Dolar AS Menggila di Rp17.300, UMKM Bisa Apa?

Dolar AS Menggila di Rp17.300, UMKM Bisa Apa?

Smallest Font
Largest Font

Di sudut-sudut pasar, di dapur-dapur produksi rumahan, di bengkel kecil pinggir jalan, angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) bukan sekadar kabar ekonomi. Ia menjelma menjadi kegelisahan nyata. Harga bahan naik, pelanggan mulai menahan belanja, dan pelaku UMKM kembali diuji: bertahan atau tumbang perlahan.

Bagi sebagian orang, fluktuasi nilai tukar mungkin hanya grafik. Tapi bagi UMKM, ini adalah cerita tentang perjuangan harian. Tentang ibu-ibu yang tetap mengaduk adonan dengan harapan dagangannya laku. Tentang bapak-bapak yang membuka lapak sejak pagi, meski belum tentu ada pembeli. Tentang ikhtiar yang tidak pernah berhenti, sekalipun keadaan terasa sempit.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan sekadar penghibur, tetapi penguat. Bahwa setiap ujian ekonomi yang dihadapi, termasuk gejolak nilai tukar hari ini, adalah bagian dari proses yang bisa dilalui dengan kesungguhan dan kesabaran.

Namun realitasnya tidak mudah. UMKM menghadapi tekanan dari dua sisi. Biaya produksi meningkat akibat bahan baku yang terdampak dolar AS, sementara daya beli masyarakat justru melemah. Dalam kondisi seperti ini, pelaku UMKM sering terjepit: menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, menahan harga berarti mengorbankan keuntungan.

Di titik inilah, nilai-nilai yang selama ini menjadi ruh gerakan Muhammadiyah menemukan relevansinya. Bahwa ekonomi bukan sekadar hitung-hitungan untung rugi, tetapi juga soal keberpihakan, pemberdayaan, dan keberlanjutan umat.

Lembaga Pengembang UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (LP UMKM PWM DIY) memandang kondisi ini sebagai panggilan gerakan. Bukan hanya merespons krisis, tetapi menghadirkan solusi yang mencerahkan dan memberdayakan.

Muhammadiyah sejak awal berdiri tidak hanya bicara dakwah dalam arti sempit, tetapi juga dakwah sosial-ekonomi. Menguatkan UMKM adalah bagian dari jihad ekonomi, ikhtiar kolektif untuk menjaga kemandirian umat dan mengurangi ketergantungan.

Allah SWT juga menegaskan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menjadi spirit perubahan. UMKM tidak cukup hanya bertahan, mereka harus bertransformasi.

Melalui pendampingan LP UMKM PWM DIY, pelaku usaha didorong untuk mulai beradaptasi: mencari bahan baku lokal sebagai alternatif, memperbaiki manajemen keuangan, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar. Tidak kalah penting, membangun mental usaha yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan terus belajar.

Lebih dari sekadar program, yang dibangun adalah ekosistem. UMKM tidak dibiarkan berjalan sendiri, tetapi dihubungkan dalam jejaring kolaborasi antar pelaku usaha, komunitas, hingga pasar yang lebih luas. Inilah kekuatan berjamaah yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.

Dolar AS boleh menggila. Tetapi semangat gotong royong, nilai keikhlasan, dan etos kerja umat tidak boleh ikut melemah.

Justru dalam kondisi sulit seperti ini, kita diingatkan bahwa rezeki bukan semata-mata soal kurs, tetapi juga soal keberkahan. Dan keberkahan itu lahir dari kejujuran, ketekunan, serta usaha yang tidak putus.

UMKM bukan sekadar unit ekonomi kecil. Mereka adalah denyut kehidupan masyarakat. Dari tangan-tangan mereka, roda ekonomi berputar. Dari kesabaran mereka, ketahanan bangsa diuji.

Maka hari ini, pertanyaannya bukan lagi “UMKM bisa apa?”, tetapi “kita mau bersama UMKM sejauh apa?”

Karena sejatinya, menguatkan UMKM adalah bagian dari menguatkan umat.

Penulis: Iki Tabah Ujianan, S.E. (Wakil Ketua LP UMKM PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait