Opini

Opini

Opini

May 23, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Mengenang 150 Tahun K.H. Ahmad Dahlan

“Kalian sudah hafal surat Al Ma’un, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkan! Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya,” kata Kyai Haji Ahmad Dahlan pada suatu ketika di depan murid-muridnya.

Kejadian itu bisa kita baca dalam buku biografinya atau bisa ditonton di film Sang Pencerah.

Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwis pada 1 Agustus 1868. Ia adalah putra Kiyai Haji Abu Bakar bin Sulaiman.

Pada usia 15 tahun, ia berangkat haji dan menetap di Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Disana ia berguru dengan Sayyid Bakri Syatha, Syaikh Ahmad Khatib, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Ibnu Taimiyah, Al-Afghani, Syaikh Abdul Hadi, dan tokoh-tokoh lainnya.

Menurut catatan sejarah, nama Ahmad Dahlan diberikan oleh Sayyid Bakri Syatha sebelum ia pulang ke tanah air. Dan nama baru inilah yang kemudian disandang hingga akhir hayat.

Ahmad Dahlan bukan orang yang hanya sibuk berkhutbah tanpa di iringi dengan kerja dan amal nyata.Dalam pemikiran Ahmad Dahlan, umat islam kala itu tertinggal jauh dari Barat. Karena tertinggal umat jadi tertindas.

Ia menyaksikan kemiskinan dan kebodohan di lingkungan tempat tinggalnya, karena itu berkali-kali ia menegaskan surat Al-Maun bukan semata dalam penghafalannya tapi terutama dalam pengamalannya.

Seperti yang ia katakan pada murid-muridnya, yang mulai bosan berkali-kali diajarkan surat yang sama. Tapi apa guna ilmu tanpa diamalkan?

Ahmad Dahlan juga tidak mempertentangkan antara sains dan agama. Justru Ahmad Dahlan berpendapat sebaliknya; bahwa agama dan sains tidak bisa dipisahkan.

Tak segan pula ia mengambil apa-apa yang dianggap baik dan bermanfaat, walau datangnya dari barat sekalipun. Barat, Belanda, Eropa, adalah sebuah hal yang di jauhi oleh umat islam kala itu.

Pada tanggal 18 November 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi yang ia beri nama “Muhammadiyah” sebagai wadah perjuangannya.

“Usaha berjuang dan beramal tersebut aku lakukan dengan mendirikan persyarikatan yang aku beri nama Muhammadiyah. Dengan itu aku berharap kepada seluruh umat yang berjiwa Islam akan selalu tetap mencintai junjungan Nabi Muhammad dengan mengamalkan segala tuntunan dan perintahnya,” katanya.

Dan saat ini organisasi yang ia dirikan sudah punya ribuan sekolah, ribuan rumah sakit, universitas, dan banyak lembaga lainnya, yang mengadirkan banyak manfaat bagi seluruh anak bangsa.

Memang Ahmad Dahlan tidak membuat Muhammadiyah hanya untuk anggota organisasinya saja. Muhammadiyah, dalam bayangan Ahmad Dahlan, adalah hadir untuk seluruh umat manusia.

“Menjaga dan memelihara Muhammadiyah bukanlah suatu perkara yang mudah. Karena itu aku senantiasa berdoa setiap saat hingga saat-saat terakhir aku akan menghadap kepada Illahi Rabbi.

Aku juga berdoa berkat dan keridlaan serta limpahan rahmat karunia Illahi agar Muhammadiyah tetap maju dan bisa memberikan manfaat bagi seluruh ummat manusia sepanjang sejarah dari zaman ke zaman,” katanya.

Satu setengah abad sejak Ahmad Dahlan lahir ke dunia ini, rentang waktu yang cukup lama. Sangat lama. Tapi nama dan kisah perjuangannya tetap menjadi inspirasi yang tak pernah kering.


Dr. Sukamta
Anggota DPR RI wakil DI Yogyakarta

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here