Masjid Jogokariyan (4) : Gerakan Mensalatkan Orang Hidup
“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka“. (HR. Abu Daud)
Di antara program unik yang dijalankan Masjid Jogokariyan berupa mensalatkan orang hidup. Jika selama ini, orang disalatkan setelah meninggal, maka di Jogokariyan orang-orang yang masih hidup juga disalatkan (diajak untuk melaksanakan salat). Langkah pertama yang dilakukan dengan melakukan pendataan.
Pada Bulan Desember tahun 1999 takmir Masjid Jogokariyan melakukan sensus jamaah. Hasilnya diketahui, penduduk Jogokariyan berjumlah 2.973 jiwa. Penduduk muslim 2.642 jiwa. Dan penduduk non muslim 511 jiwa.
Dari 2.642 muslim, diketahui yang sudah wajib mengerjakan sholat, artinya umur 13 tahun ke atas itu mencapai 1.839. Mereka yang sudah wajib shalat tetapi belum mengerjakan shalat, waktu itu masih 816. Berarti pelayanan pertama yang harus kita lakukan adalah menshalatkan orang hidup ini. Menshalatkan hidup-hidup.
Pihak masjid berusaha mengajak mereka yang belum shalat untuk mau mengerjakan shalat. “Maka kami silaturahim, kunjungi dari rumah ke rumah, menawarkan barangkali berkenan mau belajar shalat, kita akan bimbing, kita ajarin dengan baik,” terang Ustadz Jazir.
Pihak masjid menggandeng para pembimbing shalat, yang sebagian merupakan para pensiunan Kementerian Agama. Mereka melakukan bimbingan dari rumah ke rumah. Karena ternyata ada jamaah yang belum mengerjakan shalat karena malu belum bisa shalat.
Sedangkan jamaah yang belum mau berjamaah ke masjid, juga dengan telaten diajak berjamaah ke masjid. Supaya senang digembirakan di masjid. Karena adanya seruang haya ala shalah, haya alal falah. Ayo berjamaah ke masjid, ayo bahagia. Maka ketika datang ke masjid, mereka digembirakan. Misalnya, seusai melaksanakan shalat subuh, disediakan kopi susu.
“Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim)
Pihak masjid juga memberikan perhatian kepada jamaah yang kehilangan sandal atau barang bawaan lain.
“Jangan sampai kecewa ada yang keluar dari masjid, wajahnya merah, lihat kanan-kiri. Saya tanya, ‘Ada apa Pak?;”
“Sandal saya hilang.”
“Apa mereknya Pak?”
“Carveil, seharga Rp475.000, baru beli kemarin.”
“Sudah Pak, nanti kami ganti dengan yang baru.”
Maka di Masjid Jogokariyan dipasang pengumuman. “Jika Anda kehilangan sandal, sepatu, sepeda, sepeda motor di masjid ini, akan kami ganti, dengan merek dan tipe yang sama. Takmir bertanggung jawab.
Sehingga bukan hanya sandal, sepeda motor jika hilang di masjid pengurus masjid bertanggung jawab.
Selain itu, sebagai langkah antisipasi, Masjid Jogokariyan memasang sejumlah CCTV untuk mengawasi dan mengangkat tenaga satpam untuk menjaga keamanan.
Memberikan Perhatian Kepada Jamaah
Untuk mengajak jamaah shalat di Masjid, pihak masjid membuat undangan khusus. Mirip dengan undangan pernikahan. Undangan dikirimkan kepada penduduk Jogokariyan yang beragama Islam. Takmir juga menyediakan hadiah khusus bagi yang rutin shalat jamaah di Masjid Jogokariyan selama 40 hari. Beruapa hadiah umrah. Untuk memantau kehadiran jamaah, dipasang alat finger print. Selain hadiah umrah, takmir juga menyediakan sejumlah door prize sebagai daya tarik.
Karena konsep imam adalah imam masjid tidak sekadar imam shalat. Maka Imam masjid akan memperhatikan jamaahnya. Siapa yang tidak datang, kenapa tidak datang, ini kok ada wajah jamaah yang kuyuh, ada persoalan apa, bagaimana diberikan solusi. Karena imam adalah khodimul ummah. Pemimpin itu pelayan umat.
Pengurus masjid itu bukan penguasa masjid, tapi pelayan jamaah masjid. Dia harus mengenal siapa yang dilayani itu. Dan apa yang dibutuhkan jamaah. Sehingga pelayanan yang dilakukan bisa tepat sasaran. Untuk bisa mengetahuinya, langkah yang perlu dikakukan adalah dengan pendataan. Sehingga bisa didapatkan gambaran tentang jamaah yang akan dilayani.
"Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau kalau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari dan Muslim). [e]
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow