Opini

Opini

Opini

Jun 16, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sowan Buya Syafi’i Ma’arif

Oleh: Erik Tauvani Somae

Usai salat Maghrib di masjid Nogotirto pada hari Selasa, 5 Februari 2019, sebanyak 18 orang siswa kelas XII Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta duduk melingkar-erat di hadapan Buya Syafii Maarif untuk berguru menimba ilmu.

Sebagai permulaan, Buya Syafii bertanya kepada para siswa ini: “Apa yang kalian dapatkan selama belajar di Mu’allimin?”

Satu per satu di antara mereka memberikan jawaban yang beragam. Si A menjawab: kemandirian dan persahabatan, Si B: lebih bisa membaur dengan masyarakat, Si C: lebih berpikir terbuka, Si D: memiliki keberanian bicara di depan umum, dan Si E: lebih paham tentang Muhammadiyah dan Islam. Dan seterusnya…

Selanjutnya, Buya Syafii bertanya: “Adakah di antara tuan-tuan sekalian berkeinginan menjadi pengurus Muhammadiyah?”

Umumnya, mereka tidak hanya ingin. Namun ini sudah menjadi amanah ideologis sebagai alumni Mu’allimin.

Setelah bincang-bincang dua arah secara aktif dimulai dari Buya Syafii bertanya, kini giliran Buya memberikan nasihat-nasihatnya kepada para siswa.

“Dibandingkan dengan saya dulu waktu di Mu’allimin,” kata Buya Syafii, “kalian jauh lebih baik. Sekarang menu makan lebih enak, organisasi siswa lebih maju, mubalig hijrah sampai ke luar negeri, dan akses internet tidak ada batasnya. Saya dulu, apa ya? Hanya anak kampung tersuruk, udik lagi. Tapi dulu saya aktif di majalah Sinar. Pesan saya, banyak-banyak baca. Jangan cuma membaca tulisan yang sejalan dengan pendapat kita saja. Baca juga tulisan yang lain. Lalu banding-bandingkan, diskusikan, dan biasakan sikap kritis.”

Kemudian, suasana jadi hening.

“Zaman saya dulu,” lanjut Buya Syafii, “setelah lulus diarahkan ke IAIN. Tapi sekarang kalian bisa ke mana saja dan jadi apa saja. Ini kan bagus sekali. Coba, di antara lulusan Mu’allimin ini nanti ada yang masuk ke Akmil atau Akpol. Jadi tentara atau polisi. Ini penting sekali.”

Buya Syafii menjelaskan bahwa militer atau kepolisian perlu juga diisi oleh mereka yang paham agama, paham dalil, paham bahasa Arab untuk nahi munkar menghadapi kelompok penganut teologi maut.

“Saya katakan bahwa kelompok semacam ini sesungguhnya berani mati karena tidak berani hidup. Nah, jika polisi dihadapkan dengan dalil-dalil agama yang menghalkan tindakan kelompok semacam ini, mereka sering kelabakan. Cobalah di antara tuan-tuan ini ada yang masuk kepolisian atau militer.”

Dialog dua arah antara Buya Syafii dengan para siswa Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta terasa demikian hidup dan hikmat. Setiap pendapat dihargai, dikembangkan, dan didiskusikan secara sederhana.

Sesekali, pada kesempatan itu Buya Syafii selipkan cerita-cerita pengalaman hidupnya yang penuh perjuangan dalam segala onak dan duri.

Azan Isya menjadi penanda obrolan harus dihentikan dan dilanjutkan lagi setelah shalat Isya.

Kini, jam menunjukkan pukul 20.30 WIB. Buya Syafii harus segera istirahat. Akhirnya, semoga sehat selalu, Buya.

Petuah-petuah Buya Syafii akan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa. We love Buya Syafii Maarif.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here