Opini

Opini

Opini

Jun 15, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Guru yang Aktivis

Oleh: Diyah Puspitarini

Guru yang juga menjadi aktivis adalah pilihan yang sulit, meski tidak rumit.

Sejujurnya, saya sudah memiliki model guru yang seperti ini, yaitu bapak. Sehingga tidaklah asing bagi saya dan justru berorganisasi tetap mengasah kapasitas saya yang lain selain mengajar.

Menjadi guru Bimbingan Konseling (BK) memang menyenangkan bagi saya, namun juga sekaligus menantang. Harus stand by di sekolah dari pagi sampai sekolah berakhir. Sementara, terkadang ada kegiatan organisasi yang tidak jarang bertabrakan.

Dan, saya beruntung bekerja di sekolah Muhammadiyah. Karena sejak dari awal, niat saya memilih menjadi guru Muhammadiyah agar tetap bisa aktif di Muhammadiyah. Dan saya pun juga bersyukur memiliki kepala sekolah yang juga aktifis Muhammadiyah, sehingga memahami aktifitas saya dan beliau juga sering memberikan ijin untuk mengikuti muktamar, pelatihan perkaderan, dan Tanwir yang mengharuskan saya meninggalkan sekolah berhari-hari.

Selain itu, saya juga bersyukur memiliki teman-teman guru yang juga kader dan aktifis Muhammadiyah, sehingga bisa membantu jika ada info atau saya meninggalkan tugas.

Cukuplah bagi saya kemudahan-kemudahan ini saya syukuri agar Allah SWT menambahkan dengan hal lainnya. Saya pun turun merasakan para guru yang aktivis, yang kebetulan kepala sekolahnya tidak bisa memahami, sehingga terkadang mencuri-curi waktu di tengah padatnya jam mengajar.

Namun, nampaknya, menjadi guru yang aktivis tetap menjadi sorotan bagi beberapa teman guru yang mungkin mereka tidak memahami esensi dari berorganisasi. Sehingga tidak jarang, bahkan ada yang menggerutu, “Habis ngajar kok masih beraktivitas, kayak kurang kerjaan saja, seperti tidak ngurus keluarga dan bla..bla..bla…”.

Adapun yang termasuk golongan itu ada dan banyak juga, sekalipun Anda menjadi guru di sekolah negeri ataupun swasta, maka pilihan berorganisasi dan Anda sudah menjiwai saya kira bukan menjadi persoalan.

Saya sedikit beruntung karena di atas sudah saya jelaskan. Namun saya pun juga tidak “mentang-mentang” karena di Muhammadiyah lantas saya menjadi seenaknya saja. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya, mungkin juga guru yang memiliki aktivitas yang sama dengan saya.

Bekerja memang lelah dan terkadang menguras energi. Apalagi jika Anda guru BK dan aktif untuk menyelesaikan masalah murid-murid, dari benang merah sampai sepeda motor murid diurusi, belum di luar jam mengajar masih sering wali murid yang meminta bantuan hingga ada yang mencaci karena anaknya tadi pagi dipanggil. Namun, semua itu dijalani dengan ikhlas dan penuh rasa syukur.

Sepulang sekolah, bagi saya dilanjutkan dengan aktivitas saya di organisasi. Tidak setiap hari memang, tapi setiap pekan pasti ada kegiatan walaupun rapat rutin. Maka, tak jarang terkadang masih dengan seragam sekolah sudah “muter-muter” ke mana-mana. Atau, kalau baru rajin, saya bawa baju ganti agar kelihatan sedikit fresh.

Sampai rumah pun waktunya sudah malam, tetangga sudah masuk rumah, dan terkadang keluarga juga sudah siap-siap untuk istirahat. Baru saya beraktifitas di dapur dan di rumah pada jam-jam tersebut, dan sampai saya tertidur.

Kalau ditanya lelah atau tidak, pasti lelah? Tapi, tinggal bagaimana memaknai aktivitas, sekadar bekerja atau pengabdian?

Saya melihat bahwa berorganisasi dan juga berkegiatan di luar bekerja adalah kebutuhan saya bersosilisasi dan meningkatkan kapasitas saya. Entahlah, berapa banyak manfaat yang saya dapatkan untuk diri saya, karena saya juga tidak bisa mengukurnya.

Namun, manfaat yang lain yang saya rasakan ketika bekerja, berbagai masalah dan persoalan yang ada bagi saya lebih siap untuk saya hadapi. Dengan berbagai jaringan kenalan pun, hal ini membantu untuk memajukan saya sebagai guru ataupun sekolah di mana saya bekerja. Belum kesempatan dan ilmu yang lainnya yang saya sendiri tidak bisa menghitungnya. Yang jelas sangat banyak…

Hal ini juga mengubah mind set hidup saya, dari bekerja menjadi pengabdian dan dedikasi. Kalau sebagai pekerja, maka akan sakit hati jika gaji yang diterima tidak sesuai yang diharapkan. Namun jika dilihat sebagai pengabdian memajukan pendidikan dan anak bangsa, maka segala hal yang dihadapi dengan jiwa yang tangguh dan pikiran yang positif, sehingga memberi dampak yang baik untuk diri dan kesehatan.

Menjadi guru, bagi saya, juga tidak hanya di sekolah saja. Guru sejati adalah yang mampu memberikan ilmu apa pun yang dimiliki kepada semua orang. Dan yang terpenting keberadaan kita memberikan manfaat untuk orang lain.

Jangan pernah berpikir bahwa ilmu yang kita punya akan habis. Justru dengan memberikan ilmu ke banyak orang, maka ilmu kita akan bertambah. Berorganisasi juga demikian, akan banyak interaksi keilmuan yang didapat, baik dari orang lain atau kita yang mengajarkan ilmu yang kita miliki ke orang lain.

Nampak sangat mudah, namun hal ini merupakan simbiosis mutualisme jangka panjang yang bisa menjadikan kehidupan seseorang berkah dan menjadi lebih baik.

Maka, ketika saya meninggalkan pekerjaan untuk organisasi, selalu saya selipkan doa untuk menitipkan urusan sekolah pada Allah SWT. Begitu pula sebaliknya, jika saya sedang beraktivitas dalam kepentingan sekolah dan harus meninggalkan organisasi, maka saya titipkan pada Allah SWT urusan organisasi. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada, dan Allah pula sebaik-baik perencana.

*Penulis adalah Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here