Opini

Opini

Opini

May 23, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Hasad dan Buruk Sangka: Dua Sisi Penyakit Hati

ilustrasi Hasad dan Buruk Sangka: Dua Sisi Penyakit Hati

Oleh: Eko Harianto*

Hasad dan buruk sangka merupakan dua penyakit hati yang idak asing lagi kita dengar. Hasad merupakan kata dari bahasa Arab yang berarti hasud, iri hati, dengki. Dalam pengertian umum yang berlaku di masyarakat, hasad lebih dikenal dengan istilah “hasud” atau “dengki”. Dengki atau hasad merupakan rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain, dan berusaha untuk menghilangkan kenikmatan tersebut dari orang yang di dengki, baik dengan maksud agar kenikmatan itu berpindah kepada dirinya atau tidak. Pengertian lain dari dengki adalah keinginan seseorang untuk melihat kebangkrutan orang lain yang sudah sukses, kendati pelakunya tidak mampu mencapai kesuksesan (nikmat besar) yang sama seperti orang lain.

Buruk sangka juga berasal dari bahasa Arab yaitu Su’udlan. Su’, secara bahasa memiliki dua arti. Pertama, segala sesuatu yang buruk, kebalikan dari baik. Kedua, setiap sesuatu yang menghalangi manusia dari urusan-urusan dunia dan akhirat, baik berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sedangkan kata dlan secara bahasa memiliki banyak arti, antara lain: ragu, tuduhan, perkiraan atau pengetahuan tanpa keyakinan, dan keyakinan itu sendiri.

Secara istilah su’udlan adalah mengira atau menyangka orang lain memiliki satu sifat buruk dan menuduhnya dengan segala kejelekan tanpa bukti. Berprasangka buruk wajib dilakukan terhadap orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-teranganm merintangi jalan kebaikan, dan tidak memiliki komitmen yang jelas dalam agama. Buruk sangka biasanya berupa tudingan seseorang tanpa didasarkan pada bukti yang mendukung kebenarannya.

Manusia yang terkena penyakit dengki dalam hatinya akan diikuti sikap buruk sangka melihat perkembangan orang lain yang didengkinya. Orang yang dengki tidak senang melihat orang lain mendapatkan kenikmatan. Ia berupaya melakukan kejahatan kepada orang tersebut agar kenikmatan yang diinginkan itu berpindah kepada dirinya, dan merasa senang apabila orang yang dirampas kebahagiaannya itu menderita. Tentunya si pendengki itu akan mencari-cari informasi dari mana materi yang didapatkannya, apakah diperoleh dengan cara yang halal ataukah haram. Biasanya, para pendengki sudah melakukan kedengkiannya, maka ia akan berupaya menjatuhkan orang yang didengkinya dengan berbagai macam cara tanpa memperdulikan akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatannya.

Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk meminta perlindungan dari hasud dan orang hasud, sebagaimana firman-Nya:“Dan Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila’.(QS. Al-Qalam [68]: 51)

Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS. Al-Falaq [113]: 5)

Begitu pula dengan buruk sangka kepada sesama kaum Muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (kecurigaan), karena sebagian dari berprasangka itu dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda:Berhati-hatilah kalian dari buruk sangka, sesungguhnya buruk sangka adalah sedusta-dustanya cerita/berita. Janganlah menyelidiki, janganlah memata-matai hal orang lain, janganlah tawar-menawar untuk menjerumuskan orang lain, jangan saling menghasud, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara. (HR. Bukhari)

Hasud terbagi menjadi dua, yaitu: pertama, hasud yang diperbolehkan; kedua, hasud yang diharamkan. Hasud yang diperbolehkan adalah bersaing meraih kesuksesan (munafasah). Dimana seseorang berkeinginan dapat menyaingi orang yang didengkinya dan tidak senang berada dibawahnya, namun dirinya tidak menginginkan pesaingnya mendapat kejelekan. Sedangkan hasud yang diharamkan timbul dari takabur, ujub, permusuhan, dendam, riya’, cinta duniawi yang berlebihan dan kedudukan. Seseorang yang memiliki karakter jiwa semacam ini tidak mau ada orang yang lebih luhur dari dirinya. Penyebab timbulnya rasa hasud semacam itu adalah karena pelitnya jiwa terhadap kebaikan yang dirasa oleh hati seseorang.

