Masjid Jogokariyan (5) : ATM Beras, Menyantuni Kaum Miskin

Masjid Jogokariyan (5) : ATM Beras, Menyantuni Kaum Miskin

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Rasulullah SAW membangun menara masjid bukan untuk keindahan.

Bilal bin Rohbah naik ke menara hanya lima kali sehari.

Tetapi Rasulullah yang paling sering naik ke menara.

Untuk melihat jiran-jiran masjid.

Mereka dipastikan tidurnya, dipastikan sudah makan

 

_Ustaz Jazir ASP.

 

Maka kalau Rasulullah naik ke menara, untuk melihat apakah ada dapur yang tidak mengepul. Jika ada, akan didatangi, untuk menanyakan kenapa dapur tidak mengepul, apakah tidak memasak. Jika mereka tidak punya gandum, tidak ada daging. Maka Rasulullah segera memanggil Abdurrahman bin Auf untuk mencukupi kebutuhan mereka. Kebiasaan ini diteruskan oleh para sahabat.

Umar Ibn Khatab ketika menjadi amirul mu'minin. Suatu ketika di tengah malam sebelum tahajud, dia naik menara dulu. Ia kaget masih melihat ada api menyala di dapur warga di pinggir kota Madinah. Umar turun dari menara, mendatangi, dan mendapati seorang ibu berada di dapur yang terbuka sedang menanak sesuatu. Sementara anaknya tertidur dengan goresan bekas air mata.

Malam itu, ditemani sahabatnya, Aslam, Khalifah Umar memasuki kampung kecil di tengah gurun. Khalifah Umar melihat seorang ibu sedang memasak. Api di tungku menyala-nyala. Ia sambil mengaduk-aduk isi panci yang dijerang di atasnya.

Khalifah Umar merasa heran, karena lama sekali masakan itu belum juga matang. Lantas ia bertanya, makanan apa yang sedang ia masak.

“Silakan Tuan lihat sendiri,” jawab si ibu.

Ketika Khalifah Umar melihat panci tersebut, ia terkejut karena di dalamnya hanya ada air dan batu.

“Ibu memasak batu?” tanya Umar.

“Aku seorang janda. Hari ini aku tidak punya makanan yang dapat dimakan anakku. Maka aku menyuruhnya berpuasa. Aku berharap menjelang berbuka puasa akan mendapat rezeki, tetapi ternyata tidak. Maka aku terpaksa berpura-pura memasak untuk menghibur anakku. Kukumpulkan batu dan aku rebus dalam panci. Aku minta mereka tidur sambil menunggu makanan matang. Tetapi, sebentar-bentar mereka terbangun dan menangis karena perutnya lapar.”

Hati Khalifah Umar terasa teriris. Ia ingin menangis melihat apa yang terjadi. Ia bergegas pulang ke Madinah mengambil sekarung gandum. Umar memanggul sendiri gandum itu ke rumah si ibu. Ketika Aslam menawarkan bantuan untuk memikul, Umar menolak.

“Tidak usah, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau ingin menggantikanku memikul beban ini. Tapi, kau tidak akan bisa memilkul beban di pundakku pada hari pembalasan,” jawab Umar.

Fungsi Menara Masjid Masa Kini

Masjid Jogokariyan mencoba meniru apa yang dilakukan Rasulullah SAW. dan para sahabat. Meskipun tidak memiliki menara yang tinggi. Mereka mengamati jamaah masjid melalui pendataan atau sensus jamaah yang dilakukan untuk memperoleh data dan gambaran kondisi jamaah. Takmir juga peka dengan kondisi yang dialami jamaah.

Menurut ustaz Jazir, suatu ketika setelah jamaah salat, terlihat ada jamaah yang termenung. Lantas ditanya ada persoalan apa. Ternyata ia seorang sopir taksi. Ia berujar, kalau jalanan ramai di rumah sepi (tidak ada konflik) tetapi kalau jalanan sepi, di rumah ramai (terjadi konflik) karena tidak ada beras yang bisa dimasak.

Mengetahui kondisi tersebut, Ustaz Jazir lantas menginisiasi adanya ATM Beras. Jamaah yang tidak mampu bisa mengambil beras secara gratis, pada hari-hari tertentu. Sedangkan jamaah yang mampu, disilakan untuk menjadi donatur mengisi beras. Jumlah beras yang bisa diambil disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, sehingga sekadar cukup untuk dikonsumsi tidak untuk dijual.

Apakah sekarang menara masjid takmirnya sering naik untuk melihat nasib kiri kanannya?  Zalim jika pengurus masjid yang menaranya begitu tinggi tetapi ada orang lapar di sekitar masjid tidak bisa dibantu. Kalau perlu speaker masjid jual untuk membeli beras. Kalau ada orang di sekitar masjid tidak bisa makan. Ini yang diajarkan Islam. Sampai orang yang tidak peduli kepada orang yang lapar, orang miskin dikatakan mendustakan agama. “Tidak mengajak memberi makan orang miskin itu mendustakan agama. Masjidnya bagus, ada tetangga tidak punya beras, tidak peduli. Itu bukan masjid, itu candi,” ungkap Ustaz Jazir.

(1) tahukah kamu (orang-orang) yang mendustakan agama? (2) itu adalah orang yang menghardik anak yatim. (3) dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang-orang miskin. (4) maka celakalah bagi orang-orang yang melaksanakan sholat. (5) yaitu orang-orang yang lalai dalam sholatnya. (6) orang-orang yang berbuat riya. (7) dan enggan menolong dengan barang-barang berguna. (Surat Al Maun 1-7)

Oleh karenanya kita jangan fokus memikirkan bangunan masjid. Marilah fokus memikirkan keadaan umat kita melalui masjid. Maka tagline masjid Jogokarian itu adalah masjid sebagai sumber kesejahteraan rakyat. Adanya masjid insya Allah rakyat sejahtera. Maka partisipasi rakyat di dalam memakmurkan masjid akan tinggi.

Dulu sebelum melakukan program yang menyejahterakan jamaah, jumlah infak sedikit. Pada tahun 2003 selama satu tahun hanya terkumpul Rp43.200.000. Sekarang dalam satu tahun bisa terkumpul Rp12.000.000.000. Dulu jumlah orang yang berzakat (muzaki) hanya 19 orang. Dengan jumlah zakat mal hanya Rp5.000.000 setahun. Setelah ada pemberdayaan ekonomi, sekarang ada 659 muzaki. Dengan total zakat mal terkumpul  Rp3.200.000.000.

Selain itu juga terdapat wakaf produktif. Sehingga Masjid Jogokariyan mampu membeli beberdapa bidang sawah. Hasil panen dari sawah tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan beras jamaah yang membutuhkan.

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait