Opini

Opini

Opini

Jun 15, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kebebasan Netizen dan Etika Media Sosial

Oleh: Dr. H. Robby H. Abror, M.Hum.

Setiap orang hari ini menjadi begitu penting. Media sosial telah memediasi setiap orang untuk tampil sesuai harapannya. Setiap orang itu penting sebab merasa mementingkan peran pribadi dalam ruang dan waktu yang dimediasi. Setiap orang dapat membayangkan dirinya sebagai orang lain. Setiap orang sedang berproses menghargai dirinya sendiri sebaik mungkin atau mencelanya. Setiap orang tahu bahwa dirinya bagian dari pikiran, angan-angan dan keinginannya.

Setiap orang yang tak dapat memenuhi hasrat menjadi pribadi yang baru dan memukau akan merasa gagal dalam mengisi kebaruan dalam hari-harinya. Setiap orang ingin memperbarui dirinya di hadapan cermin sosial. Setiap tindakan yang dapat mengapresiasi dirinya dengan kesan positif akan membuatnya senang, bangga dan tersenyum lega. Sebaliknya, pandangan yang kontra atas harapan-harapan akan melahirkan kekecewaan, merasa kurang sempurna dan bisa jadi melihat sahabat menjadi musuh secara tiba-tiba.

Setiap orang ingin berubah dalam ketetapan dan keterbatasannya. Ini yang tidak disadari, bahwa perubahan itu terjadi dan berlangsung dalam konteks kedisinian dan kekinian. Jika keajegan ini dimaklumi sebagai konsistensi diri dalam tindakan bermedia sosial, maka juga dapat dimaklumi bahwa setiap orang telah menjadi sama satu sama lain. Sama dalam kegiatan baru di media sosial. Sama-sama berproses menjadi, mengejawantahkan pesan, curhat, kritis, berefleksi tentang kejadian keseharian, kecewa dengan ketidakpastian, dan berharap akan keindahan.

Setiap orang yang bermedia sosial itulah netizen. Ia memiliki kebebasan tanpa batas untuk hidup di dunia tak nyata atau di dunia nyatanya yang baru. Dunia maya yang tak lagi sanggup dibedakan dengan dunia nyata, sebab setiap keputusan dan perkataan akan berdampak sosial dan melahirkan konsekuensi logis yang sama dengan kehidupan nyata. Kebebasan inilah yang mendapatkan tempat baru yang seluas-luasnya dalam diri individu. Jangan heran jika individu mengalami keterbelahan diri. Setiap orang dapat menduplikasi dirinya menjadi banyak diri yang kompleks, rumit dan mencengangkan.

Kebebasan netizen bisa menjadi berkah sekaligus bencana, tergantung bagaimana individu itu hendak mengisi atau memaknainya. Setiap orang hari ini dapat menemukan jawaban dari masalahnya, atau menambah masalah baru bagi masalah-masalah pribadi yang tak pernah terpecahkan. Netizen dapat menuntaskan setiap persoalan dalam hidupnya atau menyoal kembali tentang setiap masalah kehidupan. Setiap orang memperoleh kebebasannya.

Kebebasan itu bukan tanpa batas. Sebab jika itu yang dimaksud, maka itu tidak lagi bermakna kebebasan tetapi kesembronoan, sebentuk sikap tak bertanggung jawab. Jadi kebebasan itu erat kaitannya dengan tanggung jawab. Seperti dua sisi mata uang, di mana ada kebebasan mestinya ada tanggung jawab. Kebebasan itu tidak mutlak, sebab ia dibatasi oleh tanggung jawab. Dalam bahasa agama, disebutkan bahwa kebebasan itu senantiasa dibatasi oleh kebebasan orang lain. Sebaliknya, individu yang memaknai hidupnya dengan kebebasan tanpa tanggung jawab, hakikatnya ia hanya akan menghancurkan dirinya sendiri. Ia mempermaklumkan masa depan yang buruk bagi dirinya sendiri. Ia memprovokasi khalayak ramai untuk membenarkan tindakan cerobohnya. Ia sesungguhnya sedang berjalan menuju kehancuran.

