Masjid Jogokariyan (10) : Beragam Layanan Ramah untuk Lansia

Masjid Jogokariyan (10) : Beragam Layanan Ramah untuk Lansia

Smallest Font
Largest Font

Ketika lansia sepi di rumah, tidak ada yang diajak berbincang. Masjid menjadi tujuan, tetapi ketika datang ke masjid, masjidnya masih gelap, masih dikunci, tidak ada yang melayani.

Ustaz HM. Jazir, ASP.

Menurut Ustaz Jazir, ASP. ke depan ada satu tren yang cukup mengkhawatirkan, karena diperkirakan komposisi demografis penduduk Indonesia dalam 10 tahun ke depan akan didominasi oleh usia lanjut atau dikenal dengan tsunami silver (tsunami rambut perak). Saat ini provinsi dengan harapan hidup tertinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dengan usia harapan hidup mencapai rata-rata 78 tahun untuk perempuan dan 76 tahun untuk laki-laki.

Diperkirakan pada tahun 2035 jumlah penduduk usia lanjut menjadi dominan. Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) lebih banyak dibanding jumlah penduduk yang berada dalam produktif. Maka beban generasi yang akan datang lebih berat. Selain harus mengurus anak atau keluarga mereka juga mengurus orang tua yang lansia. Menurut Ustaz Jazir, sampai saat ini pemikiran sebagian besar masyarakat Indonesia masih memprioritaskan nuclear family (keluarga inti), yang terdiri dari ayah-ibu dan anak-anak. Sehingga penyediaan kamar dan fasilitasnya pun hanya khusus untuk keluarga inti. Tidak termasuk para lansia.

Tidak heran jika banyak lansia yang merasa tidak nyaman ketika ikut anak-anak mereka. Dan memilih hidup sendiri meskipun dalam keterbatasan. Padahal kebutuhan lansia sangat kompleks melebihi kebutuhan anak-anak dan usia muda. Institusi sosial seperti masjid menjadi sangat penting. 

Para lansia sering merasa kesepian, karena bagi mereka yang berumur lebih dari 65 tahun, biasanya akan susah tidur lagi ketika terbangun pada tengah malam. Mereka tidak memiliki teman berbincang karena hidup sendirian atau anggota keluarga yang lain masih tertidur. Maka mereka memerlukan komunitas yang bisa menghilangkan kesepian itu. Tempat yang bisa menjadi alternatif terbaik adalah masjid.

Sayangnya banyak masjid yang tidak ramah lansia atau belum ramah lansia. Banyak masjid yang tidak terbuka 24 jam. Sehingga ketika malam hari masjid dikunci dan gelap karena lampu dimatikan. Para lansia tidak bisa memanfaatkannya.

Maka hal-hal semacam ini, diantisipasi oleh Masjid Jogokariyan dengan memberikan layanan yang ramah terhadap lansia.

Pertama, Masjid Buka 24 Jam

Ketika Masjid di Jogokariyan dibuka 24 jam, pintu selalu terbuka, dan lampu terang benderang pada malam hari, banyak lansia yang datang pada dini hari untuk beribadah, ada yang ingin itikaf, salat tahajut, atau tadarus karena banyak teman. Agar mereka merasa aman, pihak masjid menyiapkan security untuk berjaga, ada fasilitas kesehatan seperti tabung oksigen mengantisipasi jika tiba-tiba ada yang sesak nafas di masjid.

Kebijakan menyalakan lampu dan membuka pintu 24 jam di Masjid Jogokariyan tidak langsung diterima pengurus takmir atau jamaah. Ada sebagian yang berpendapat sebagai pemborosan. Tetapi dengan memberikan pengertian secara bertahap, akhirnya kebijakan tersebut sampai sekarang bisa berjalan. Sehingga Masjid Jogokariyan menjadi jujugan baik jamaah lokal maupun mereka yang dalam perjalanan, karena tahu masjid buka 24 jam.

Kedua, Sarana dan Prasarana Ramah Lansia

Pihak Masjid Jogokariyan menyediakan Ambulan yang standby siap melayani apabila jamaah perlu bantuan ke rumah sakit. Tersedia juga air hangat, air dingin, yang belum tentu tersedia di rumah-rumah jamaah. Dari sisi desain, masjid juga dirancang agar mudah diakses lansia. Mulai dari tangga yang dibuat ramah lansia, tidak terlalu tinggi dan memiliki pegangan (handrail). 

Termasuk akses ke toilet, disediakan pegangan dan lantai dibuat agar tidak licin. Penempatan toilet juga harus diperhatikan, agar tidak terlalu jauh agar para lansia mudah dan cepat untuk mengaksesnya.

Saat ini Masjid Jogokariyan bahkan telah menyediakan lift untuk memudahkan para lansia naik ke lantai atas. Menurut Ustaz Jazir, ide itu muncul ketika melihat lansia itu datang sudah sepuh (renta), akan naik ke lantai atas, ia harus berhenti setiap tangga dan terengah-engah, kemudian naik lagi secara bertahap. "Dan ketika itu kemudian kami unggah di media sosial, tegakah kita membiarkan lansia kita terengah-engah sekedar untuk bisa ikut berjamaah? Kemudian kita beri kesempatan untuk kita memuliakan lansia dengan menyediakan lift dengan kapasitas 10 orang ke lantai tiga. Saat itu harganya sekitar Rp820 juta," terang Ustaz Jazir.

Ternyata tidak sampai sepuluh hari sudah terhimpun sekitar Rp900 juta. Karena keterpanggilan melayani lansia.

Ini selaras dengan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW. agar kita berbuat baik kepada orang tua. 

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).

Abdullah bin Mas’ud menyebtukan seorang lelaki yang meminta izin kepada Rasulullah SAW. untuk pergi berjihad, beliau bersabda:

“Apakah orang tuamu masih hidup?”. Lelaki tadi menjawab: “Iya”. Nabi bersabda: “Kalau begitu datangilah kedunya dan berjihadlah dengan berbakti kepada mereka” (HR. Bukhari dan Muslim). [e]

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    1
    Wow

Berita Terkait