Opini

Opini

Opini

May 23, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Semangat 103 Tahun ‘Aisyiyah, Membangun Budaya Baru Indonesia

Oleh: Widiyastuti, S.S., M.Hum.*)

Pemahaman kesehatan bagi masyarakat itu sangat penting agar diguncang dengan kebijakan pemerintah seperti apapun masyarakat tetap kuat dan dapat bertahan

Tulisan ini muncul karena kegelisahan atas apa yang terjadi saat ini. Narasi yang berkembang di media sosial, kebijakan pemerintah yang muncul di luar ekspektasi banyak orang. Laporan pandangan mata atas kerumunan yang terjadi, kurva corona yang masih jauh dari kata landai, kondisi tetangga mulai banyak yang terpapar secara ekonomi. Pertanyaan yang tak bisa terjawab: kapan semuanya berakhir. Dan, begitu banyak kenyataan di depan mata yang membuat kepala pusing antara mangkel, gemes, bingung, marah, takut. Semuanya campur aduk atau dalam bahasa Didi Kempot .. AMBYAR. Tentu saja saya tidak ingin pusing sendiri atau terjebak dalam kegalauan tanpa ujung ini. Harus ada ikhtiar yang dilakukan, minimal untuk diri sendiri. Syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain.

Beberapa saat yang lalu kita dihebohkan dengan statement Bapak Presiden soal berdamai dengan corona. Hampir semua bergolak, para relawan, para nakes semua berteriak sehingga muncullah tagline Indonesia Terserah. Sebuah tagline yang kalau dibiarkan akan sangat berbahaya karena menanamkan keacuhan dan keabaian terhadap kondisi yang saat ini ada. Tentu saja bagi Muhammadiyah yang saat ini mengerahkan segenap asetnya merasa dicederai dengan statement ini. Seolah mengabaikan nyawa manusia untuk kepentingan ekonomi. Namun di satu sisi, kenyataan di masyarakat membuat kita harus berpikir tentang formula yang tepat selain berdamai. Masih ada masyarakat yang harus masuk kerja karena kewajiban, ada yang tidak bisa makan jika tidak keluar rumah, ada yang merasa hebat dan kebal sehingga tetap melaksanakan ibadah di rumah ibadah, ada juga yang karena rasa budayanya memutuskan untuk bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain. Lupakan pertentangan antara mudik dan pulang kampung. Ada persoalan budaya yang dilupakan dalam membuat kebijakan bahkan dari sisi redaksionalnya. Tapi inilah yang kita hadapi. Frustasi? Sedikit. Tapi kita tidak boleh putus asa. Apalagi Muhammadiyah dengan segala komponennya, ‘Aisyiyah dan ortomnya, yang secara terpadu dan mandiri melakukan ta’awun terhadap negeri ini. Bukan meminta namun memberi. Semangat ini yang tidak boleh dan tidak akan surut apapun kebijakan pemerintah dan keadaan yang kadang tidak sesuai dengan protokolnya. Keadaan jelang lebaran ini semakin memperumit persoalan sehingga ada kekhawatiran munculnya gelombang kedua pandemi ini. Apalagi tampaknya pemerintah mulai menerapkan prinsip “mengatur informasi” dalam kasus corona ini.

Melihat keadaan saat ini tampaknya pilihan untuk bisa beradaptasi dengan keadaan, beradaptasi dengan lingkungan yang sudah terpapar dengan virus corona yang entah kapan baru bisa ditemukan vaksinnya. Adaptasi tidak sama dengan berdamai. Adaptasi adalah sebuah upaya untuk mengatasi tekanan lingkungan untuk bertahan hidup. Lingkungan kita yang saat ini terpapar virus corona harus kita atasi untuk kita bisa bertahan hidup. Menyerah? Bukan. Karena ini adalah bentuk perlawanan yang kita lakukan untuk mengatasi berbagai tekanan yang ada. Tekanan lingkungan, tekanan sosial, tekanan ekonomi yang tentu saja akan berdampak terhadap hidup kita. Apakah ini sama artinya kita mengabaikan jasa para garda depan yang selama ini berjibaku mengatasi pandemi ini? Tidak juga. Justru ini adalah upaya nyata dari kita untuk bisa menekan kuantitas manusia yang terpapar virus dengan tetap bisa bertahan hidup. Sulit? Sebenarnya tidak. Namun butuh komitmen kuat untuk bisa menjalaninya.

Berbincang dengan beberapa teman yang memang berkecimpung dalam persoalan ini, maka salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk beradaptasi adalah meningkatkan pemahaman kesehatan secara masif pada masyarakat. Ingat, ini membutuhkan edukasi yang masif, konsistensi gerakan, ketaatan, dan kesadaran masyarakat. Agak berat karena ada beberapa budaya yang akan tersingkirkan dengan proses adaptasi ini. Namun pilihan menyelamatkan nyawa dan kehidupan akhirnya harus menjadi pilihan. Untuk bisa beradaptasi dengan virus ini maka mau tidak mau suka tidak suka masyarakat harus menerapkan beberapa hal yaitu:

