Menguatkan Persatuan: Jalan Panjang Muhammadiyah Menyatukan Umat dan Bangsa
Oleh: Yayan Suryana*
Salah satu dari dua belas langkah perjuangan yang dirumuskan oleh KH. Mas Mansur adalah menguatkan persatuan. Langkah ini bukan hanya cita-cita teoritis, tetapi telah menjadi denyut nadi gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya hingga kini. Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang pentingnya persatuan, tetapi secara aktif mewujudkannya dalam berbagai bidang kehidupan.
Persatuan bagi Muhammadiyah bukan semata-mata strategi sosial, tetapi merupakan ajaran Islam yang fundamental: inna hādihi ummatukum ummatan wāhidan – umat ini adalah umat yang satu (QS. Al-Anbiya: 92).
Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, Muhammadiyah melalui para tokohnya telah menunjukkan komitmen tinggi dalam menjaga persatuan nasional. Salah satu contoh paling monumental adalah peran Ki Bagus Hadikusumo dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI menjelang kemerdekaan. Ketika tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang berpotensi menimbulkan perpecahan antar golongan diminta untuk dihapus, Ki Bagus dengan jiwa besar menyetujui perubahan tersebut demi kemaslahatan bangsa. Sikap ini bukan berarti mengabaikan prinsip Islam, tetapi menegaskan bahwa persatuan bangsa lebih utama untuk diwujudkan terlebih dahulu.
Pilihan Muhammadiyah untuk meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara merupakan bentuk konsistensi yang kokoh terhadap prinsip persatuan nasional sekaligus pengejawantahan dari komitmen keislaman yang mencerahkan. Muhammadiyah tidak hanya menerima Pancasila secara formal, tetapi menempatkannya sebagai konsensus kebangsaan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan yang terkandung dalam Pancasila mencerminkan semangat Islam yang inklusif dan rahmatan lil ‘alamin.
Dalam perspektif Muhammadiyah, Indonesia yang berasaskan Pancsila ini diposisikan sebagai Darul ‘Ahdi wa al-Syahadah—negara konsensus dan tempat kesaksian keimanan serta amal shaleh. Konsep ini menegaskan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan membangun negeri ini sebagai wujud syahadah (kesaksian) atas nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kemanusiaan.
Dengan pandangan ini, konteks kebangsaan Indonesia dibaca Muhammadiyah sebagai ladang dakwah yang luas dan strategis, bukan sebagai arena pertarungan ideologis yang menajamkan perbedaan. Di sinilah semangat tajdid (pembaharuan) yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan menemukan bentuk praksisnya: memperkuat integrasi bangsa melalui kontribusi nyata dalam pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Realitasnya, Muhammadiyah hadir sebagai agen pemersatu umat dan bangsa. Sekolah-sekolah Muhammadiyah, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, terbuka untuk siapa saja tanpa membedakan agama, suku, atau latar belakang sosial. Rumah Sakit Muhammadiyah juga memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh warga bangsa, termasuk yang non-Muslim, dengan pelayanan yang setara dan penuh kasih. Amal usaha Muhammadiyah menjadi ruang di mana semangat inklusivitas dan persatuan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Semua bentuk pelayanan itu merupakan bagian dari dakwah bil hal yang menjadi kekuatan utama Muhammadiyah. Dakwah tidak lagi dibatasi pada mimbar atau ceramah, tetapi hadir dalam pengabdian sosial yang menyatukan keberagaman.
Muhammadiyah membuktikan bahwa agama, ketika dipahami secara benar dan dijalankan dengan ikhlas, justru menjadi kekuatan pemersatu, bukan pemecah. Di tengah gejala polarisasi identitas yang belakangan menguat, model pelayanan Muhammadiyah menjadi oase yang menyejukkan.
