Opini

Opini

Opini

Jun 16, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pasca Puasa untuk Indonesia Berkemajuan

Oleh: Arif Jamali Muis*

Tepat tanggal 14 Juni 2018 atau 29 ramadhan 1439 H, umat Islam menyelesaikan ibadah Puasa Ramadhan, rangkaian Ibadah puasa ditutup dengan mengemakan takbir, tahmid dan tahlil, tanda kemenangan atas pengendalian hawa nafsu selama satu bulan penuh. Keberhasilan berjihad atas hawa nafsu itulah yang akan menghantar kita menjadi manusia yang bertakwa (QS 2 : 138), sebagaimana tujuan dari ibadah puasa. Takwa adalah derajat tertinggi manusia dihadapan Allah SWT, artinya manusia bertakwa sangat dekat dengan Allah, dan dapat merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan keseharian. Manusia bertakwa, menempatkan Allah diatas segalanya dalam kehidupannya, orientasi kehidupan adalah ridho Allah dan kebaikan di muka bumi ini, manusia bertakwa paham betul apa yang harus dikerjakan agar hidupnya maslahat bagi lingkungannya. Manusia hasil tempaan puasa inilah yang kita butuhkan untuk membawa Indonesia yang berkemajuan, negara yang baldatun tayyibatun warabbun gafur.

Puasa dan Indonesia berkemajuan.

85 persen pendudukan republik Indonesia ini memeluk agama Islam, jika penduduk Indonesia berjumlah 261 juta jiwa maka hampir 220 juta sendiri umat Islam, katakanlah separuh lebih dari 220 juta itu melaksanakan puasa dan separuh lebih dari yang berpuasa melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh dan mengharapkan ridho Allah berarti ada 55 juta umat Islam yang berpuasa secara sungguh – sungguh, angka yang cukup besar untuk menjadi agen Indonesia berkemajuan, bayangkan ada 55 juta umat yang ditempa oleh puasa Ramadhan yang insyaallah menjadi manusia bertakwa yang siap menebarkan kebaikan di seluruh nusantara, apalagi Indonesia akan memasuki tahun politik pemilihan presiden dan legislative, salah satu titik rawan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Minimal ada tiga hal penting yang telah diajarkan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh untuk menempa umat Islam Indonesia yang dapat menebarkan kebaikan menuju Indonesia berkemajuan.

Pertama, umat Islam diajarkan untuk melakukan pengendalian diri atas nafsu dan kehendak pribadi, selama puasa jangankan yang haram, yang halal saja seperti makan, minum dan berhubungan suami istri harus dikendalikan pada siang hari.

Umat islam berlatih mengendalikan yang halal, yang sesungguhnya diperbolehkan secara syari. Tidak berhenti disitu pengendalian selama puasa tidak hanya bersifat lahiriah seperti makan dan minum akan tetapi juga bersifat batiniah seperti menahan amarah, egoisme, mengunjing, menyakiti orang lain. Nabi Muhammad mensinyalir bahwa banyak umat Islam yang berpuasa akan tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus belaka. Hal ini menandaskan jika puasa hanya mengendalikan secara lahiriah saja tetapi batinnya tidak dikendalikan maka tidak akan mendapatkan apapun selain kesia-siaan.

Kedua Puasa Ramadhan yang kita laksanakan sebulan penuh mengajarkan untuk perduli kepada sesama umat manusia. Menahan lapar dan haus adalah bagian untuk merasakan kesusahan orang yang kekurangan, bahkan memberikan makan kepada orang yang berpuasa sata berbuka  pahalanya sama dengan orang yang sedang berpuasa. Diakhir ibadah Ramadhan umat Islam diwajibkan untuk membayar zakat, sebagai bentuk penyucian harta yang dimiliki. Disetiap harta kita ada jatah orang miskin didalamnya. Umat Islam yang berpuasa secara sungguh-sungguh akan menjadi manusia yang paling sensitive jika ada saudaranya yang mengalami kesusahan dalam hidup ini. Umat Islam hasil tempaan puasa Ramadhan akan selalu bergerak untuk membantu siapa saja yang mengalami kesusahan ekonomi, meminjam istilah pak Said Tuhulele, bahwa tidak ada kata istirahat bagi umat Islam tempaan puasa jika masih ada rakyat yang sengsara.

Ketiga puasa menempa umat Islam untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap denyut nadi kehidupannya. Puasa ramdhan satu – satunya ibadah yang bisa dilakukan disaat manusia sedang melakukan aktivitas untuk urusan duniawi, selama satu bulan penuh 24 jam umat Islam digembleng dengan kekuatan ibadah, siang berpuasa, malam sholat tarawih bahkan 10 hari terakhir melakukan itikaf menyendiri di dalam masjid mendekatkan diri kepada Allah swt. Umat Islam yang berpuasa merasakan bahwa Allah selalu hadir dan dekat dalam kehidupannya, setiap denyut nadi kehidupannya selalu disertai nilai-nilai ketuhanaan.

Harapan Pasca Ramadhan

Ibarat sebuah diklat puasa Ramadhan sudah mendidik umat Islam selama sebulan dan 24 jam, tentu secara teori pendidikan dan pelatihan waktu tersebut lebih dari cukup untuk membentuk pengetahuan dan kepribadian umat. Ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara seperti ini, kita sangat membutuhkan umat Islam hasil tempaan “diklat” Ramadhan, manusia Indonesia yang dapat mengendalikan diri, paham apa yang harus dikerjakan, perduli atas kesusahan orang lain, dan merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya. Jika pasca Ramadhan muncul minimal 55 juta umat Islam hasil “diklat” Ramadhan yang siap menebarkan dan menjadi pelopor kebaikan, insyaallah peradaban Indonesia berkemajuan akan kita raih. Walahualam Bishowab.


*Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY dan guru matematika SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here