Ada beberapa faktor penyebab yang memicu merebaknya hasad dan buruk sangka:

  • Faktor lingkungan

Lingkungan memberi pengaruh yang cukup besar bagi lahirnya sikap buruk sangka dan hasad. Lingkungan bisa dari keluarga, masyarakat, tempat bekerja, sekolah, dan lain sebagainya. Lingkungan yang kejam, kotor, dan tidak sehat seringkali memberi pengaruh kuat bagi lahirnya kebiasaan penyakit ini. Dengan lingkungan yang ada dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan. Jika orang yang membenci tidak mampu melampiaskan kebenciannya maka ia ingin agar waktu yang akan membalasnya, dan mungkin akan mengembalikan kepada kehormatan dirinya di sisi Allah SWT; jika musuhnya mendapat musibah, ia bergembira atas musibah itu, tetapi bila musuhnya mendapat nikmat, ia tidak menyukainya karena bertentangan dengan keinginannya.

  • Keyakinan yang salah

Keyakinan yang salah bisa melahirkan hasad dan buruk sangka. Termasuk dalam kategori ini adalah ideologi atau aqidah yang salah. Seperti berburuk sangka kepada Allah, dengan menuduh-Nya tidak adil. Merasa keberatan jika orang lain mengunggulinya. Jika sebagian orang yang setingkat dengan dirinya mendapatkan kekuasaan, ilmu dan harta, maka ia khawatir orang tersebut akan bersikap sombong kepada dirinya, sementara itu dia sendiri tidak dapat mengunggulinya, dan jiwanya tidak kuasa menanggung kesombongan dan kebanggaannya terhadap dirinya. Tujuannya bukan untuk bersombong, tetapi menolak kesombongannya. Sebab ia menerima kesejajarannya dengan dirinya, namun tidak bisa menerima jika ia mengunggulinya.

  • Kepentingan Politik

Kepentingan-kepentingan politik juga menjadi pemicu lahirnya sikap buruk sangka. Mencintai dan mencari kedudukan untuk dirinya tanpa mencapai suatu tujuan. Obsesi ingin selalu memimpin yang disertai ambisi untuk merebut pucuk pimpinan adalah sarana yang paling rawan munculnya kedengkian. Bahkan bisa menjadi awal hancurnya negara dan umat. Karena itu, dalam konteks kepemimpinan umat, orang yang pertama kali terbenam ke dalam neraka adalah ulama-ulama pendengki yang selalu berambisi menjadi pemimpin dan mengejar popularitas. Munculnya kedengkian dalam hati para ulama dan pemimpin umat sedikit demi sedikit akan menghapuskan cita-cita luhur untuk mewujudkan ittihadul ummah; persatuan umat dalam cahaya Islam.

  • Estimasi Pertahanan Diri

Kadang, orang punya prasangka buruk demi kepentingan mempertahankan diri. Rasa aman yang ingin diperoleh seseorang sering kali diwujudkan dengan membuat lingkar pengaman atas semua orang yang dihadapi. Takut tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ini berkaitan dengan orang-orang yang memperebutkan satu tujuan. Masing-masing orang mendengki pesaingnya dalam memperoleh nikmat yang akan membantunya untuk memperoleh tujuannya.

  • Ilmu yang Pas-Pasan

Keterbatasan ilmu juga menjadi pemicu bagi munculnya sikap buruk sangka. Minimnya pengetahuan akan berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk memandang masalah, menyimpulkan, serta menentukan sikap atas berbagai peristiwa. Buruk sangka karena keterbatasan pengetahuan bisa dihindari dengan mencari tahu. Akan tetapi, merasa paling tahu dan paling memiliki ilmu menjadi pemicu munculnya sikap sombong, meremehkan orang lain, minta dilayani dan mengharapkan ketundukan dari orang lain dan kepatuhan kepada keinginan-keinginannya. Apabila orang lain mendapatkan nikmat, ia tidak kuasa menahan kesombongannya dan merasa terlalu tinggi untuk mengikutinya, bahkan mungkin berharap bisa menyamainya atau mengunggulinya lalu dia kembali “kalah” setelah berlaku sombong kepadanya.