Pada ranah keumatan yang lebih luas, Muhammadiyah juga menunjukkan kepedulian tinggi terhadap persatuan umat Islam dunia. Salah satu bentuknya adalah gagasan tentang Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Inisiatif ini bukan sekadar soal penanggalan, melainkan langkah strategis dalam membangun kesatuan umat Islam lintas bangsa. Selama ini, perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri antarnegara Islam menjadi simbol nyata dari keterpecahan umat. KHGT hadir sebagai upaya intelektual, spiritual, dan organisatoris untuk menghapus sekat-sekat tersebut.
Muhammadiyah memahami bahwa penyatuan kalender Islam bukan perkara mudah. Ia menuntut kesediaan untuk membuka ruang dialog, mengalahkan ego sektoral, dan menempatkan ukhuwah islamiyah di atas kepentingan mazhab atau lokalitas. Di sinilah semangat KHGT menjadi bagian dari jalan panjang Muhammadiyah dalam menguatkan persatuan. Bukan hanya persatuan bangsa Indonesia, tetapi juga persatuan umat Islam dunia. KHGT adalah cita-cita besar yang sejalan dengan ruh Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
Usaha Muhammadiyah memformulasikan KHGT juga dilandasi oleh semangat ijtihad dan kemajuan ilmu pengetahuan. Muhammadiyah memadukan metode hisab hakiki kontemporer dengan prinsip-prinsip syar’i dalam menentukan kalender, sehingga menghasilkan sistem yang dapat diterima secara rasional dan religius. Melalui pendekatan ini, Muhammadiyah mengajak dunia Islam untuk keluar dari siklus perdebatan klasik menuju kesepakatan kolektif yang kokoh.
Gagasan KHGT pada akhirnya merupakan manifestasi dari dakwah Islam yang menebar nilai-nilai persaudaraan dan harmoni global. Ketika umat Islam memiliki kalender bersama, maka simbol persatuan itu akan mendorong kolaborasi lintas negara dalam banyak hal, termasuk dalam bidang sosial, pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan. Dunia Islam memerlukan titik temu yang kuat, dan KHGT bisa menjadi salah satunya.
Persatuan yang diperjuangkan Muhammadiyah tidak bersifat eksklusif. Ia bukan sekadar seruan moral, tetapi diwujudkan dalam langkah-langkah konkret yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak. Komitmen ini sejalan dengan prinsip ta’awun ‘ala al-birri wa al-taqwa (saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa) yang diajarkan dalam Islam. Muhammadiyah tidak mengklaim diri sebagai satu-satunya yang benar, tetapi berusaha menjadi mitra dalam membangun kebaikan bersama.
Muhammadiyah juga mengajarkan bahwa persatuan tidak berarti menyeragamkan. Di dalamnya ada ruang untuk perbedaan yang sehat, sejauh tidak mengarah pada perpecahan. Oleh karena itu, Muhammadiyah mengedepankan musyawarah, toleransi, dan kerja sama lintas organisasi maupun bangsa sebagai bagian dari cara merawat harmoni sosial. Prinsip ini menjadi penting di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Di era digital dan globalisasi, tantangan terhadap persatuan semakin besar. Polarisasi politik, konflik identitas, dan pertarungan kepentingan mudah memecah belah umat. Namun, di tengah semua itu, Muhammadiyah terus teguh pada jalur perjuangannya. Dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, dan gagasan internasional seperti KHGT, Muhammadiyah tetap konsisten menjadi kekuatan perekat. Ini semua tidak terlepas dari warisan nilai perjuangan KH. Mas Mansur yang menempatkan persatuan sebagai pilar penting dalam membangun umat dan bangsa.
Dengan demikian, langkah menguatkan persatuan yang digariskan KH. Mas Mansur bukanlah semata doktrin normatif, tetapi telah terbukti menjadi nafas gerakan Muhammadiyah dalam menghadapi dinamika zaman. Dari zaman kolonial, masa kemerdekaan, hingga era digital saat ini, Muhammadiyah terus mengokohkan dirinya sebagai perekat umat dan penjaga harmoni bangsa. Inilah jejak panjang dakwah yang perlu terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan.
*) Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta
What's Your Reaction?
-
4
Like -
1
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow