Opini

Opini

Opini

Jun 16, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Fatmawati, Soekarno, KHA Dahlan, Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah

Bengkulu adalah sebuah daerah yang tidak terlalu besar dan ramai. Namun menyimpan banyak cerita masa lalu yang sangat luar biasa.

Kota ini menjadi saksi lahirnya seorang anak perempuan bernama Fatmawati, yang kelak menjadi ibu negara pertama negeri ini.

Kota ini juga menjadi saksi perjumpaan Soekarno dan Fatmawati, yang kelak akan menjadi pasangan pemimpin negeri ini.

Bengkulu juga menjadi saksi bergeloranya semangat seorang Soekarno dalam status pembuangannya untuk berbuat bagi negeri ini.

Berkunjung ke rumah Fatmawati, kita dihadapkan pada beberapa fakta yang menarik. Rumah kecil yang disulap menjadi sebuah museum dan dijaga oleh kerabat Fatmawati, menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Bengkulu.

Rumah itu masih dipertahankan keasliannya. Kecuali, atap dan tangganya yang sudah direhab. Dan rumah itu menampilkan foto-foto Fatmawati dan Soekarno, mesin jahit yang dipergunakan untuk menjahit bendera merah-putih, tempat tidur dan beberapa benda milik Fatmawati.

Dari sinilah kita bisa tahu siapa Fatmawati, bagaimana kesehariannya dan dinamika kehidupannya setelah menjadi ibu negara.

Fatmawati lahir dari seorang Din Hasan, tokoh Muhammadiyah Bengkulu. Menghabiskan masa remajanya dengan aktif di Nasyiatul Aisyiyah (NA), tak heran Fatmawati menjelma menjadi seorang remaja yang berani, kritis dan pintar. Gerakan Nasyiatul Aisyiyah (NA) merupakan gerakan perempuan muda Muhammadiyah yang memang memberi ruang untuk pembinaan mulai dari anak-anak hingga remaja. Dari sinilah tampaknya Fatmawati terasah kemampuan pikirnya untuk memahami situasi dan kondisi yang ada.

Pertemuannya dengan Soekarno menjadikan dia tambah semangat untuk ikut memperbaiki keadaan yang dirasa tidak adil. Dan, Soekarno tampaknya juga memiliki teman diskusi yang beda dengan ayah Fatmawati meskipun sama-sama beraliran Muhammadiyah.

Aktifitas Fatmawati di Nasyiatul Aisyiyah ini, mungkin yang menjadi sebab kenapa ketika menjahit bendera merah-putih dia menyenandungkan “Nasyiahku Sayang”.

Bagi Nasyiah atau Nasyiatul Aisyiyah, lagu itu punya nilai semangat yang sangat luar biasa. Bahkan, sampai masa periode saya di tahun 2008, lagu itu selalu kami nyanyikan di setiap pertemuan nasional sebagai pembangkit semangat.

Semua Nasyiah pasti hafal lagu itu. Tampaknya, Nasyiatul Aisyiyah sangat dijiwai oleh seorang Fatmawati. Dan itulah yang membentuk seorang Fatmawati menjadi gadis yang memiliki sifat leadership yang kuat.

Ketika Fatmawati dan keluarga pindah ke Yogyakarta karena situasi politik dan mengharuskan dia tinggal di Istana Negara Gedung Agung, mulailah interaksi terbangun dengan keluarga KHA Dahlan yang tinggal di Kauman, Yogyakarta, yang hanya berseberangan dengan Istana Negara.

Memang, sosok KHA Dahlan merupakan sosok yang pernah berinteraksi dengan Soekarno saat di Surabaya, Jawa Timur. Bahkan, sosok Nyai Ahmad Dahlan sangat dihormati oleh Soekarno. Tak terkecuali ketika beliau sakit, Soekarno menengok Nyai Ahmad Dahlan di rumahnya.

Fatmawati berkawan dekat dengan putri KHA Dahlan seperti Siti Aisyiyah Hilal. Bahkan, putra-putri Fatmawati juga berkawan dengan putra-putri KHA Dahlan. Berkaitan soal itu, saya pun pernah diberi cerita oleh ibu saya bahwa Mbah Putri saya sering berkunjung ke istana dan bertemu dengan ibu Fatmawati, tentu saja dengan ditemani Fatmawati juga.

Jika berkunjung ke istana, Bu Fat pasti sudah menyediakan daun sirih. Mereka akan bernyanyi bergembira di istana. Mbah Putri saya adalah cucu tertua KHA Dahlan. Itulah kedekatan Bu Fat dengan keluarga KHA Dahlan. Dan itu tidak bisa lepas dari darah Muhammadiyah yang mengalir di darah Bu Fat.

Berkunjung ke rumah Fatmawati di Bengkulu, maka kita akan bisa mengetahui tentang sosok Fatmawati dan kedekatannya dengan Muhammadiyah.

Fatmawati dan Muhammadiyah adalah dua hal yang tidak dipisahkan. Foto-foto yang terpampang di sana menunjukkan bahwa Fatmawati bukan perempuan biasa. Dia perempuan berkemajuan di zamannya. Bukan ibu negara biasa, namun memang punya visi dan kemampuan memajukan perempuan di Indonesia. Dan sangat layak kalau Fatmawati mendapat julukan perempuan berkemajuan di zamannya. (Hj Widiyastuti, SS, M.Hum)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here