Opini

Opini

Opini

May 23, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

‘Idul Adha: Peneguhan Sikap Tauhid, dan Ihsan Kepada Sesama.

Oleh: Arif Jamali Muis

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah umat Islam di seluruh belahan dunia memperingati sebuah peristiwa penting. Keikhlasan Siti Hajar, kepatuhan dan keteguhan Ibrahim, serta keikhlasan Ismail dalam memenuhi dan melaksanakan perintah Allah SWT. Peristiwa yang kemudian hari kita peringati sebagai ‘Idul Adha.

Peristiwa ‘Idul Adha paling tidak bisa kita memaknai dalam dua dimensi yaitu vertikal (transenden/ketauhidan) dan horizontal (kemanusiaan).

Secara vertikal, kejadian simbolik itu merupakan upaya pendekatan diri dan dialog dengan Tuhan dalam rangka menangkap nilai dan sifat-sifat ketuhanan. Proses ini mengondisikan umat manusia untuk melepaskan segala hawa nafsu, ambisi, dan kepentingan sempit dan pragmatis sehingga dapat “menjumpai” Tuhan.

Sebuah kepasrahan autentik (al-hanif) yang secara vertikal menjadikan setiap kaum beriman meneguhkan jiwa ketauhidan untuk selalu taat kepada Allah Yang Maha Esa, sekaligus merawat setiap perilaku agar tetap lurus di jalan benar dan tidak terjerembab ke jurang bathil dan kemusyrikan. Insan yang bertauhid akan membenamkan hawa nafsunya pada kehanifan diri, berupa jiwa yang bening dari noda syirk dan dosa.

Pada dasarnya manusia memiliki nafsu cinta materi dan segala pesona dunia, yang jika tak terbimbing dan terkendali oleh fitrah akan tumpah ke segala arah. Sumber segala nista di muka bumi ini bermula dari hasrat primitif manusia yang tak terkendali, yang oleh sufi ternama Jalaluddin Rumi disebut “ibu dari semua berhala”, seperti keangkuhan, keserakahan, kesewenangan, korupsi, kebohongan, kekerasan, kebencian, kemunafikan, dan segala wujud tiran sesungguhnya pantulan dari jiwa angkara manusia yang kehilangan sublimasi nilai Ilahiah.

Jiwa fitrah yang dihidupkan dengan ibadah dapat meredam hawa nafsu yang selalu menyala dalam diri manusia selaku insan yang hidup dalam hukum duniawi. Dengam fondasi jiwa tauhid dalam spirit ibadah haji dan qurban, setiap muslim harus mampu menaklukkan egoisme diri. Ego yang merasa diri benar sendiri, diri yang digdaya dan berkuasa, diri yang serba hebat disertai sikap merendahkan, menzalimi, dan memperlakukan orang lain semena-mena.

Kedua, secara horizontal ‘Idul Adha melambangkan keharusan manusia membangun hubungan yang baik antarsesama manusia dan untuk membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat.

Wahyu Allah SWT kepada Ibrahim untuk mempersembahkan putranya yang kemudian diganti binatang kurban memperlihatkan, tidak satu manusia pun boleh merendahkan manusia lain, menjadikannya sebagai persembahan, atau melecehkannya dalam bentuk apapun. Sebab, manusia sejak awal dilahirkan setara dan sederajat. Nilai-nilai yang merepresentasikan kesetaraan dan kesederajatan perlu diaktualisasikan ke dalam realitas kehidupan sehingga dunia dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan hakiki.

Kebaikan sosial yang menjadi hikmah dari ‘Idul Adha seperti memupuk persaudaraan, toleransi, perdamaian, dan kebersamaan yang tulus sebagai sesama anak bangsa, kebiasaan gemar menolong, berbagi rizki, melapangkan jalan orang yang kesulitan, mengentaskan mereka yang lemah, membela orang yang terzalimi, suka meminta dan memberi maaf, mengedepankan kepentingan orang banyak merupakan cerminan sikap ihsan kepada sesama yang diperintahkan oleh Allah SWT (QS An Nahl: 90).

Hari Raya Haji mengingatkan kita peristiwa keagamaan yang menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, berawal dari penghambaan diri manusia kepada kepentingan diri sendiri. ‘Idul Qurban harus menjadi proses pembebasan manusia dari segala sifat yang membuat manusia lupa jati dirinya sebagai makhluk Allah. (*)


*) Penulis adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here