Maka kebebasan netizen ini perlu diterangi oleh sikap etik, yakni etika dalam bermedia sosial, agar setiap tindakan dan keputusan bermedia sosial selalu dalam kerangka etis. Etika media sosial telah dibuat oleh banyak pihak. Ia bisa mempedomani setiap netizen untuk mendapatkan terang kebajikan dan cahaya kebijakan dalam setiap mengambil keputusan bermedia sosial yang baik dan benar. Tetapi, setiap aturan kerapkali dilanggar. Sekali dibuat untuk dilanggar. Kepatuhan hanya dimungkinkan terjadi jika dalam keadaan terpaksa atau di bawah kontrol dan pengawasan yang ketat. Selebihnya orang menjadi sulit dikendalikan, ruang medsos itu jadi lepas kendali, dan tak terkontrol.

Etika medsos ini penting dalam rangka memagari setiap netizen dalam kerangka etis. Dengan harapan terbimbing ke jalan yang benar dan mematuhi rambu-rambu dan moralitas individu dan sosial. Setiap orang yang terhubung dan tergabung dalam grup medsos memungkinkan bagi komunikasi timbal balik yang sangat cepat. Sehingga setiap ucapan atau pendapat yang dilontarkan tanpa berpikir matang bisa berakibat fatal. Setiap pendapat yang berbeda adalah keniscayaan. Setiap orang dapat melakukannya atau menghindarinya. Yang penting adalah netizen tahu diri dan sadar dengan siapa dirinya berdialog. Tanpa kesadaran, medsos hanya menjadi ruang mubazir, tidak ada reproduksi makna yang positif. Semuanya hanya pancaran dari pribadi-pribadi yang ingin disanjung dan dipuja.

Tanpa etika medsos, netizen dapat terjerumus dalam jurang ketaksadaran diri yang dalam. Setiap orang terpapar oleh bayangan orang lain. Setiap orang ingin memperoleh haknya untuk eksis. Setiap yang bergaya dan berulah merepresentasikan kehadirannya. Padahal kehadiran yang sepenuhnya tanpa melibatkan kesadaran adalah semu dan palsu. Waktunya dihabiskan percuma untuk sesuatu yang tak menambah kualitas hidupnya. Padahal Al-Quran sudah mengingatkan kita, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah fatamorgana. Tetapi ia mengingatkan di tempat lain, hidup kita di dunia ini adalah ladang bagi akhirat kita. Maka, bercocok tanamlah dalam kebaikan dan kesantunan, sebab hanya dengan menebar benih teladan yang baik atau uswah hasanah kita berharap Allah swt akan merahmati kita semua dan keberkahan melimpah bagi kita.

Kehidupan yang tak disirami dengan kebaikan, keteladanan dan akhlakul karimah adalah kehidupan yang kering. Eksistensinya dalam dunia medsos tidak lebih daripada kegersangan spiritualitas sekaligus kekeringan intelektualitas. Saatnya, setiap orang menyadari bahwa kebebasan netizen mestinya tunduk dan patuh di bawah basis moralitas yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw dan terpancar melalui akhlak Quraninya, yang kemudian kita lihat telah diformulasikan oleh institusi keagamaan atau lembaga melalui kode etik atau etika bermedia sosial. Netizen yang beradab dan berkesadaran etik telah ikut andil dalam membangun peradaban dan menegaskan nilai-nilai kemanusiaan. Netizen yang lupa diri dan ceroboh adalah sebab dari setiap bencana bagi kehidupannya dan kehancuran bagi sesamanya. Kita memohon dengan penuh harap semoga Allah swt selalu membimbing kita dalam kebaikan dan keteladanan. Amien!


*) Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum., Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM DIY; Kaprodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin & Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Sumber: Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi Januari 2019, hlm. 36-37.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here