Opini

Opini

Opini

Jun 15, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Mimpi, Membayangkan Arab Saudi-Iran Akur

Oleh: Robby H. Abror*

Perang proksi antara Iran dan Arab Saudi banyak mengundang keprihatinan umat Muslim dunia bahkan umat non-Muslim pun dapat menyaksikan fenomena peperangan yang teramat nyata dan sadis. Tak kalah dari para pengamat politik internasional, Maskidul dan Kanglor ikut nimbrung sambil nyruput kopi luwak. Dengan gaya khasnya yang suka ngomong ngalor-ngidul gak jelas, tapi bergaya dan mengaku berkelas itu.

Maskidul: Sampeyan tahu ngga kalau Timur Tengah lagi bergejolak?

Kanglor: Lah, kalau itu bukannya sudah lama dul kejadiannya?

Maskidul: Lha iya, itu dalam sejarah dunia mana pun ya mesti ada gejolak, terjadi konflik

Kanglor: Sudah tahu gitu nanya. Apa relevansinya bagi kita wong cilik di negeri antaberantah ini dul?

Maskidul: Gini lho Lor, kamu ini mbok ya pengertian dikit lah, perhatian gitu lho sama  aku. Ini masalah krusial. Jika tidak segera diatasi bisa berbahaya.

Kanglor: Memangnya, kalau kita bisa mengatasi masalah Timur Tengah, terus ngapain? Kamu mau diangkat jadi menteri di Arab Saudi apa di Iran gitu?

Maskidul: Wah ya bukan begitu toh Lor, ini masalah prinsip, persoalan agama, sosial, politik dan militer, yang butuh pendekatan multidimensi untuk menyelesaikannya.

Kanglor: Walah kamu ini saya lihat lama-lama mirip diplomat, ngomongmu dah kayak politikus. Jadi menurutmu, kita perlu memberikan solusi bagi peperangan di Timur Tengah gitu maksudnya? Memangnya kamu punya modal apa dul?

Maskidul: Ya kalau soal modal jangan tanya lor, kurang lebih sama kayak dirimu lah. Begini Lor, ini masalah rumit tidak mudah dipetakan di atas kertas. Mau kamu gambar pake tinta hijau, lalu beri batas kepentingan pake spidol warna merah, kemudian terjadi diskusi lintas agama dan negara pake warna biru. Perundingan tingkat tinggi, keberpihakan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim terhadap Saudi dan Iran. Lalu kepentingan politik Luar Negeri mereka. Siapa menjadi sekutunya siapa. Melawan siapa, dan seterusnya itu kayak nyorat-nyoret gambarmu jadi gak karuan silang-sengkarutnya.

Kanglor: Seperti menegakkan benang basah ya dul?

Maskidul: Nah kamu kelihatan mulai cerdas Lor. Jadi gimana menurutmu?

Kanglor: Sebaiknya masing-masing negara bisa menahan diri. Baik Saudi maupun Iran jangan sampai terprovokasi pihak-pihak yang tidak menginginkan terjadinya perdamaian di Timur Tengah.

Maskidul: Cerdas kamu Lor, aku setuju. Masalahnya sekarang kan mata dunia sedang tertuju pada kebiadaban tentara zionis Israel yang menembak mati 60an lebih serta ribuan orang terluka dalam demo besar rakyat Palestina yang menolak Yerusalem menjadi Ibukota Israel pada bulan puasa Ramadan tahun 2018 ini. Sebelumnya ibukota Israel di Tel Aviv.

Kanglor: Makanya, saya bilang apa. Mestinya ukurannya mudah sekali, bahwa siapa yang berteman dengan Amerika Serikat dan Israel berarti musuh Islam, musuh kemanusiaan. Kan, sudah jelas Israel ingin merebut banyak tanah di wilayah negeri Palestina. Sedangkan AS mendukung Israel. Lalu kenapa masih ada negara Muslim yang bersahabat dengan AS? Itu kan namanya kebangetan.

Maskidul: Di situlah masalahnya Lor. AS kan masih disebut sebagai kiblat ekonomi dunia. Polisi dunia. Yang bisa mendikte dan memaksakan kehendaknya kepada negara mana saja yang dia kehendaki. Maka hanya negeri-negeri pemberani yang mandiri, berdikari dan punya prinsip hidup yang kuatlah yang berani melawan dominasi AS ini.

Kanglor: Iya ya dul. Sepertinya umat Islam harus berani mengevaluasi diri dan bersikap kritis terhadap peran AS dan Israel yang selama ini jelas-jelas merugikan rakyat Palestina dan membuat mereka menderita.

Maskidul: Terima kasih Lor, dah mau diskusi dan nraktir kopi panasnya. Betul-betul nikmat dan kita harus bersyukur masih bisa nyruput kopi luwak kental manis jauh dari intimidasi dan invasi negeri asing ya Lor.

Kanglor: Betul, alhamdulillah.


*Penulis adalah Ketua MPI PWM DIY
Sleman, DI Yogyakarta, 26 Mei 2018

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here