Masjid Jogokariyan (9) : Salat dan Zakat, Dua Pusaka Umat
Kalau mau melihat orang muslim, lihatlah di waktu salat Jumat.
Kalau mau melihat orang mukmin, lihatlah di waktu subuh.
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (At-Taubah : 18)
Setidaknya ada dua tanda kemakmuran masjid. Seberapa banyak jamaah yang salat. Seberapa banyak jamaah yang mampu membayara zakat. Untuk bisa mewujudkan kemakmuran tersebut perlu melaksanakan azan, tidak sekadar meneriakan azan. Memobilisasi jamaah untuk salat dan mensejahterakan jamaah agar bisa menjadi pembayara zakat. Demikian diungkapkan Ustaz Muhammad Jazir, ASP.
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) tidak hanya fokus pada pembangunan fisik. Tetapi berusaha merangkul jamaah. Pada tahun 1999 Masjid Jogokariyan melakukan pergantian Ketua Takmir. Para pengurus sepakat untuk memilih Ustaz Jazir. Tetapi ia menolak, kecuali dipilih langsung oleh para jamaah. Karena menurutnya ia butuh dukungan sosial secara luas. Maka untuk pertama kali digelar Pemilu Takmir di Masjid Jogokariyan.
Sebelum dilaksanakan Pemilu, pihak takmir melakukan pendataan. Mereka melibatkan generasi muda untuk sensus penduduk Jogokariyan. Mulai dari data semisal nama, alamat, pekerjaan, golongan darah dan sebagainya. Sampai hal yang berkaitan dengan ibadah. Seperti apakah sudah salat, berjamaah di masjid, pernah berkurban, pernah haji dan sebagainya.
Hasil dari data tersebut kemudian digunakan untuk membuat peta dakwah yang meliputi wilayah Kampung Jogokariyan. Masing-masing rumah diberi tanda khusus untuk memudahkan dalam membaca data. Misal rumah dengan warna merah berarti merupakan warga non-muslim. Rumah dengan garis hijau, berarti sudah salat. Rumah dengan tanda Kakbah, berarti sudah haji dan sebagainya.
Hasil Pemilu Takmir mendaulat Ustaz Jazir ASP sebagai Ketua. Maka ia melakukans sejumlah program. Di antaranya dengan memobilisasi jamaah untuk salat. Untuk melakukan pendekatan kepada jamaah. Pihak masjid memberikan bingkisan kepada jamaah yang berulang tahun. Selain itu pada musim penghujan, masjid membagikan bibit tanaman buah-buahan.
Jamaah yang belum salat kemudian diberi penawaran apakah berkenan untuk belajar salat. Jika bersedia, pihak takmir menyiapkan pembimbing yang siap mengajari ke masing-masing rumah. Sehingga secara bertahap jamaah yang belum salat semakin berkurang.
Membuat Tim 17, terdiri dari 17 Jamaah Senior yang sudah bagus salatnya. Mereka melakukan langkah persuasif mengajak warga untuk salat. Masjid menyediakan ustaz dan mengirimkan ke rumah. Program ini berjalan sehingga pada tahun 2005 dari 816 yang belum salat berangsur-angsur jumlahnya berkurang menjadi 315. Tahun 2009 tingggal 27 orang yang belum Salat dan tahun 2011 tinggal 4. Jika hanya diteriaki azan, bisa jadi sampai mati mereka tidak akan salat. Takmir mengalokasikan dana Rp500 ribu untuk mensalatkan orang hidup setiap orang agar mereka mau Salat.
Memakmurkan Jamaah
Selain itu, Masjid Jogokariyan juga gencar melakukan pemberdayaan masjid. Agara para jamaah bisa mandiri dan menjadi muzakki tidak lagi sebagai mustahiq. Masjid harus mensejahterakan masyarakat agar bisa menjadi pembayara zakat. Pada tahun 2003, Masjid Jogokariyan melakukan perubahan, dari panitia Zakat menjadi Baitul Mal. Beberapa Keluarga yang berpotensi menjadi muzaki diajak mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan harta.
Tahun 2003 jumlah muzakki hanya 9 orang dengan total dana zakat terkumpul Rp4 juta. Pada tahun 2018, jumlah muzakki meningkat menjadi 929 dengan total zakat mal Rp1,7 miliar. Tahun 2003 infak satu tahun Rp43 juta, tahun 2018 menjadi Rp4,2 miliar. Khusus infak ramadan satu bulan Rp5 miliar.
Dana tersebut untuk memakmurkan jamaah dengan menyediakan ATM Beras dan lauk berupa abon sapi, yang merupakang daging kurban yang diawetkan. Sehingga jamaah yang tidak mampu tidak hanya memasak nasi tetapi juga memiliki lauk.
Masjid juga memberikan perhatian kepada siswa yang tidak bisa membayar SPP, atau pengusaha yang memerlukan tambahan modal. Bahkan juga melakukan renovasi rumah jamaah agar bisa layak huni.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku ke Yaman, maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaati itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam setiap harinya. Jika mereka menaati itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan kepada mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan kepada orang-orang fakir (miskin) di tengah-tengah mereka. Jika mereka menaati itu, maka jauhilah harta berharga mereka. Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi karena tidak ada hijab (penghalang) antara doanya dan Allah (artinya: mudah terkabul, pen.).” (HR Bukhari dan Muslim])
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow