Menata Masa Depan Pariwisata Indonesia melalui Safety Tourism dan Keberlanjutan

Menata Masa Depan Pariwisata Indonesia melalui Safety Tourism dan Keberlanjutan

Smallest Font
Largest Font

Pariwisata selama ini identik dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan pengalaman yang mampu menghadirkan kesan mendalam bagi wisatawan. Gunung yang menjulang, pantai yang mempesona, hingga desa wisata dengan nuansa tradisional menjadi magnet yang menggerakkan jutaan orang melakukan perjalanan setiap tahunnya. 

Kehadiran sektor pariwisata tidak hanya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wajah yang memperlihatkan kekayaan alam dan budaya Indonesia kepada dunia. Namun, di balik pesona tersebut terdapat satu aspek penting yang sering kali luput dari perhatian, yaitu keselamatan. Padahal, perjalanan wisata sejatinya bukan hanya tentang menikmati destinasi, melainkan juga memastikan wisatawan dapat kembali pulang dengan aman dan nyaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kecelakaan di obyek wisata alam terus terjadi dan menjadi perhatian publik. Wisatawan terseret ombak di pantai selatan Jawa, kecelakaan pendakian gunung, perahu wisata yang tenggelam, hingga insiden kendaraan wisata yang mengalami rem blong di jalur pegunungan menunjukkan bahwa sektor pariwisata masih menghadapi persoalan serius terkait keselamatan.

Pada musim liburan, meningkatnya jumlah wisatawan yang memadati destinasi alam sering kali tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur keselamatan, pengawasan, maupun mitigasi risiko yang memadai. Akibatnya, banyak kecelakaan yang sebenarnya dapat dicegah justru berakhir menjadi tragedi yang merugikan wisatawan, pengelola wisata, bahkan citra daerah tujuan wisata itu sendiri.

Persoalan keselamatan tersebut tidak hanya terjadi dalam perjalanan menuju lokasi wisata, tetapi juga di dalam kawasan wisata itu sendiri. Banyak destinasi wisata dibangun dengan fokus utama pada estetika dan daya tarik visual, namun belum sepenuhnya memperhatikan aspek keselamatan pengunjung. Jalur yang licin, pagar pengaman yang tidak memadai, kapasitas pengunjung yang melebihi batas aman, hingga minimnya informasi evakuasi menjadi faktor yang sering memperbesar risiko kecelakaan.

Dalam banyak kasus, potensi bahaya baru disadari setelah terjadi insiden yang menelan korban jiwa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan wisata di Indonesia masih cenderung berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung dibandingkan pembangunan sistem keselamatan yang komprehensif.

Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat lagi hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi semata. Dunia kini mulai bergerak menuju konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan. Secara umum, pariwisata berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai konsep pengelolaan wisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan dan masyarakat saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam menikmati sumber daya alam, budaya, dan sosial yang sama.

Konsep ini menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, perlindungan budaya lokal, kesejahteraan masyarakat, serta keselamatan wisatawan. Dengan demikian, keberhasilan suatu destinasi wisata tidak lagi hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keberlanjutan lingkungan dan memberikan pengalaman wisata yang aman serta nyaman.

Dalam konteks inilah konsep safety tourism menjadi semakin relevan. Safety tourism merupakan pendekatan pengelolaan wisata yang menempatkan keselamatan dan keamanan sebagai bagian integral dari pelayanan wisata. Konsep ini tidak sekadar menghadirkan petugas keamanan atau papan peringatan, tetapi mencakup sistem yang lebih luas, seperti keselamatan transportasi wisata, kesiapan jalur evakuasi, kelayakan fasilitas wisata, kesiapan tenaga penyelamat, sistem mitigasi bencana, hingga edukasi wisatawan mengenai potensi risiko di lokasi wisata. Dalam perspektif pariwisata berkelanjutan, safety tourism menjadi fondasi penting karena destinasi yang aman akan lebih dipercaya, memiliki citra positif, dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Pariwisata berkelanjutan juga menuntut adanya tanggung jawab bersama antara pemerintah, pengelola wisata, masyarakat, dan wisatawan. Obyek wisata tidak boleh hanya dibangun demi mengejar viralitas atau peningkatan jumlah pengunjung, tetapi harus memperhatikan daya dukung lingkungan, keselamatan infrastruktur, pengelolaan sampah, kesiapan sistem tanggap darurat, serta kenyamanan masyarakat sekitar.

Tidak sedikit destinasi wisata yang awalnya berkembang pesat justru mengalami penurunan akibat lemahnya pengelolaan keselamatan dan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata sejatinya sangat bergantung pada kemampuan destinasi tersebut menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, keselamatan, sosial, dan lingkungan.

Dalam perspektif ergonomi dan rekayasa sistem, keselamatan wisata berkaitan erat dengan bagaimana fasilitas wisata dirancang agar aman, nyaman, inklusif, dan ramah bagi seluruh pengguna. Jalur pedestrian yang licin, pagar pengaman yang tidak memadai, akses yang sulit bagi lansia dan penyandang disabilitas, hingga kapasitas pengunjung yang melebihi batas aman merupakan contoh persoalan ergonomi yang masih banyak ditemukan di berbagai destinasi wisata. Oleh karena itu, pendekatan ergonomi menjadi penting untuk meminimalkan human error sekaligus memastikan lingkungan wisata dapat digunakan secara aman oleh seluruh kelompok masyarakat.

Persoalan keselamatan wisata yang kompleks juga tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis semata. Dibutuhkan kajian multidisiplin yang mengintegrasikan aspek manusia, teknologi, lingkungan, dan kebijakan. Dalam hal ini, keterlibatan perguruan tinggi menjadi sangat penting. Melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat membantu pemerintah daerah maupun pengelola wisata dalam melakukan identifikasi risiko, penyusunan sistem mitigasi, pengembangan standar keselamatan, hingga penyusunan konsep wisata berkelanjutan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masa depan.

Karena itu, sudah saatnya daerah tujuan wisata di Indonesia melakukan pembenahan besar-besaran, terutama terkait aspek keselamatan dan keberlanjutan. Pemerintah daerah, pengelola wisata, operator transportasi, akademisi, dan masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa keselamatan merupakan fondasi utama pariwisata masa depan.

Destinasi wisata yang aman dan berkelanjutan tidak hanya memberikan rasa nyaman bagi wisatawan, tetapi juga meningkatkan citra positif daerah dan menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat sekitar. Sebaliknya, apabila kecelakaan terus terjadi dan lingkungan wisata tidak terkelola dengan baik, maka kepercayaan wisatawan akan menurun dan berdampak langsung pada keberlangsungan sektor pariwisata itu sendiri.

Indonesia memiliki potensi wisata yang luar biasa dengan kekayaan alam dan budaya yang diakui dunia. Namun, keindahan tersebut harus diiringi dengan jaminan keselamatan dan keberlanjutan. Pariwisata masa depan bukan hanya tentang destinasi yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga tentang bagaimana wisatawan merasa aman sejak berangkat, selama berada di lokasi wisata, hingga kembali pulang. Dengan demikian, safety tourism dan pariwisata berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar sektor pariwisata Indonesia mampu tumbuh secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Safety Tourism

Keselamatan dalam pariwisata alam atau safety tourism tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan sebagai rangkaian pengalaman yang utuh sejak wisatawan meninggalkan tempat asal hingga kembali dengan selamat. Wisata alam memiliki karakteristik risiko yang khas karena melibatkan perjalanan jarak jauh, kondisi medan yang beragam, serta interaksi langsung dengan lingkungan alam yang dinamis. Oleh karena itu, keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu wisatawan, tetapi juga bagian penting dari sistem pengelolaan destinasi wisata secara menyeluruh.

Tahap pertama safety tourism dimulai sejak perjalanan menuju obyek wisata. Risiko kecelakaan lalu lintas, kelelahan pengemudi, kondisi jalan yang sempit atau rusak, serta minimnya rambu dan informasi keselamatan sering menjadi penyebab utama insiden sebelum wisatawan tiba di lokasi.

Dalam banyak kasus, kecelakaan justru terjadi pada fase perjalanan ini, meskipun sering tidak tercatat sebagai kecelakaan wisata karena berlangsung di luar kawasan destinasi. Padahal, dari sudut pandang keselamatan, perjalanan menuju lokasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman wisata itu sendiri.

Setelah wisatawan tiba di lokasi, tantangan keselamatan berlanjut di dalam kawasan wisata. Wisata alam seperti air terjun, sungai, perbukitan, atau kawasan hutan memiliki potensi bahaya yang tinggi, mulai dari jalur licin, perubahan elevasi, cuaca yang cepat berubah, hingga keterbatasan fasilitas darurat.

Kondisi tersebut diperparah oleh kurangnya pengawasan, rambu keselamatan yang tidak ergonomis, serta perilaku wisatawan yang kurang memahami risiko. Di sinilah peran pengelola destinasi menjadi sangat penting dalam mengidentifikasi bahaya dan mengendalikan risiko secara sistematis.

Selain itu, safety tourism juga mencakup keselamatan pergerakan wisatawan di dalam obyek wisata itu sendiri. Aktivitas berjalan kaki, trekking, menyeberangi sungai, atau berpindah antar titik atraksi memiliki risiko yang sering dianggap sepele. Kelelahan fisik, kepadatan pengunjung, dan desain jalur yang tidak mempertimbangkan kemampuan pengguna dapat meningkatkan potensi kecelakaan. Pendekatan ergonomi menjadi penting untuk memastikan bahwa jalur, fasilitas, dan informasi keselamatan dirancang sesuai dengan kemampuan fisik dan mental wisatawan yang beragam.

Urgensi penerapan safety tourism semakin nyata mengingat maraknya kasus kecelakaan di obyek wisata alam dalam beberapa tahun terakhir. Banyak insiden berujung pada cedera serius bahkan kehilangan nyawa, yang tidak hanya merugikan wisatawan dan keluarga, tetapi juga berdampak pada citra destinasi serta keberlanjutan sektor pariwisata itu sendiri. Tanpa pengelolaan keselamatan yang baik, keindahan alam justru dapat berubah menjadi sumber risiko yang membahayakan.

Oleh karena itu, safety tourism harus diposisikan sebagai bagian integral dari pengelolaan obyek wisata alam. Pendekatan yang holistik—mulai dari perjalanan menuju lokasi, aktivitas di kawasan wisata, hingga pergerakan di dalam obyek wisata—perlu diadopsi oleh seluruh pemangku kepentingan.

Dengan mengintegrasikan manajemen risiko, ergonomi, edukasi wisatawan, dan komitmen kelembagaan, pariwisata alam dapat berkembang tidak hanya sebagai ruang rekreasi, tetapi juga sebagai pengalaman yang aman, manusiawi, dan berkelanjutan.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng. (Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait