Opini

Opini

Opini

Jun 16, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kesalihan Pak Amien Rais dan Seberapa Kadar Malu Kita

Setelah beberapa jam menekuni Orhan Pamuk dalam The Red-Haired Woman, sembari menanti masakan Ibu siap seduh, saya menggeser arah mata, kepala -dan mungkin juga dada- pada Twitter. Berniat mencari pencerahan dari tuitan para tokoh; agamawan, ilmuwan, budayawan, sejarawan, sastrawan pun sekadar kawan yg saya ikuti, baru segeser jempol yg saya dapat sebaliknya. Mata saya terpicing, kepala saya tersedak, dan dada saya terperosok pada suatu keterenyuhan.

Pada beranda, saya melihat salah satu kawan lama saya memuat ulang tuitan seorang publik figur -artis- bermata sipit -untuk menyebut seorang Tiongkok keturunan, tanpa tendensi apa pun, bukan pula soal rasis, blas! Sama sekali tidak! Tuitan tersebut berisi cemooh pada seorang intelektual, agamawan, negarawan, yang begitu saya kagumi; Prof. Amien Rais, diikuti dengan komentar-komentar yg membuat saya berulang kali mengucap istighfar sebagai wujud keterenyuhan yg begitu mendera dada saya.

Pak Amien, bagi saya adalah seorang yg telah melampaui kesalihan kebanyakan orang di era posmodern ini, manusia paripurna yg begitu peduli akan masa depan bangsa dan agamanya, ya kita cucu-cucunya ini.

Pertanyaan saya, kepada kita semua -pun berlaku pada diri saya sendiri yg dangkal ini- sederhana saja; bukankah harusnya kita malu?

Kita yg muda dan belum berbuat apa-apa ini, hanya bersembunyi pada ketiak sendiri, menutup rapat-rapat indera kita atas silang sengkarut yg mendera bangsa dan agama ini, membiarkan sosok sepuh Pak Amien angkat kata tanpa memperdulikan cacian mereka-mereka yg mata dhahir dan mata batinnya terbutakan.

Pak Amien, bagi orang yg tahu bagaimana beliau, adalah seorang yg maqam kesalihan dan ketauhidannya jauh di atas kita. Apa lagi mereka yg mengacungkan telunjuk kebiadaban hanya karena menggunakan produsen wacana sekelas CNN atau ‘kata si ini, kata itu, kata media anu’ sebagai sumber kebenaran dan bahan lucu-lucuan. Astaghfirullah.

Agaknya keinginan untuk segera mengasingkan diri dari keramaian artifisial (yg bersumber pada gawai; segala sosial media) sebagaimana sudah dilakukan kenalan saya yg tempo hari berdialog hingga jelang sahur tentang ‘jalan sunyi’ harus segera terejawantahkan. Mengambil jarak yg tak tanggung dari berbagai keramaian. Hanya akan mempergunakan nikmat waktu untuk berdialog dengan buku-buku dan mengasah ketajaman spiritual. Kemudian hanya akan mendarus kata baik dalam ucap, sikap dan rangkap (tulisan, buku) ketika kepala dan dada mencapai kedalaman dan keterpenuhan yg mumpuni.

Allahumma innii a’udzubika min syarri fitnati Dajjal.

Hingga fonem dan tanda baca terakhir tulisan singkat ini, jujur, salah satu indera saya yg terbantu oleh sepasang kaca tebal masih menitikkan air keterenyuhan.

Bukan hanya lantaran melihat Pak Amien yg tengah dirundung hujat oleh mereka yg terbutakan, melainkan juga -walaupun mata saya ini cacat, minus, namun insyaAllah saya masih selalu berusaha untuk dapat mengamati realitas dengan tajam dan cermat-terkarenakan kesadaran saya yg bulat bahwa sekelingkung kita ini tengah terjangkiti suatu disparitas, kesenjangan, silang sengkarut, dekadensi kemanusian dan ketuhanan yg amat terpuruk, di ambang mega kegetiran yg luar biasa. Bahwa di era post-truth ini, yg ada hanyalah hitam dan putih, kalau tidak a ya b, tanpa kita mampu untuk sekadar berujar lirih kepada kuping terdekat bahwa kita bukan yg ini, bukan pula yg itu. Bahwa kita adalah kewarasan yg utuh. Bahwa kita, hamba yg senantiasa bergerak menuju yg sejati.

Semoga di antara kalian, kawan-kawanku, tiada yg tengah terbutakan. Atau paling tidak, kita sama-sama orang yg menggunakan kacamata kehati-hatian sejak dalam pikiran. Apa lagi perbuatan. Wallahu a’lam.


Magetan, sahur 11 Juni 2018
M. Irfan Anas (Kader IMM DIY)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here