  • Diskriminasi ‘Besar-Kecil’

Adanya diskriminasi atas ‘orang-orang kecil’ oleh ‘orang-orang besar’ dalam berbagai bentuk juga merupakan salah satu korban buruk sangka. Seringkali orang-orang kaya memenuhi pikirannya dengan persepsi bahwa orang-orang miskin itu kumuh, udik, bodoh, bahkan pencuri. Padahal, buruknya jiwa dan kekikiran untuk berbuat baik kepada hamba-hamba Allah SWT. Orang yang buruk jiwanya akan kikir untuk berbuat kebaikan dan tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan. Jika melihat sesuatu yang tidak disukainya, ia pasti akan menggerutu dan sibuk menyalahkan. Orang seperti ini hidupnya akan selalu sengsara, dan di akhirat nanti akan mendapatkan transfer pahala yang ia miliki kepada orang yang didengkinya. Rasulullah menyebutnya sebagai orang bangkrut, muflis. Ia membawa pahala kebaikan, tapi pahala itu habis untuk menggantikan dosa yang diperbuatnya pada orang lain.

Hasad dan buruk sangka dapat merusak hati, merusak kebahagiaan, merusak akhlak, juga merusak apa yang dijanjikan Allah kepada kita. Orang yang gemar berburuk sangka adalah sedusta-dustanya perkataan, dalam berbaik sangka bukannya membenarkan kesalahan tapi minimal kita jadi tenang, kalau hati sudah tenang, pikiran jernih keputusan bisa di ambil dengan sikap yang tepat. Adapun bahaya apabila terkena jenis penyakit hati ini yaitu:

  • Adanya upaya untuk menghilangkan nikmat (keberhasilan, keberuntungan, dan lain-lain) yang diterima orang lain agar nikmat itu berpindah kepadanya. Mengakibatkan kekeruhan dan perpecahan dalam lingkungan masyarakat serta memutus tali silaturrahmi antara keluarga dan karabat. Sikap tersebut banyak terjadi dalam pergaulan sehari-hari terutama terjadi pada kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan kepentingan, kesamaan politik, kesamaan karir, maupun kesamaan pendidikan.
  • Mengharap agar keberhasilan orang lain terlepas, lalu pindah pada diri yang mendengki atau ke tempat orang lain. Dalam hal ini, orang yang dengki dan buruk sangka tersebut tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain karena masih memiliki rasa takut pada Allah SWT dan tidak sampai hati kalau melihat kerusuhan, pembunuhan, dan lainnya. Namun, dapat membawa orang yang punya penyakit ini berbuat dosa-dosa yang lain seperti tajasus (memata-matai), ghibah (menggunjing) dan rasa curiga.

  • Upaya menghilangkan nikmat yang diterima orang lain karena ternyata dengan keberhasilan tersebut justru berbuat dzalim. Dalam hal ini, usaha menghilangkan nikmat tersebut pada hakekatnya adalah untuk mencegah kedzaliman orang lain. Cara yang demikian terkadang memang diperlukan untuk melindungi masyarakat yang tidak kuasa dan lemah dari perilaku dzalim/aniaya yang ditimbulkan. Apabila dibiarkan, maka akan menjadikan tuhmah atau tuduhan yang belum tentu benar dan dapat membawa kepada pertumpahan darah.

Obat setiap penyakit adalah dengan mengikis habis virus-virusnya dan menghilangkan faktor-faktor penyebabnya. Hasad dan buruk sangka adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Hati sulit untuk diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Ilmu tentang penyakit ini yaitu hendaknya kita mengetahui tentang hakekatnya yang sangat membahayakan kita, baik dalam hal agama maupun dunia.

Untuk penyakit ini, sedikit pun tidak membahayakan orang lain, baik dalam hal agama maupun dunianya, bahkan ia malah memetik manfaat darinya. Nikmat tersebut tidak akan hilang dari orang yang kita dengki hanya karena kedengkian kita. Bagaimanakah cara menghindari penyakit ini? Pertama, memperbanyak muhasabah (introspeksi diri), yaitu dengan menginsafi sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia. Kedua, lebih baik sibukkan untuk mencari kekurangan diri sendiri ketimbang kekurangan orang lain. Ketiga, utamakan untuk berbaik sangka pada pikiran kita apabila kita melihat suatu hal yang bisa jadi kita belum mengetahuinya, atau kita tidak menyukainya.


*Mahasiswa Doktoral PPI UMY

 

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here