Opini

Opini

Opini

Jun 15, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Memulai Tatanan Baru yang Lebih Baik

Bencana, kadang adalah kesempatan untuk memulai tatanan baru yang lebih baik. Begitulah mungkin pesan tersirat dari momen peletakan batu pertama kompleks perguruan dan aktifitas Muhammadiyah yang dilakukan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir, MSi, pada 7 September 2018 lalu.

Seperti ditulis Arif Nur Kholis dari MDMC PP Muhammadiyah, ketika terjadi bencana, kadang tidak saja meruntuhkan bangunan. Namun juga tatanan sosial.

Ketika warga terdampak tinggal di pemukiman darurat, maka banyak kedaruratan yang wajib diwaspadai.

Bila pengungsian bentuknya barak, tulis Arif Nur Kholis, tentu sistem keluarga bisa dikatakan sementara terhenti. Karena sebuah keluarga harus berbagi ruang dengan banyak keluarga lain.

Ketika sebuah keluarga tidak memiliki ruang privat bagi keluarganya sendiri, banyak hal yang semestinya berjalan bisa berhenti, dari kepentingan privat suami-istri hingga urusan pendidikan anak dan juga privasi lain seperti MCK dan sebagainya.

Bila ini berlarut-larut terjadi, tentu tatanan dan kepatutan sosial terancam. Karena itulah, kondisi darurat tidak boleh lama-lama.

Sangat bagus bila fase “pengungsian barak” segera diubah menjadi pengungsian basis keluarga. Bisa dimulai dari tenda sederhana hingga hunian sementara berbentuk rumah yg sangat sederhana. Biasanya, disebut sebagai hunian sementara (huntara).

Di sinilah adab dan kesopanan publik bisa mulai terjamin. Paling tidak, ada ruang privasi utk menegakkan sendi-sendi keluarga.

Ada ruang untuk mendidik anak, ada ruang untuk menjaga kesehatan, ada ruang untuk menjalankan kewajiban privatnya kepada Tuhan. Disinilah upaya penyelamatan nilai-nilai luhur yang telah melekat di keluarga dan masyarakat sebelum bencana bisa efektif dimulai.

Apalagi kalau keberadaan huntara ini berdiri bersamaan dengan keberadaan fasilitas layanan kesehatan (walaupun darurat), fasilitas pendidikan (walaupun darurat), hingga instalasi air bersih, MCK, fasilitas keagamaan, dan sebagainya.

Disinilah perlu dimulai pengenalan nilai-nilai baru yang menjadi visi mereka dalam hidup di jalur sabuk gempa bumi dan cincin api. Salah satu  hal yang paling mendasar adalah bagaimana pembangunan hunian tetap mereka dengan standar bangunan tahan gempa.

Tentu, ini juga berlaku dalam pemulihan sistem sosial yang tidak saja kembali kepada kondisi sebelum gempa bumi.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here