Opini

Opini

Opini

May 23, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Manusia-Manusia di Tengah Pandemi

Oleh: Sucipto Jumantara

Inilah hari-hari di tengah pandemi. Silih berganti berita datang mengabarkan situasi terkini dari lingkup keluarga, RT, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara dan dunia.

Saya kemudian ingat ada beberapa teman yang harus menjalani isolasi. Dinyatakan positif dan kemudian sembuh. Salah satunya Adi, berasal dari Brebes dan sekarang tinggal di Yogya.

Ia, istri, anak, dan mertuanya harus menjalani swab dan hasilnya membuat mereka merasa secara psikis kurang mendapat dukungan warga sekitar. Lebih-lebih mertuanya yang sudah sepuh. Beberapa hari setelah menerima hasil swab mereka sangat terpukul.

Suatu hari dari dalam rumah Adi mendengar ada tetangga bersuara keras mengingatkan mertuanya, “idak usah keluar rumah Mbah, tetap saja di dalam rumah.” Saat itu mertuanya ingin keluar sebentar di area rumah untuk berjemur.

Akibat diperlakukan seperti itu, mertua sampai sulit berjalan. Kaki seolah sulit digerakkan. Termasuk saat akan swab lagi untuk yang kedua kalinya, harus dipapah karena tak mampu berjalan sendiri.

Selang beberapa hari, dilakukanlah swab lagi dan hasilnya negatif semua. Tak lama kemudian mertuanya sudah di luar bersama tetangga sedang menebang pohon pisang. Mertua Adi dengan kondisi segar dan tanpa harus dipapah. Betapa suasana psikis seseorang berdampak sangat besar bagi kesehatan raga.

Di hari yang lain saya mendapat berita bahwa dr. Muallim Hawari, M.M.R. yang bertugas di PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta kembali dinyatakan positif terpapar untuk yang kedua kali. Sebagai dokter ia sangat rawan tertular. Kabar itu saya dengar langsung dari ibundanya.

Tidak lama kemudian setelah selesai menjalani masa isolasi, dokter yang getol menggerakkan prokes ini terlihat dalam sebuah foto dengan memakai baju APD sedang menjalankan tugas visit ke sebuah shelter. Ia sudah kembali bertugas. Ia dan juga jutaan nakes di dunia menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan covid ini. Mereka menjadi bagian masyarakat yang sangat berisiko terpapar.

Sekarang adalah saat masyarakat muslim sibuk menyiapkan hari raya ‘Idul Adha 1442 H. Di sisi lain edaran pemerintah dan ormas seperti Muhammadiyah meminta agar tidak ada kegiatan berkerumun termasuk beribadah di masjid saat ‘Idul Adha.

Sabtu pagi 7 Dzhulhijjah 1442 H saya mendapatkan tautan cerpen saya yang dimuat di Suara Muhammadiyah yang berjudul Kurban. Cerpen itu mengisahkan suasana rapat menyiapkan hari raya ‘Idul Adha di sebuah masjid di masa pandemi. Cerita yang menggambarkan realitas keragaman sikap ketika beragama dihadapkan pada penyebaran Covid-19.

Fenomena yang pasti banyak terjadi akhir-akhir ini di sejumlah masjid. Bahkan ada foto tersebar di media sosial berisikan masjid memasang tulisan di spanduk “Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang melarang atau menghalangi, apalagi sampai mengusir orang untuk sholat di masjid. Kecuali setan, iblis bukan manusia.” Ada juga yang menyebarkan tulisan PPKM sebagai Perbanyak Pergi ke Masjid. Ini adalah fakta di tengah lonjakan kasus covid-19 di Indonesia.

Siang hari saya menyimak pengajian Milad Muhammadiyah 112 bersama.Ust. dr. H. Agus Taufiqurrahman di UAD. Ia mengingatkan agar kita memiliki peran menghadapi pola pikir salah menyikapi Covid-19. Masih banyak yang tidak percaya adanya Covid-19 sehingga masih ada orang yang tidak peduli bahkan tidak ada upaya menjaga diri dan orang lain. Dokter Agus mengingatkan satu kaidah fikih “la dhara wala dhirara” (Kita tidak boleh membuat diri kita celaka, ataupun mencelakakan orang lain). Anda bisa menyimak ceramah lengkapnya di https://youtu.be/PAh1vv8AtOE.

Di sore harinya saya membaca satu tulisan dimuat di mediamu.com berjudul Pelajaran Ketika Sakit. Catatan spiritual singkat penuh makna, tentang pengalaman penulisnya bersama istri, anak,dan orangtuanya yang sama-sama dinyatakan positif covid dan alhamdulillah setelah melewati masa isolasi dinyatakan sembuh semua. Ia bercerita betapa sehat itu mahal harganya dan dukungan dari orang-orang sekitar sangat dibutuhkan saat mendapat musibah sakit. Secara personal ia begitu mendapatkan masa-masa yang menyadarkannya betapa menjadi manusia itu sangat lemah dan sangat membutuhkan yang Maha Kuasa. Tulisan itu ada di https://www.mediamu.id/2021/07/17/pelajaran-ketika-sakit-teringat-dosa-dosa/2/

Seorang teman bercerita kepada saya tentang kawannya yang antivaksin. Ia sungguh prihatin dengan sikap seperti itu. “Saya sendiri sebenarnya sedang positif. Saya sedang isoman,” kata teman saya itu

Sebagai teman. Saya langsug kaget dan mendoakan, “Ya Allah, semoga segera sembuh.” Tapi ia malah menjawab, “Biasa saja he..he…Tidak usah bilang sipa-siapa.”

Teman saya ini dengan tenang menyampaikan bahwa sekarang ini di DIY kemungkinan orang positif covid jika diswab cukup besar, bisa 4 dari 5 adalah positif. Teman saya selama ini termasuk orang yang begitu kencang ikut mengkampayekan pentingnya prokes dan mendukung upaya-uaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Terakhir saya dapati ia mencak-mencak, marah besar setelah membaca berita bahwa PKU dipersoalkan vendor karena melanggar prosedur yang sudah disepakati bersama sehingga berujung penarikan 250 tabung oksigem. Padahal saat itu keadaan darurat. Kasus ini ada di portal www.mediamu.com.

Manusia-manusia di tengah pandemi masih belum satu sikap, padahal korban terus bertambah. Mereka yang sedang sakit jumlahnya meningkat. Bagi yang sedang menjalani perawatan semoga senantiasa sabar dan kuat. Banyak berita orang sembuh dari Covid-19. Terus iktiar dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Semoga teman-teman kita yang sedang sakit segera diberikan kesembuhan. Aamiin. (*)

Penulis adalah Tim Redaksi mediamu.com

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here