebut dapatlah kita pahami bahwa pada hakikatnya takwa itu ialah memelihara diri dari segala sesuatu yang mendatangkan kemarahan Allah SWT dan memelihara diri dari segala sesuatu yang mendatangkan kemudharatan, baik bagi dirinya maupun orang lain.

Hendaknya setiap mukmin perlu berhati-hati dalam meniti jalan kehidupan di dunia ini. Sebab, di dalam dunia ini banyak sekali jebakan-jebakan yang akan menjerumuskan kita kepada kebinasaan. Tentu kita tidak ingin terjebak dalam kebinasaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Oleh sebab itu, di sinilah letak pentingnya takwa itu. Pertama, takwa menjadi benteng pertahanan kita. Sebab, takwa ini semacam nur (cahaya) dalam diri kita sehingga mampu melihat mana yang haq dan mana yang bathil. Jika takwa senantiasa terpancar dalam diri kita maka kita akan dapat mengenal jejak-jejak setan yang akan menjerumuskan kita kepada kebinasaan tersebut dan InsyaAllah kita akan terhindar dari bahaya yang mengancam hidup kita.

Kedua, kehidupan kita tidak berakhir di dunia ini saja, akan tetapi akan berlanjut kepada kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat inilah real of life. Nah, untuk menghadapi kehidupan akhirat ini kita perlu bekal yang memadai yang harus dipersiapkan selagi masih hidup di dunia. Ketahuilah bahwa sebaik-baik bekal itu ialah bekal takwa.

Allah SWT berfirman, “Berbekallah kamu sekalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah/ 2: 197). Sekali lagi, sungguh takwa itu amat sangat penting bagi kita.

Ketiga, kenapa takwa begitu penting? Jawabannya adalah karena takwa itu akan mendatangkan limpahan berkah dari langit dan bumi. Sebagaimana Allah SWT menuturkan, “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf/ 7: 96).

Dengan demikian, jelaslah bahwa selama kejahatan-kejahatan masih saja terjadi di negeri yang kita cintai ini maka tampaknya akan sangat sulit mengharap datangnya keberkahan dan keridhaan Allah SWT. Akan tetapi, jika kita insaf dan mau menghentikan prilaku-prilaku menyimpang tersebut, kemudian menggantikannya dengan prilaku-prilaku takwa maka InsyaAllah keberkahan itu akan menyelimuti diri kita dan juga menjadikan negeri kita negeri yang adil dan makmur yang diridhai Allah SWT, “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Wallahu a’lam bishshawaab.


*Penulis adalah Alumni FAI UAD & Anggota Komunitas Literasi Janasoe

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here