  1. Jangan tinggalkan ibadah wajib dan doa sebelum pergi ke luar rumah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di luar sana. Dekatkan diri kita kepada Allah SWT.
  2. Sering-seringlah berwudhu untuk membersihkan diri kita baik secara fisik maupun psikis.
  3. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun di air mengalir dan atau menggunakan hand sanitazer setiap habis pegang sesuatu. Selalu bawa hand sanitizer pribadi kemana saja dan jangan pinjamkan ke orang lain. Apabila ada yang minta maka cukup anda semprotkan pada orang tersebut.
  4. Selalu menggunakan masker jika berada di luar rumah dan tegur teman yang tidak pakai masker dekat kalian.
  5. Jangan kontak fisik langsung seperti berjabat tangan, cipika cipiki, berpelukan dengan siapapun di luar rumah. Ganti dengan body language yang tetap mengedepankan nilai-nilai luhur bangsa kita.
  6. Jaga jarak jika bertemu orang atau teman, tidak terlalu dekat. Jika ada teman pilek, batuk, jangan terlalu dekat/didekati dan harus jaga jarak minimal 2 meter.
  7. Tidak mengucek mata, pegang mulut atau hidung dan telinga sebelum cuci tangan.
  8. Sehabis dari pergi dan pulang ke rumah harus segera mencuci tangan pakai sabun, ganti baju dan masker langsung dicuci. Diusahakan untuk mandi dan keramas setelah bepergian dan pulang ke rumah. Rendam dengan detergen baju yang baru saja dipakai dari luar rumah.
  9. Semprot disinfectan setiap paket yang datang ke rumah atau barang yang dibeli (kecuali makanan).
  10. Cuci buah buahan yang dibeli dengan air mengalir (dari keran) sebelum dimakan.
  11. Langsung cuci tangan atau pakai hand sanitazer setelah pegang apapun, utamanya uang, pintu umum, keran air di wc umum, dan benda lainnya.
  12. Tidak perlu ke luar rumah jika tidak terlalu penting.
  13. Tidur yang cukup
  14. Olah raga teratur
  15. Makan buah dan sayur secara rutin
  16. Selalu berpikiran positif dan menjaga stabilitas emosi

Cukup banyak protokol yang harus dilakukan namun ini harus dibiasakan untuk tetap menjaga kita sehat di tengah pandemi ini. Mulailah juga selektif dalam bertransaksi apapun dengan pihak-pihak yang memang menjaga protokol ini. Hal ini akan menjadi salah satu sanksi sosial bagi siapapun untuk bisa mentaati protokol ini.

Pemberlakuan protokol kesehatan ini tentunya akan bertentangan dengan budaya dan kebiasaan yang selama ini kita lakukan. Kebiasaan kita bersilaturrahmi dan bersosialisasi menjadi terputus karena kita akan sangat membatasi pertemuan fisik. Namun sebenarnya itu bisa disiasati dengan teknologi yang ada. Jangan pernah berpikir kalau pembatasan fisik akan memutus silaturrahmi diantara kita. Social Distancing just only Phisycal Distancing Not Psychological Distancing. Ada perubahan budaya juga yang dijumpai dalam hal bersentuhan. Tidak ada lagi salamam, sungkeman, berpelukan. Itu untuk sementara harus dihindarkan. Masalah? Jangan jadikan itu masalah. Gantikan saja dengan body language yang tetap mengedepankan kesopanan dan nilai-nilai luhur bangsa kita. Misalnya membungkukkan badan, menakupkan telapak tangan di depan, atau tanda lainnya. Menggunakan masker sehari-hari juga sebenarnya bukan budaya kita karena wajah akan tidak terlihat, raut wajah tidak kentara. Namun sekali lagi itu untuk menjaga kita semua. Jika kita bisa menjaga diri kita sendiri maka kita juga menjaga Indonesia.

Mari kita mencoba mulai disiplin pada diri sendiri utk menjaga diri dan demi orang-orang yang kita sayangi akan sangat berguna saat ini. Jika masyarakat sudah memiliki pemahaman tentang kesehatan di masa pandemi ini, maka apapun kebijakan yang diambil pemerintah, masyarakat tetap kuat dan bisa bertahan. Pertanyaan besarnya adalah sudah siapkah kita untuk mengubah semua perilaku hidup kita, mengubah budaya kita untuk kehidupan yang lebih baik? Ini bukan hanya soal nyawa kita namun juga nyawa keluarga, teman dan tetangga kita yang bisa terjaga. Mari kita menjadi agent untuk perubahan ini. Mulai lakukan untuk diri sendiri, terapkan untuk keluarga kita dan sebarkan pada tetangga dan teman kita. Siapapun bisa menjadi pahlawan untuk perubahan ini semua menuju arah yang lebih baik.

‘Aisyiyah bisa menjadi garda terdepan dalam melakukan edukasi kepada para perempuan untuk bisa menularkannya di rumah. Semua harus bergerak bersama. Semua harus memiliki pemahaman bersama bahwa sehatnya masyarakat adalah sehatnya Indonesia. Menyehatkan masyarakat adalah dasar menyehatkan bangsa. Mari kita jaga diri kita sendiri, keluarga dan lingkungan kita untuk menjaga Indonesia untuk segera keluar dari pandemi ini. (*)


*)Penulis Anggota Lembaga Kebudayaan PP ‘Aisyiyah
—————————————————————————————————————
Tulisan antara lain hasil sharing dengan dua perempuan hebat, dr. Lelitasari Danukusumo, M.K.K., dan dr. Dian Indahwati)
—————————————————————————————————————
#JagaKitaJagaIndonesia
#SayaTidakLebaiNamunTidakAbai

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here