Opini

Opini

Opini

Jun 15, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Tolong, Maaf, Terima Kasih (2)

Oleh: Eko Harianto*

Melanjutkan tulisan yang lalu, kali ini bahasan kita tentang kata “maaf”. Pembiasaan kata “maaf” yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya dapat menjadi contoh yang baik dalam pendidikan anak di dalam rumah. Bila pendidikan di rumah tercipta dengan baik dan selalu mempopulerkan kata “maaf” bila melakukan hal yang tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan, akan dengan cepat meminta maaf. Islam mengajarkan kepada kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah.

Memaafkan adalah kesediaan untuk menghilangkan rasa kesal, penilaian negatif, dan perilaku tak peduli terhadap seseorang yang telah menyakiti kita secara tidak adil, sambil mengembangkan perasaan belas kasih, kemurahan hati, bahkan cinta kepada orang lain itu. Pengertian lainnya, memaafkan adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau didzalimi. Memaafkan mencakup “lebih dari sekedar menerima atau menoleransi ketidakadilan”, “menghentikan amarah terhadap orang yang menyakiti”, menawarkan “kondisi positif berupa kebaikan”, dan “menghentikan kekesalan demi kebaikan dirinya orang lain”.

Pemaafan (forgiveness) sendiri, menurut ahli psikologi Robert D. Enright (2002), adalah kesediaan seseorang untuk meninggalkan kemarahan, penilaian negatif, dan perilaku acuh-tidak-acuh terhadap orang lain yang telah menyakitinya secara tidak adil. Melengkapi pandangan Enright, Thompson (2005) mendefinisikan pemaafan sebagai upaya untuk menempatkan peristiwa pelanggaran yang dirasakan sedemikian hingga respon seseorang terhadap pelaku, peristiwa, dan akibat dari peristiwa yang dialami diubah dari negatif menjadi netral atau positif.

Sifat pemaaf merupakan salah satu manifestasi dari ketakwaan kepada Allah SwT. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya Surat Ali ‘Imran ayat 133-134: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Jika seseorang telah mampu memaafkan kesalahan orang lain yang dianggap sebagai kesalahan terbesar yang pernah dilakukan pada diri kita, maka kesalahan-kesalahan kecil lainnya sudah tentu mudah untuk dimaafkan. Orang-orang yang telah memaafkan masa lalunya, mampu berdamai dengan keadaan masa lalu, lebih ringan menghadapi masa depan sesulit apapun. Orang-orang yang ringan memaafkan, jiwanya lebih sehat, mudah lepas dari rongrongan sakit hati.

Kata-kata maaf, entah meminta maaf atau memberikan maaf, ternyata berkhasiat seperi terapi pada diri kita sendiri. Istilahnya, auto-healing, yang bisa menyembuhkan diri sendiri. Luka batin masa lalu, entah karena disakiti “mantan”, disakiti musuh, dikhianati orang kepercayaan, difitnah rekan kerja atau orang terkasih, atau karena cekcok dengan keluarga, tak semestinya dibawa lari sepanjang hidup. Luka itu harus dibasuh, dibalut, hingga akhirnya kering dan sembuh.

Tindakan dari memberi maaf diikuti dengan tindakan berlapang dada. Dalam al-Qur’an perintah memaafkan diikuti dengan perintah berlapang dada, yaitu: “…Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13). Dan dalam Surat An-Nuur ayat 22: “… Hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?…”. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda: Setiap anak Adam memiliki kesalahan, dan setiap kesalahan yang ia lakukan hendaklah ia bertubat.” (HR. Tirmidzi)

Orang tua adalah model/contoh terbaik untuk mengajar anak-anak dalam meminta maaf. Jadi, disarankan agar kita belajar meminta maaf kepada anak-anak kita. Beberapa orangtua merasa khawatir bahwa, jika mereka meminta maaf kepada anak, orangtua akan kehilangan rasa hormat dari anak. Sebaliknya, justru anak akan mengembangkan rasa hormat kepada orang tua dan anak akan belajar meminta maaf secara benar. Marilah bersama-sama belajar untuk menggunakan kata “maaf”. Sehingga siapa saja dapat belajar dan terbiasa meminta maaf.

Bersambung


*Penulis adalah Mahasiswa Doktoral PPI UMY

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here