Opini

Opini

Opini

Jul 14, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kesatuan Aksi Turu Masjid, Menjaga Tokoh Islam dari Teror PKI

Oleh: Ki H. Ashad Kusuma Djaya

Selama ini saya banyak mengenal KAMI/KAPI sebagai kesatuan aksi menghadapi ancaman komunisme di akhir orde lama. KAMI singkatan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan KAPI singkatan dari Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI). Di luar itu ada juga yang saya kenal, tapi kurang mendalam.

Dari buku sejarah saya tahu beberapa nama kesatuan lain. Ada Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI). Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI). Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI). Adapula Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI).

Namun ada satu kesatuan aksi yang baru saya dengar dari para pelaku sejarah dalam pertemuan beberapa waktu lalu. Kesatuan aksi itu khusus bertugas jaga malam, menjaga tokoh-tokoh Islam dari penculikan dan teror kader-kader PKI. Nama kesatuan itu adalah KATMI singkatan dari Kesatuan Aksi Turu Mesjid Indonesia. Turu masjid artinya tidur di masjid.

Adanya KATMI itu dituturkan oleh Bapak Suatmadi. Beliau ini di era 65-66 menjadi pelatih pasukan inti IPM guna menghadapi provokasi dan serangan dari pihak komunis. Hadir juga Bapak Sukrianto AR (Ketua LSBO PP Muhammadiyah), Bapak Budi Mapala Unisi (Dosen FBE UII), serta Ustadz Wahid Ahmadi sebagai tuan rumah. Mereka hampir seusia dan membenarkan penuturan tentang KATMI tersebut. Saya dan Ramanda Endra Widyarsono (Ketua Kwarnas HW) menjadi saksi penuturan itu.

Saya menduga keberadaan KATMI barangkali hanyalah fenomena lokal di Yogyakarta. Sebab tidak banyak buku sejarah yang mencatatnya. Atau bahkan belum ada yang mencatat. Tapi mungkin saja di daerah lain ada, tapi juga luput dari catatan sejarah. Karena itu pada pertemuan dengan para sesepuh itu saya usulkan ada baiknya mumpung para narasumber masih hidup, perlu dibuat rekaman wawancaranya. Dari rekaman itu bisa ditulis menjadi buku bahkan direkonstruksi menjadi film.

Fenomena KATMI dapat menggambarkan eskalasi konflik pada masa 65-66 itu. Juga memberi informasi bahwa masjid merupakan basis pertahanan umat Islam dalam perjuangan mempertahankan Pancasila dan kedaulatan negeri ini. Juga menjadi simbol kesatuan rakyat dan TNI.

Pada masa agresi Belanda ke-2, berdirilah Askar Perang Sabil (APS) pada tanggal 23 Juli 1948 di Masjid Takwa Suronatan Yogyakarta. Para ulama bermunajat dan bermusyawarah di tengah malam bertepatan tanggal 17 Ramadhan 1367 H. Hasilnya membentuk APS yang akan mendukung perjuangan TNI menghadapi gempuran tentara sekutu dan rongrongan PKI yang ingin mendirikan Negara Republik Soviet Indonesia.

Markas dan tempat latihan APS ada di Masjid Gedhe Kauman. Itu artinya sejak perang kemerdekaan sudah ada kultur KATMI di atas. Para pemuda tidur di masjid, latihan perang bersama TNI. Membangun kesatuan rakyat dan TNI mempertahankan Pancasila dan kemerdekaan negeri ini. Karena itu para pemuda masjid ini dituduh radikal oleh penjajah dan orang-orang PKI.

Masjid Gedhe Kauman menjadi saksi perjuangan para pemuda masjid di masa revolusi kemerdekaan. Di utara masjid itu ada monumen para syuhada dari Kampung Kauman yang gugur selama masa revolusi tahun 1945-1949. Para syuhada itu adalah hasil kultur turu masjid.

Pada dasarnya sejarah turu masjid atau tidur di masjid di masa revolusi bukan hanya kisah pindah tidur. Namun merupakan bagian dari sejarah perjuangan nasional. Jika ini difilmkan akan menjadi kisah pembentukan karakter kebangsaan. Meski bisa jadi akan memunculkan ironi dengan tulisan di berbagai masjid yang berbunyi: “Dilarang Tidur di Masjid”. (*)

Yogyakarta, 12 Rabiul Awwal 1443 H

Penulis adalah Penggerak Budaya Literasi dan Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta

Tulisan diambil dari FB Ashad K. Djaya atas ijin yang bersangkutan

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here