Mendesak Pemeriksaan Mendalam Standar Sanitasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Oleh: Rindan Nur Aini*
MEDIAMU.COM - Kasus keracunan makanan yang terjadi berulang dalam penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung Barat, merupakan masalah mendesak yang butuh perhatian serius. Bukti kejadian sangat mengkhawatirkan, total korban keracunan di Bandung Barat mencapai 1.333 siswa dari lokasi berbeda di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, berdasarkan laporan detikNews. Situasi ini diperparah dengan temuan praktik kebersihan yang jauh dari layak, di mana sumber yang sama, sebagaimana diungkapkan oleh laman WASPADA, melaporkan adanya pencucian wadah dengan menggunakan air yang keruh.
Kejadian berulang ini menuntut pemeriksaan yang sungguh-sungguh terhadap semua aspek pelaksanaan MBG. Perlu adanya evaluasi mendesak yang serius dan menyeluruh terhadap kebersihan bahan makanan serta wadah penyajian dalam MBG harus segera dilakukan untuk terjaminnya kesehatan pangan. Program yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah ini menjadi ironis ketika pelaksanaannya justru menimbulkan risiko membahayakan kesehatan para peserta didik.
Merujuk pada detikNews dan laman WASPADA, pengulangan kasus keracunan ini memperlihatkan adanya masalah jelas dalam alur pengadaan, pengolahan, dan penyaluran makanan MBG. Kelemahan ini terlihat jelas dari tindakan mencuci wadah dengan air kotor, seperti yang dilaporkan terjadi di lokasi kejadian, yang sangat jauh dari aturan kebersihan dan berisiko tinggi menyebabkan penyebaran kuman penyakit. Situasi ini sejalan dengan pernyataan para ahli.
Merujuk pada laman Universitas Gadjah Mada, Pakar UGM Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., menegaskan bahwa keracunan MBG menjadi bukti kegagalan sistemik dalam proses penyiapan, pengolahan, maupun distribusi makanan. Untuk memastikan keamanan pangan, berdasarkan laporan laman Metro TV, tiga hal penting yang harus dipastikan adalah kebersihan semua peralatan, cara mengolah yang sesuai, serta pengemasan yang baik. Kelalaian dalam mengurus kebersihan ini, terutama pada bahan mentah dan wadah, merupakan penyebab utama timbulnya keracunan.
Selain itu, seperti yang disampaikan Kompas.com, jarak waktu yang terlalu lama antara selesai memasak dan waktu konsumsi juga dinilai sebagai faktor yang menurunkan mutu makanan. Dalam kasus keracunan MBG di Cipongkor, Badan Gizi Nasional (BGN) menyebutkan bahwa kesalahan teknis terjadi karena memasak dilakukan terlalu awal dan makanan baru dikonsumsi keesokan harinya. Gabungan antara bahan yang berpotensi rusak (misalnya daging yang tidak segar), kebersihan wadah yang dipertanyakan, dan penundaan waktu konsumsi menciptakan lingkungan ideal bagi kuman untuk berkembang biak.
Pemerintah memiliki dasar hukum kuat untuk memastikan kebersihan pangan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 14 Tahun 2021, setiap tempat pengelolaan makanan wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Kewajiban Pemerintah adalah memastikan program sebesar MBG memenuhi standar kebersihan tertinggi sesuai Permenkes ini.
Jenis bakteri patogen utama yang sering menyebabkan keracunan makanan dan dapat mencemari air meliputi Salmonella, Escherichia coli (E. coli), dan Shigella (Nurhikmah & Handoyo, 2020). Secara khusus, bakteri Escherichia coli dikenal sebagai penanda utama kebersihan yang buruk dan sering ditemukan pada sumber air yang tercemar (Nugraha, 2022). Dugaan kontaminasi E. coli dan Salmonella juga pernah diangkat dalam konteks kasus keracunan MBG di Bogor. Mengenai hal ini, berdasarkan laporan FPKB DPR RI, Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, menyatakan bahwa evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dilaksanakan secara mendalam, apalagi menyoroti pentingnya SOP keamanan pangan. Penekanan pada SOP keamanan pangan ini sangat relevan, karena praktik kebersihan yang buruk, termasuk kondisi dapur yang tidak higienis dan tidak mencuci tangan dengan benar, meningkatkan risiko kontaminasi bakteri (Ranti & Purnomo, 2024).
Mengingat skala insiden keracunan yang luas dan terkuaknya praktik kebersihan yang meragukan, Penting bagi Pemerintah untuk segera melakukan peninjauan ulang tanpa menghentikan pelaksanaan program yang sedang berjalan. Penilaian harus difokuskan pada penegakan standar kebersihan dan keamanan pangan yang ketat di semua unit penyedia makanan. Hal ini mencakup verifikasi kualitas bahan baku, prosedur memasak yang tervalidasi, dan jaminan bahwa semua wadah dicuci dengan air bersih yang sesuai standar kesehatan. Keberlanjutan Program MBG harus didukung oleh pelaksanaan yang aman. Peningkatan pengawasan dan transparansi dalam semua proses adalah kunci untuk menekan risiko keracunan, menjamin keamanan makanan, dan memastikan program ini mencapai sasaran peningkatan nutrisi secara efektif bagi generasi penerus bangsa.
*penulis adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan
Daftar Pustaka
Nugraha, H. D. (2022). Cemaran Mikrobiologi pada Makanan, Alat Makan, Air dan Kesehatan Penjamah Makanan di Unit Instalasi Gizi Rumah Sakit X di Banjarmasin. Journal of Nutrition College, 11(4), 327.
Nurhikmah, R., & Handoyo, F. (2020). Identifikasi Bakteri Penyebab Keracunan Makanan Pada Kasus Keracunan Massal di Kabupaten Kulon Progo. Jurnal Kesehatan Vokasional, 5(2), 105-110.
Ranti, A., & Purnomo, M. (2024). Analisis Faktor Risiko Keberadaan Bakteri Escherichia Coli pada Jajanan Kue Basah di Pasar Perum Paniki Kota Manado. Jurnal Media Analis Kesehatan, 12(2), 173-181.
Berdasarkan laporan detikNews. (2025, 25 September). Terus Bertambah, Kini 1.333 Siswa di Bandung Barat Keracunan MBG. https://news.detik.com/berita/d-8130392/teru s-bertambah-kini-1-333-siswa-di-bandung-barat-keracunan-mbg
Berdasarkan laporan FPKB DPR RI, Anggota Komisi IX DPR RI H. Alifuddin S.E. (2025, 15 Mei). Keracunan MBG Berulang, Komisi IX : Saatnya Evaluasi Mendalam. https://www.fraksipkb.com/
Seperti yang disampaikan Kompas.com. (2025, 25 September). Korban Keracunan MBG di Bandung Barat Tembus 842 Orang dalam 3 Hari!. https://bandung.kompas.com/
Berdasarkan laporan laman Metro TV. (2025, 20 September). Evaluasi Kasus Keracunan MBG, 3 Poin Ini Diminta Diperhatikan. https://www.metrotvnews.com/
Merujuk pada laman Universitas Gadjah Mada, Pakar UGM Prof. Dr. Ir. Agnes Murdiati, M.S., (2025, 29 Agustus). Kasus Keracunan MBG di Sleman dan Lebong, Pakar UGM Sebut Minimnya Pengawasan Proses Penyiapan Makanan Higienis. https://ugm.ac.id/
Sebagaimana diungkapkan oleh laman WASPADA. (2025, 25 September). Korban Keracunan MBG Bandung Barat Capai 1.315 orang. https://www.waspada.id/
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow