Opini

Opini

Opini

Jun 15, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Bantuan Internasional yang Tidak Dibutuhkan

Oleh: Afnan Hadikusumo

BEGITU mendengar akan mendapatkan bantuan, biasanya orang akan sumringah dan tentu saja bahagia.

Itu juga yang saya rasakan sekitar pertengahan tahun 2006, di mana saat itu masih aktif menjadi anggota DPRD Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tiba-tiba ditelepon kawan yang kerja di Jepang: mengabarkan salah satu perusahaan komputer di Jepang akan membagikan komputer gratis karena komputer tersebut sudah out of date, sebanyak 5 ribu buah.

Sebagai anggota DPRD Propinsi DIY, berita gembira ini langsung saya sampaikan ke Dinas Pendidikan dan beberapa sekolah.

Manurut kawan saya yang kerja di Jepang tadi, komputernya gratis. Tapi ongkos pengiriman, pajak, dan biaya instal dibebankan kepada penerima.

Nah, alhasil ketika saya dengan beberapa teman di Dinas Pendidikan DIY serta wakil sekolah menghitung biaya yang dibutuhkan, maka setiap komputer membutuhkan biaya sebesar Rp. 2,8 juta di mana dana tersebut ternyata bisa dibelikan komputer baru buatan dalam negeri, tinggal pakai.

Akhirnya, rencana mendatangkan komputer dari Jepang itu pun tidak jadi alias batal.

Terkadang, kita terpesona dengan istilah bantuan dari luar negeri. Apalagi jika bantuan tersebut dikaitkan dengan situasi kedaruratan, semisal terjadinya bencana kekeringan, bencana gempa, erupsi gunung berapi, banjir, atau bahkan bencana kelaparan.

Namun terkadang pula bantuan tidak semanis yang dibayangkan. Terkadang bantuan yang diberikan adalah yang bukan merupakan kebutuhan masyarakat yang terkena musibah.

Alkisah, di Somalia tahun 1974 mengalami kekeringan yang bekepanjangan sehingga mengakibatkan masyarakatnya banyak yang terserang kolera dan mal nutrisi.

Di pertengahan tahun tersebut seorang penyiar radio dari kota Detroit AS bernama Beverly Draper membawa bantuan dari masyarakat Amerika Serikat berupa obat-obatan, makanan, dan selimut.

Namun apa lacur setelah sampai di tujuan, barang-barang itu ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan para pengungsi. Obat-obatan yang dibawa kebanyakan contoh obat promosi para pedagang yang berasal dari donasi para dokter dan apoteker dermawan di Amerika Serikat. Itu adalah obat yang digunakan khusus untuk orang-orang kaya, misalnya: obat penyakit ginjal, obat sakit jantung, atau obat untuk orang kedinginan. Begitu juga dengan selimut listrik itupun tidak dibutuhkan. Adapun paket makanan isinya berupa sop peramping tubuh dan minuman rasa coklat untuk diet.

Padahal, kondisi yang dihadapi di Somalia saat itu cuacanya yang sangat panas, masyarakatnya miskin, kelaparan, dan berkembang penyakit kolera serta penyakit kulit.

Walhasil oleh otoritas setempat, barang bantuan tersebut banyak yang dibuang karena tidak cocok dengan kebutuhan di lapangan.

Dalam setiap musibah, rasa kesetiakawanan dan solidaritas dalam bentuk bantuan sangatlah dianjurkan karena akan mengasah rasa kemanusiaan kita.

Akan tetapi, barang-barang yang kita bantukan haruslah tepat bentuk dan tepat sasaran agar di kemudian hari tidak malah menjadi sampah dan terbuang percuma.

Antisipasinya, sebelum memberikan bantuan harus melakukan survey di lapangan terlebih dahulu.


*Penulis, Ketua Umum PP Tapak Suci

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here