Opini

Opini

Opini

Jun 21, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Guru yang Ditunggu dan Membuat Dunia Berbeda

YOGYAKARTA — Guru adalah sosok yang kiprahnya sangat ditunggu, bukan hanya di sekolah, tetapi juga senantiasa turut hadir mewarnai masyarakat. Bahkan, tak jarang posisi guru mendapatkan kehormatan baik itu di tingkat masyarakat kecil ataupun dalam tatanan sebuah negara, guru seringkali turut hadir meramaikan.

Menjadi guru yang baik tentunya tidaklah mudah di zaman sekarang ini. Guru juga sosok manusia seperti biasanya, dapat memiliki masalah yang kerap menghigapinya. Akan tetapi, menjadi sosok guru yang baik itu harus mampu menerima masalah dan menyelesaikan secara baik dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki seorang guru.

Guru sejatinya harus terus membekali diri dengan cara meningkatkan empat kompetensinya yakni: pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Seorang guru tentunya harus mengetahui tentang bagaimana keberjalanan kegiatan belajar mengajar itu, menguasai konsep mengajar dengan tools  baik. Selain itu, seorang guru mempunyai kepribadian yang dapat mencerminkan diri sebagai seorang pendidik yang patut diteladani oleh para peserta didiknya.

Guru harus mampu menjungjung tinggi norma-norma kebaikan dalam kehidupan. Sehingga, segala tindak tanduk guru itu tetap dalam koridor pengamalan ajaran yang luhur, baik itu dari sisi agama ataupun sisi sosial kemasyarakatan. Sebagai “orang timur”, budaya Indonesia tentu berbeda dengan budaya barat. Seperti kita ketahui bersama bahwa budaya barat cenderung bebas, kebebasan pribadi menjadi di atas segalanya, dengan demikian tak jarang nilai-nilai dalam agama tidak menjadi patokan mereka dalam menjalani kehidupan dan hal ini sungguh berbeda dengan budaya timur.

Kehadiran internet saat ini tak ayal telah menghilangkan ruang, jarak, sekat, dan waktu antar negara. Akibatnya, kita semua dapat dengan mudah mengetahui seperti apa gaya kehidupan di masing-masing negara di dunia hanya dengan melihat tayangan di sebuah platform digital berbagi video tanpa harus datang ke negara yang dimaksud. Tidak hanya itu, berita-berita yang terjadi dibelahan bumi kita ini secara cepat akan segera diketahui dengan adanya komunikasi digital melalui berita daring.

Fenomena lokal yang terjadi di sebuah negara tentunya akan menjadi fenomena internasional setelah diangkat di laman internet dan menjadi “viral”. Sebagai sebuah contoh, kreativitas anak-anak muda Citayam misalnya. Citayem Fashion Week beberapa waktu lalu cukup menghebohkan dunia maya di negara kita, dan akhirnya telah menjadi demam juga untuk wilayah dan negara lain yang mengikutinya.

Fenomena Citayem ini membuka mata kita semua, bahwa untuk menjadi terkenal tidak melulu berbicara tentang materi ataupun dari tingkat sosial semata. Akan tetapi, kehadiran platform media sosial di internet telah mengubah itu semua. Siapapun akan mampu untuk menjadi “sesuatu” jika terus mengasah diri dalam kreasi dan inovasi.

Bagi seorang guru yang mempunyai keinginan menjadi “sesuatu” juga wajib mengasah diri dalam upaya meningkatkan kreasi dan inovasi. Kemudahan teknologi saat ini mengantarkan pula ke dalam kondisi kemudahan untuk berkreasi. Munculnya platform digital berbagi video yang saat ini banyak digandrungi kaula muda, bahkan tak jarang anak-anak kita semua bercita-cita ingin menjadi seorang youtuber hanya gegara melihat kesuksesan yang ditampilkan oleh para content creator saat ini.

“Citayem” harus menjadi sebuah cerminan bagi guru, bahwa di mana ada kemauan di situ akan ada jalan. Sepertinya, tanpa adanya dunia berbagi video di kanal Youtube, Tiktok ataupun platform lainnya tentu, fenomena Citayem takkan mendunia. Terlebih, beberapa pejabat negara sudah juga turun mengangkat fenomena ini melalui laman-laman lembaga negara atau akun pribadi dari pejabat itu sendiri.

Untuk itu, laman digital seperti Youtube, Tiktok, Facebook, Instagram, dan platform lainnya ini wajib dimanfaatkan oleh guru sebagai sebuah sarana dalam berbagi kebaikan melalui pendidikan. Guru harus berkemampuan untuk mengelola laman-laman tersebut menjadi efektif dalam menyampaikan nilai-nilai keilmuan, baik itu untuk kebutuhan siswanya ataupun masyarakat pada umumnya.

Jika guru tidak berperan menebar kebaikan di sana, maka akan ada usaha-usaha lain yang disinyalir dapat merusak generasi. Tentu kita semua mengetahui bahwa pengaruh internet di masyarakat Indonesia saat ini sangat kuat. Fenomena yang viral di jagat maya dan menjadi tren itu tak jarang diikuti oleh para kawula muda saat ini dan tidak sedikit hal yang viral itu berdampak buruk pada masyarakat muda kita semua. Rendahnya daya saring (filter) diri berakibat kepada aktifitas mengikuti tren tanpa berpikir efek yang akan ditimbulkan. Tentu kita semua sudah melihat beragam contoh yang telah terjadi.

Guru masa kini harus melek teknologi. Memanfaatkan perangkat elektronik digital seperti komputer untuk pembelajaran adalah sebuah keharusan. Guru tidak boleh ketinggalan zaman dan sebagai sosok pembelajar, guru harus berani tampil dalam kancah dunia digital saat ini. Kemampuan guru dalam pengelolaan media sosial saat ini sangat dibutuhkan. Dunia anak masa kini ada di lingkungan media sosial. Media sosial adalah dunia kedua yang dijalani oleh para anak didik kita saat ini. Sehingga, guru harus mampu pula menangkap fenomena ini. Hadirkan konten-konten media sosial yang bermanfaat untuk para siswanya serta selipkan keilmuan-keilmuan dan tatanan nilai-nilai di setiap postingan yang dilakukan.

Guru yang mempunyai kemampuan mengelola media sosial ataupun internet tentu akan mampu membuat dunia berbeda. Melalui hal ini diharapkan guru hadir menjadi jalan kebaikan dalam upaya menjaga generasi dari “euphoria” digital saat ini. Yuk, guru yang baik semuanya kita manfaatkan dunia media sosial dengan postingan mencerahkan! Hadirkan konten yang baik untuk bisa dipelajari dan diserap. Kreatif dalam mengelola konten akan memudahkan penyampaian hal positif kepada para generasi saat ini. Selamatkan Generasi Kita dari Budaya yang merusak melalui Kreasi dan Inovasi semuanya!

Selamat berkarya, jadikan dunia itu berbeda! (*)


Penulis: Yudhi Kurnia (Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here