Masjid Jogokariyan (1) Menara, dari Kontrol Sosial ke Simbol Monumental

Masjid Jogokariyan (1) Menara, dari Kontrol Sosial ke Simbol Monumental

Smallest Font
Largest Font

Tidak ada gunanya menara masjid yang tinggi.

Jika tetangga masjid tidak bisa nanak nasi.

Jika tetangga masjid tidak bisa tidur karena anaknya tidak bisa membayar sekolah.

Robohkan itu Menara!

 

Ustadz Jazir ASP.

 

 

Jika ingin mengelola masjid, jangan mencontoh ke Masjid Jogokariyan. Tetapi teladani pengelolaan masjid pada zaman Rasulullah Muhammad SAW. Demikian pernyataan Ustadz Muhammad Jazir ASP, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan dan juga Ketua Ranting Muhammadiyah Jogokariyan. Menurut Ustaz Jazir, apa yang telah dilakukan Rasulullah telah cukup sebagai panduan dan teladan.

Selama periode Nabi di Madinah, ia membangun tiga masjid. Masjid Quba’ sebagai masjid pertama yang dibangun, Masjid Nabi yang juga merupakan tempat tinggal Nabi. Serta Masjid Bani Salamah. Bangunan masjid pada zaman itu sangat sederhana. Sampai-sampai orang musyrik menghina dan membandingkan dengan bangunan masjidil haram yang dikelola orang Makkah terbuat dari bebatuan.

Menurut Ustaz Jazir, masjid tidak sekadar tempat sujud. Melainkan tempat mensujudkan, agar manusia tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Dengan penuh penghormatan. Masjid tidak sekadar bangunan, melainkan instrument peradaban. Pengurus (takmir) memiliki kewajiban tidak hanya mengurus bangunan, melainkan mengajak manusia untuk taat kepada Allah SWT.

Selain itu Ustaz Jazir menyebut pada zaman Rasulullah SAW. masjid memiliki Menara yang berfungsi untuk melihat kondisi rakyat. Dari atas Menara tersebut bisa dilihat rumah-rumah penduduk yang mengeluarkan asap pertanda mereka memasak makanan dan mana rumah yang tidak mengepulkan asap. Rumah-rumah yang tidak memasak itu kemudian didatangi. Untuk memastikan mereka memiliki makanan untuk dimasak. Menara masjid berfungsi sebagai sarana untuk kontrol sosial.

Sedangkan kini, menara masjid lebih banyak digunakan sebagai tempat pengeras suara. Atau sekadar simbol monumental sebagai ikon sebuah masjid. Tidak jarang dalam pembangunan Menara itu menghabiskan yang banyak. Maka Ustaz Jazir menegaskan, tugas takmir tidak mengurusi bangunan masjid tetapi harus mengurusi jamaah. Jika hanya memprioritaskan keindangan bangunan, kondisi ini mirip dengan kaum musyrikin yang meledek Nabi karena masjidnya kalah bagus dibandingan Masjidil Haram.

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.”

 

"Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS At-Taubah [9]:17 - 18)

Masjid yang dibangun Nabi sederhana, tidak megah dan tidak banyak hiasan. Nabi membangun manusia melalui masjid, sehingga yang diurus itu umat, masjid itu tempat mengurus masyarakat, sebagai pusat peradaban bukan tempat mengurus bangunan. Pertama yang dilakukan adalah aqimi shalat (mengajak jamaah untuk menegakkan shalat). Pada zaman nabi terbangun namanya jamaah masjid, sedangkan saat ini yang ada di masjid-masjid ini baru ada jamaah salat. Karena mereka terkadang tidak saling kenal. Atau jarang berinteraksi. Sedangkan imamnya sebatas sebagai imam shalat, bukan imam masjid.

Rasulullah dan para sahabat saling kenal satu sama lain. Sehingga Rasulullah itu setiap selesai memimpin sholat, ketika bacaan wiridnya sampai Allahumma antassalamu aminkassalam, Rasulullah itu melihat ke jamaah. Nabi melihat siapa yang tidak hadir ini Jamaah masjid ini siapa yang tidak hadir sholat.

Maka Rasulullah akan mengunjungi kalau tidak mengirim sahabat lain untuk menanyakan kenapa tidak hadir. Terkadang Rasulullah sendiri mendatangi dirumahnya. Karena Rasulullah imam masjid, bukan imam shalat. Jamaah yang dibangun merupakan jamaah masjid, bukan sekadar jamaah shalat. Karena sekarang kemungkinan jamaah masjid jumlahnya banyak dan beragam. Ustaz Jazir menyarankan untuk membuat database jamaah.

Ia lantas bercerita pada tahun 1999 Masjid Jogokariyan mulai melakukan pendataan. Di antaranya berupa keaktifan jamaah dalam melakukan shalat. Siapa jamaah masjid itu? Maka ada dua kriteria. Suat, jamaah ijabah, mereka yang sudah terpanggil dengan kesadaran setiap waktu shalat melakasanakan berjamaah di masjid. Disebut jamaah ijabah, karena sudah mengijabahi panggilan Allah melalui haya ala sholah yang dikumandangkan para muazzin. Kemudian ada jamaah dakwah. Mereka yang harus didakwahi, siapa muslim yang belum berjamaah ke masjid.

Bahkan dalam database yang dibuat juga mencantumkan golongan darah masing-masing jamaah. Sehingga jika ada keperluan tranfusi darah, lebih memudahkan dalam mencari pendonor.

Kedudukan imam, juga sebagai imam masjid. Sehingga ia bisa memimpin shalat sekaligus menjadi tempat untuk memberikan solusi. Sebagaimana Rasulullah SAW. seusai shalat mendengarkan dan memberikan solusi kepada para sahabat yang memerlukan.

Ustaz Jazir menceritakan pengalaman berkesan ketika berada di Malaysia. Seusai jamaah, imam dikerubuti para jamaah. “Waktu itu jumlahnya sekitar 12 orang,” ungkap Ustaz Jazir. Seusai para jamaah. Ustaz Jazir mendekati imam dan bertanya. Apa yang para jamaah lakukan?

Sang imam menjelaskan, jamaah pertama mengadukan kalau usaha berjualan yang dilakukan belum berhasil dan butuh tambahan dana. Lantas imam akan berusaha menghubungkan dengan Lembaga zakat. Jamaah kedua, mengadukan tentang anaknya yang belum bisa pulang dari rumah sakit karea belum bisa membayar biaya perawatan. Imam lantas meminta untuk menghubungi kepala rumah sakit. Jika belum berhasil, imam akan membantu menghubungkan dengan pihak yang sekiranya bisa membantu.

Dengan demikian, masjid tidak sekadar menjadi tempat shalat. Melainkan juga menjadi tempat jamaah mendapatkan jalan keluar dari persoalan yang mereka hadapi. [e]

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait